INDONESIASKETSA.COM, Tapanuli Utara – Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan bahwa bongkahan kayu besar yang terseret banjir bandang di Sumatera Utara tidak muncul begitu saja akibat proses alam, melainkan berasal dari aktivitas penebangan manusia. Temuan ini menjadi sorotan karena menunjukkan adanya campur tangan pihak tertentu yang berpotensi memperparah dampak bencana.
Usai menelusuri kawasan daerah aliran sungai di Desa Garoga, Tapanuli Utara, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memastikan bahwa kayu-kayu yang berserakan itu bukan hasil patahan alam, tetapi bekas tebangan. Kesimpulan tersebut diperoleh setelah melihat langsung kondisi lapangan dan ciri-ciri potongan kayu yang ditemukan.
“Secara teknis memang kayu ini agak berumur lama, ada sebagian yang dipotong-potong dengan mesin gergaji.” kata Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, Minggu, (7/11).
Pemerintah menegaskan akan menempuh jalur hukum untuk menindak para pelaku yang bertanggung jawab. Selain itu, empat perusahaan besar, Tambang Emas Martabe (PT Agincourt Resources), PLTA Batang Toru, PT Toba Pulp Lestari, dan PTPN III, telah disegel dan seluruh kegiatan usaha dihentikan sementara sampai audit lingkungan selesai dilakukan.
“Kami akan melakukan penyelidikan lagi. Mungkin habis ini kami akan terbang sampai ke hulu untuk memastikan apa yang terjadi di hulu. Karena kayu ini tidak alami sampai di kita, mungkin ada aktivitas yang harus bertanggung jawab dari kasus ini,” ucapnya.
Langkah tegas ini menjadi upaya pemerintah dalam mengatasi kerusakan lingkungan dan mencegah bencana serupa terulang kembali.







Komentar