Pakistan Bergejolak Akibat Aksi Pro-Palestina Dibalas Kekerasan Militer

INDONESIASKETSA.COM, Karachi – Gelombang besar demonstrasi pro-Palestina di Pakistan berubah menjadi tragedi berdarah. Insiden yang bermula di Lahore itu berakhir dengan puluhan korban jiwa dan ratusan luka-luka, setelah pasukan keamanan melepaskan tembakan terhadap massa yang hendak menuju Islamabad.

Awalnya, ribuan warga turun ke jalan untuk menolak langkah pemerintah mempererat hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, niat mereka untuk berbaris damai ke ibu kota terhenti di tengah jalan, ketika barikade kontainer dan blokade polisi menghalangi rute utama. Ketegangan meningkat tajam saat para demonstran mencoba membuka jalur tersebut, dan aparat merespons dengan tembakan langsung ke arah kerumunan.

Pemimpin partai Islamis Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP), Saad Rizvi, dilaporkan menjadi salah satu korban luka. Ia tertembak ketika berupaya menenangkan situasi dan meminta aparat menghentikan aksi brutal itu. Hingga kini keberadaan Rizvi belum diketahui, sementara pihak kepolisian mengklaim sedang memburu “pelaku yang melarikan diri” di sekitar lokasi bentrokan.

Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan tubuh-tubuh bergelimpangan di jalan, terdengar letusan senjata, dan kendaraan yang terbakar. Walau demikian, pemerintah hanya mengakui lima korban meninggal, termasuk satu anggota kepolisian. Saksi mata dan lembaga kemanusiaan lokal menolak klaim itu, menyebut jumlah korban jauh lebih besar dari versi resmi.

Liputan media dalam negeri pun nyaris dibungkam. Saluran televisi yang pro-pemerintah menyiarkan narasi tunggal, menggambarkan massa sebagai kelompok radikal bersenjata. Wartawan independen melaporkan adanya tekanan ketat dan sensor sistematis dari otoritas militer, yang saat ini memegang kendali kuat atas pemerintahan sipil.

Sementara kekerasan terjadi di tanah air, Perdana Menteri Shehbaz Sharif tengah berada di Kairo menghadiri konferensi gencatan senjata untuk Gaza. Ucapannya di forum itu—yang memuji Donald Trump sebagai “tokoh layak Hadiah Nobel Perdamaian”—memicu kemarahan publik Pakistan yang menilai pemerintah justru menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Pengamat menilai langkah Sharif sebagai bagian dari strategi politik yang berhitung: mempererat hubungan dengan Washington sembari menekan suara oposisi di dalam negeri yang menolak normalisasi dengan Israel.

Dalam pernyataannya, Menteri Talal Chaudhry bahkan menyindir para pengunjuk rasa agar “merayakan perdamaian di Gaza, bukan menentangnya.” Namun, di mata banyak warga, apa yang disebut sebagai perdamaian itu justru dianggap bentuk pembiaran terhadap kekerasan yang terus menimpa rakyat Palestina.

Analis Timur Tengah, Ryan Grim, berpendapat bahwa tindakan keras aparat bukan sekadar upaya menjaga ketertiban, tetapi juga sinyal politik bagi Amerika Serikat. “Ini pertunjukan kekuatan yang disengaja, pesan bahwa Islamabad mampu mengontrol situasi domestik demi menegaskan arah kebijakan luar negeri yang kini lebih condong ke Washington dan Tel Aviv,” ujarnya.

Komentar