INDONESIASKETSA.COM, Jenewa – Pemimpin Badan HAM PBB, Volker Turk, menuntut agar para pemeriksa independen tingkat internasional diberikan izin melintas ke seluruh pelosok Jalur Gaza. Langkah ini dinilai mendesak menyusul penemuan tak henti-hentinya atas jasad manusia di bawah puing-puing bangunan kehancuran yang dipicu operasi militer Israel sejak medio Oktober 2023 lalu.
“Penemuan sisa-sisa jenazah yang luas di bawah reruntuhan di Kota Gaza memunculkan kembali kekhawatiran akan kejahatan perang dan kejahatan kekejaman lainnya. Saya khawatir sisa-sisa jenazah yang ditemukan sejauh ini mungkin hanya puncak gunung es,” kata Turk, dikutip laman Middle East Monitor, Rabu (16/9).
Tidak hanya itu, perhatian mendalam juga ditujukan pada pengerahan armada berat Israel yang terus meratakan sisa-sisa puing tempat perlindungan warga. “Hari ini, banyak daerah di Gaza tempat militer Israel dikerahkan terus diratakan oleh buldoser tanpa menghormati orang mati di bawah reruntuhan,” ujar Turk.
Melihat situasi darurat tersebut, Turk menegaskan pentingnya keterlibatan pengawas internasional agar rekam jejak dugaan pelanggaran hukum internasional tidak hilang. “Penyelidik internasional diberikan akses ke wilayah tersebut untuk membantu mengumpulkan bukti,” ucapnya.
Berdasarkan laporan otoritas setempat di Palestina kepada PBB, diperkirakan ribuan korban jiwa masih terjebak di bawah puing-puing beton. Penanganan dan evakuasi tubuh para korban terhambat parah akibat pemblokiran impor alat berat oleh pihak Israel.
Pada 6 September 2026, penghuni Kota Gaza menghantarkan sekitar 100 jasad korban serbuan udara ke peraduan terakhir dalam upacara pemakaman kolektif. Dari jumlah tersebut, setidaknya 60 di antaranya merupakan anak-anak.
Prosesi pelepasan jenazah di Distrik Zeitoun ini dihadiri oleh ribuan warga setempat, kerabat, hingga jajaran tokoh masyarakat. Pemakaman ini mencatatkan sejarah sebagai salah satu penghormatan terakhir terbesar di wilayah Palestina, mengekor peristiwa serupa pada Agustus lalu di wilayah Sabra yang melayani 112 jasad.
Pemerintah lokal mencatat jasad yang dihantarkan pada 6 September berasal dari dinasti keluarga Rahim, Balawi, Malaka, Qanbour, dan Salmi yang kehilangan nyawa akibat serangan udara sekitar dua setengah tahun silam.
Salah seorang warga, Al-Aloul, mengungkapkan rasa lega karena akhirnya dapat memberi tempat peristirahatan yang pantas bagi sanak saudaranya setelah penantian panjang. Menurutnya, bisa menguburkan keluarga dengan penghormatan seperti ini adalah sebuah hal istimewa yang tidak dapat dinikmati oleh sebagian besar warga Gaza lainnya.
Ia menambahkan bahwa jasad yang diantarkan sudah tidak lagi utuh. “Ini adalah sisa-sisa tulang dan sisa-sisa barang-barang yang mungkin telah ditemukan di mayat-mayat, terutama anak-anak,” ucapnya, dikutip laman Aljazirah.







Komentar