INDONESIASKETSA.COM, Langit Kalimantan kembali menghadapi ancaman kabut asap. Di tengah musim kemarau yang semakin kering, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat di sejumlah wilayah Pulau Kalimantan, terutama Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Pemerintah kini memperkuat operasi pemadaman setelah peningkatan titik panas dan laporan masyarakat mengenai kabut asap serta menurunnya jarak pandang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan menyiagakan 30 unit helikopter di Kalimantan untuk mendukung operasi water bombing dan patroli udara.
Situasi ini menjadi semakin serius karena kebakaran terjadi pada saat sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kondisi kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Niño telah mencapai intensitas sangat kuat, sementara kondisi kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Pada awal Agustus, sebanyak 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
750 Hotspot dalam Tiga Hari
Data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan menunjukkan lonjakan signifikan titik panas berkepercayaan tinggi di tiga provinsi utama Kalimantan. Pada 17 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, terdeteksi 123 hotspot berkepercayaan tinggi, terdiri atas 93 titik di Kalimantan Barat, 28 titik di Kalimantan Tengah, dan dua titik di Kalimantan Selatan.
Sehari kemudian jumlahnya mencapai 109 titik. Namun, pada 19 Agustus terjadi lonjakan tajam. Kalimantan Barat mencatat 259 hotspot, Kalimantan Tengah 242 hotspot, dan Kalimantan Selatan 17 hotspot. Dengan demikian, dalam satu hari terdeteksi 518 hotspot berkepercayaan tinggi di tiga provinsi tersebut.
Jika dihitung secara kumulatif selama 17–19 Agustus, jumlahnya mencapai 750 hotspot, masing-masing 367 titik di Kalimantan Barat, 343 titik di Kalimantan Tengah, dan 40 titik di Kalimantan Selatan. Namun, angka tersebut tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai 750 kebakaran.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi adanya anomali panas yang terdeteksi satelit. Satu kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas, sehingga data tersebut tetap membutuhkan verifikasi lapangan untuk menentukan apakah benar terjadi kebakaran, lokasi, penyebab, dan luas wilayah yang terbakar.
Asap Mulai Mengganggu Jarak Pandang
Ancaman karhutla tidak berhenti pada kerusakan vegetasi. Asap yang dihasilkan mulai memengaruhi jarak pandang di sejumlah kawasan. Pada 19 Agustus, BMKG mencatat jarak pandang di Bandara Supadio, Pontianak, sekitar 1,2 kilometer pada pukul 08.00 WIB dalam kondisi berasap. Di Palangka Raya, jarak pandang sekitar 3 kilometer pada pukul 07.30 WIB.
Kondisi tersebut kemudian menunjukkan perbaikan. Pada 20 Agustus pukul 10.00 WIB, jarak pandang di Bandara Supadio meningkat menjadi sekitar 4 kilometer, sedangkan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, mencapai sekitar 6 kilometer. Di sejumlah titik Banjarbaru, jarak pandang bahkan telah kembali lebih dari 10 kilometer.
BNPB pada 23 Agustus menyatakan bahwa aktivitas penerbangan di sejumlah bandara utama, termasuk Bandara Syamsudin Noor, Bandara Supadio, dan Bandara Tjilik Riwut, masih dapat berlangsung dengan aman dan sesuai jadwal berdasarkan pemantauan Minggu pagi.
Kalimantan Menghadapi Ancaman Kemarau Kering
Meningkatnya karhutla kali ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi atmosfer. BMKG menyatakan bahwa pada Dasarian I Agustus 2026, curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79 persen wilayah Indonesia, sementara 87,28 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan El Niño yang telah mencapai intensitas sangat kuat dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD).
Untuk periode 21–27 Agustus, BMKG memperkirakan sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah, yakni 0–50 milimeter per dasarian. Sebagian besar Kalimantan termasuk wilayah yang diprediksi mengalami kondisi tersebut. Situasi ini membuat lahan menjadi lebih mudah terbakar. Persoalannya menjadi semakin kompleks di kawasan gambut.
BNPB menjelaskan bahwa karakteristik karhutla di Kalimantan berbeda karena sebagian kebakaran terjadi di lahan gambut. Api yang terlihat telah padam di permukaan belum tentu berarti bara di bawah tanah benar-benar mati. Karena itu, hujan dengan intensitas memadai menjadi salah satu faktor penting untuk membasahi kembali gambut dan memadamkan bara yang tersisa.
30 Helikopter Disiagakan
Pemerintah tidak hanya mengandalkan pemadaman dari darat. BNPB menyatakan saat ini 30 helikopter disiagakan di Kalimantan, terutama untuk mendukung water bombing dan patroli udara. Pemerintah juga memperkuat satgas darat dengan alat pelindung diri, pompa air bertekanan tinggi, serta dukungan mobil tangki air hingga 100 unit untuk setiap provinsi sesuai kebutuhan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga kembali dilakukan. BNPB bersama BMKG mengevaluasi ketersediaan awan dan kondisi atmosfer untuk menentukan wilayah yang memungkinkan dilakukan penyemaian awan menggunakan garam.
Targetnya sederhana tetapi tidak mudah: menghadirkan hujan di wilayah yang membutuhkan air sekaligus membantu membasahi lahan yang terbakar.
“Karhutla di Kalimantan” bukan lagi sekadar persoalan api yang harus dipadamkan. Pemerintah harus menghadapi kombinasi antara kekeringan, lahan gambut, asap, keterbatasan air, dan kemungkinan munculnya kembali titik api setelah pemadaman.
Ancaman Belum Berakhir
Meskipun operasi pemadaman diperkuat, ancaman belum sepenuhnya berakhir. BMKG memperkirakan kondisi kering masih mendominasi Kalimantan pada periode akhir Agustus. Namun, hujan lokal tetap mungkin terjadi akibat dinamika atmosfer seperti MJO, gelombang Kelvin, gelombang Rossby ekuator, serta pola konvergensi angin.
Artinya, pemerintah menghadapi situasi yang tidak sederhana: sebagian wilayah membutuhkan hujan untuk mengendalikan karhutla, tetapi hujan tidak turun secara merata.
BNPB menyebut kabut asap juga sempat menurunkan jarak pandang di Banjarbaru, Palangka Raya, dan Pontianak, terutama pada pagi hari. Pemerintah sekaligus memperkuat posko kesehatan untuk melindungi masyarakat terdampak, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan kesehatan akibat asap.
Bukan Sekadar Memadamkan Api
Krisis karhutla Kalimantan kembali menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan tidak cukup dilakukan setelah api membesar. Pemerintah perlu memastikan patroli dan deteksi dini berjalan sebelum hotspot berkembang menjadi kebakaran. Pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, perlindungan kawasan gambut, kesiapan sumber air, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pencegahan.
BMKG sendiri mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan secara sembarangan, khususnya di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan. Masyarakat juga diminta segera melaporkan indikasi titik api kepada aparat atau posko penanganan karhutla.
Dengan 750 hotspot berkepercayaan tinggi yang terdeteksi hanya dalam tiga hari di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, serta kondisi atmosfer yang masih kering, karhutla belum dapat dianggap sebagai persoalan yang selesai.
Api mungkin dapat dipadamkan hari ini. Tetapi selama lahan tetap kering dan sumber api terus muncul, ancaman kebakaran berikutnya masih menunggu.
Kalimantan kini tidak hanya membutuhkan pemadam kebakaran. Kalimantan membutuhkan pencegahan yang bekerja sebelum api terlihat.







Komentar