Banjir Sumatera dan Rusaknya Tata Kelola Lingkungan

INDONESIASKETSA.COM, Berdasarkan data resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), per 3 Desember 2025 korban meninggal akibat banjir dan longsor di tiga provinsi Sumatera — Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat — telah mencapai setidaknya 708 jiwa.

Ratusan orang masih dinyatakan hilang, ribuan luka-luka, dan jutaan jiwa terdampak. Di Sumatera Barat saja, tercatat ada sekitar 70.000 warga mengungsi akibat banjir dan longsor.

Infrastruktur dasar nyaris lumpuh, jalan utama terputus, jembatan hancur, listrik dan jaringan komunikasi putus, serta ribuan rumah dan fasilitas umum rusak.

Penyebab Alam atau Ulah Manusia?

Menurut pakar lingkungan dan sejumlah aktivis, bencana ini bukan semata soal hujan deras. Faktor memperparah: deforestasi, konversi lahan, dan rusaknya daerah aliran sungai (DAS) di Sumatera.

Fenomena cuaca ekstrem yakni kombinasi curah hujan tinggi akibat siklon tropis di Selat Malaka dengan pola hujan musiman memicu banjir bandang dan longsor besar di wilayah pegunungan dan sungai.

Lingkungan yang sudah rapuh karena rusaknya hutan dan pengelolaan lahan buruk membuat kemampuan alami tanah menyerap air jauh menurun.

Ke mana Tata Kelola dan Pencegahan?

Bencana ini layak jadi cermin. Dengan kerusakan lingkungan dan tata kelola lahan yang lemah, bencana besar tampak bukan hanya soal alam, melainkan dampak akumulatif perencanaan buruk jangka panjang. Seharusnya upaya mitigasi, reboisasi, dan pengelolaan lahan kritis diperkuat sebelum tragedi benar-benar terjadi.

Aktivis lingkungan menyerukan agar pemerintah pusat dan daerah segera mengevaluasi izin perkebunan, pertambangan, dan konversi lahan, terutama di kawasan DAS; serta memperkuat regulasi tata ruang dan restorasi ekosistem.

Ditambah lagi, sistem peringatan dini dan kesiapan logistik dalam menghadapi siklon tropis perlu ditingkatkan agar bencana tak lagi berujung tragedi kolektif.

Kisah Nyata: Tak Sekadar Statistik

Di banyak desa terpencil di pegunungan Aceh, logistik dan bantuan sulit menjangkau, jembatan putus, jalan tertutup longsor, desa terisolasi. Banyak penduduk mengungsi tanpa makanan memadai, air bersih, atau perlindungan memadai dari hujan.

Seorang petani di Sumatera Barat, rumahnya hanyut terseret arus, kini hanya bisa bertahan di tenda darurat bersama keluarganya sembari menunggu bantuan yang lambat datang. Sementara itu, kebun sawit dan perkebunan yang dulu jadi penghidupan kini hancur, menambah luka ekonomi yang dalam.

Catatan bagi Pemerintah & Publik: Ini Bukan Tragedi Sekali, Tapi Alarm Serius

Bencana ini bukan lagi sekadar “darurat lokal”. Dengan dampak masif, ratusan korban tewas, ratusan ribu pengungsi, seharusnya pemerintah cepat mengambil langkah strategis. Reklamasi hutan, pengelolaan DAS, mitigasi risiko, dan sistem tanggap darurat harus diperkuat.

Jika deforestasi dan konversi lahan terus dibiarkan, tragedi ini bisa terulang. Sumatera bukan hutan mati, ia seharusnya jadi paru-paru Indonesia, bukan lumbung bencana.

Komentar