INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Pemerintah penjajah Israel akhirnya menyetujui kerangka awal untuk menghentikan konflik bersenjata dengan Hamas. Kesepakatan ini membuka peluang bagi dihentikannya agresi militer di Gaza dalam waktu 24 jam serta pembebasan warga penjajah Israel yang ditawan.
Menurut Suhartono, Sekretaris Jenderal Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP), langkah ini bukan sekadar upaya diplomatik, melainkan sinyal bahwa penjajah Israel tak lagi mampu menundukkan Hamas lewat kekuatan militer.
“Ini adalah momen yang mencerminkan keberhasilan perjuangan rakyat Palestina. Di tengah dominasi persenjataan dan tekanan global, semangat perlawanan tetap berdiri. Penjajah Israel kini harus mengakui bahwa mereka tak bisa mematahkan tekad perlawanan,” ujar Suhartono dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada Sabtu, (11/10).
Suhartono juga mengecam keras kekejaman yang dilakukan penjajah Israel terhadap warga sipil, terutama anak-anak. Ia menggambarkan agresi tersebut sebagai bentuk genosida terselubung yang berlangsung sistematis dan berkepanjangan.
“Selama puluhan tahun, penjajah Israel secara perlahan telah mengikis kehidupan dan identitas rakyat Palestina. Bukan hanya lewat bom dan senjata, tapi juga dengan menanamkan ketakutan yang terus-menerus di Gaza,” Imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa solusi dua negara hanyalah topeng diplomasi yang justru memperkuat posisi Israel sebagai penjajah.
“Konsep dua negara pada dasarnya bukan jalan damai, tapi pengakuan terselubung terhadap penjajahan. Penjajah Israel tidak pernah berniat hidup berdampingan secara setara. Mereka akan terus berupaya melemahkan Palestina melalui cara apa pun,” tegasnya.
Bagi Suhartono, Hamas bukan sekadar kelompok bersenjata, melainkan simbol ketahanan dan perlawanan yang selama ini konsisten menentang pendudukan penjajah Israel. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata ini bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan titik jeda sementara dalam jalan panjang menuju kemerdekaan penuh.
“Perlawanan belum berakhir. Gencatan senjata hanyalah fase. Selama tanah Palestina belum benar-benar bebas, perjuangan akan terus menyala,” tutupnya.







Komentar