INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, menyoroti perjanjian keamanan trilateral antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan yang dikenal sebagai Pakta Makkah atau Mecca Agreement for Mutual Defence.
Menurut Rezaei, kesepakatan tersebut menunjukkan adanya perubahan arah politik dan keamanan di kawasan Timur Tengah. Ia menilai negara-negara di kawasan mulai mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat.
Rezaei bahkan menyebut Pakta Makkah sebagai tanda bahwa Amerika Serikat mulai ditinggalkan oleh negara-negara Timur Tengah dan kawasan sekitarnya.
“Amerika Serikat bilang ke mereka, ‘Selamat tinggal, kami pergi’,” kata Rezaei sembari mengejek AS, dikutip Iran International, Sabtu (22/8).
Rezaei juga menyatakan Iran mendukung terbentuknya persatuan yang lebih luas di kawasan. Ia menilai Iran dan Mesir semestinya dapat menjadi bagian dari aliansi regional semacam itu.
Menurut Rezaei, negara-negara yang tergabung dalam Pakta Makkah sebelumnya telah menyampaikan kepada Iran bahwa mereka telah menandatangani kesepakatan tersebut.
“Teman kami datang dan bilang, ‘kami sudah membuat pakta, datang dan setujui’,” kata dia menirukan perwakilan anggota pakta ini.
Namun, Rezaei mempertanyakan isi kesepakatan tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui secara rinci isi pakta ketika negara-negara anggotanya telah menandatangani perjanjian dan kemudian mengajak Iran untuk bergabung.
Iran Disebut Telah Diundang
Secara terpisah, Kepala Kantor Berita Parlemen Iran, Mehdi Rahim, mengatakan negara-negara anggota Pakta Makkah telah mengundang Teheran untuk bergabung.
“Iran sudah menerima undangan untuk bergabung dengan Pejanjian Makkah dan masalah ini sedang ditinjau,” kata dia.
Meski demikian, Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan konfirmasi maupun tanggapan mengenai undangan tersebut.
Pakta Makkah ditandatangani oleh Turki, Arab Saudi, dan Pakistan pada 7 Agustus. Kesepakatan tersebut menjadi perhatian internasional karena muncul di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Perjanjian tersebut juga menjadi sorotan karena memiliki klausul yang dinilai menyerupai mekanisme dalam Pakta Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Salah satu klausulnya menyatakan bahwa agresi terhadap salah satu dari tiga negara anggota akan dianggap sebagai agresi terhadap seluruh anggota.
Namun, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menegaskan bahwa perjanjian tersebut tidak ditujukan untuk menyerang Iran maupun negara lainnya.
Sejumlah pengamat menilai terbentuknya Pakta Makkah dapat menjadi indikasi bahwa negara-negara kawasan mulai berupaya membangun mekanisme keamanan sendiri dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Amerika Serikat.
Jika kecenderungan tersebut berlanjut, posisi Washington dalam arsitektur keamanan Timur Tengah berpotensi menghadapi perubahan, seiring meningkatnya kerja sama keamanan antarnegeri di kawasan.







Komentar