INDONESIASKETSA.COM, Gaza – Laporan terbaru yang dirilis Lembaga Penerangan Pemerintah di Jalur Gaza mengungkapkan bahwa lebih dari 21.500 anak-anak Palestina gugur akibat agresi militer penjajah Israel sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023. Kendati kesepakatan penghentian tembak-menembak bersama kelompok Hamas telah disepakati pada Oktober 2025, gempuran udara dari pihak penjajah Israel dilaporkan masih terus berlangsung dan menambah panjang deretan korban jiwa dari kalangan sipil.
“Pendudukan (Israel) terus menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, khususnya anak-anak, karena jumlah martir anak-anak sejak dimulainya perang genosida telah melebihi 21.500, sebuah korban bencana yang mencerminkan kebrutalan kejahatan terorganisasi ini,” kata Kantor Media Gaza, dikutip laman Middle East Monitor, Selasa (25/8).
Pernyataan dari otoritas Gaza tersebut menegaskan bahwa aksi penyerangan militer penjajah Israel menyasar warga yang tak berdaya secara terencana, tanpa mengindahkan berbagai imbauan internasional maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Lebih jauh, otoritas terkait menilai tindakan represif yang dilakukan penjajah Israel telah melanggar prinsip-prinsip hukum kemanusiaan universal serta berbagai konvensi internasional.
Dampak dari bombardir tanpa henti tersebut juga menghancurkan sebagian besar rumah ibadah. Tercatat dari total 1.275 bangunan masjid di wilayah Gaza, sebanyak 1.244 di antaranya terdampak serangan, dengan 1.077 bangunan dilaporkan hancur lebur.
Pihak otoritas Gaza menyayangkan sikap bungkam dari publik global yang dinilai membiarkan aksi penghancuran serta krisis kemanusiaan ini berlarut-larut.
Di sisi lain, pernyataan kontroversial sempat dilontarkan oleh Menteri Keamanan Nasional penjajah Israel, Itamar Ben-Gvir, dalam sebuah tayangan podcast pada 16 Agustus 2026. Ia mendorong tindakan eliminasi terhadap warga Palestina di wilayah Gaza secara rutin setiap malam.
“Saya pikir pembunuhan yang ditargetkan harus dilakukan setiap malam di Gaza. Bunuh 30 atau 40 dari mereka,” kata Ben-Gvir.
Dalam siniar tersebut, Ben-Gvir menilai keberadaan warga Gaza sebagai ancaman.
“Bukan hanya mereka yang menempatkanmu dalam bahaya saat ini. Ini adalah orang-orang yang seharusnya tidak hidup,” ujarnya.
Tidak hanya itu, Ben-Gvir juga mengusulkan pengusiran massal terhadap penduduk Palestina dari tanah Gaza serta merencanakan pemukiman kembali kawasan tersebut oleh pihak penjajah Israel.
“Saya menganggap seluruh Jalur Gaza menjadi milik kami,” kata dia.







Komentar