AS-Iran Makin Dekat Damai? Trump Justru Dituding Panik dan Inkonsisten

INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali menunjukkan dinamika yang berubah sangat cepat setelah Presiden Donald Trump beberapa kali mengubah arah kebijakannya hanya dalam hitungan hari. Situasi ini memunculkan penilaian bahwa Washington kini berada dalam posisi sulit di kawasan Timur Tengah, terutama setelah ketegangan di Selat Hormuz memicu tekanan ekonomi dan geopolitik yang besar.

Pada akhir pekan lalu, Trump masih melontarkan sikap keras terhadap Teheran dan menilai Iran belum “membayar harga yang cukup besar”. Namun memasuki Selasa (5/5/2026), Gedung Putih justru mengumumkan operasi bernama “Project Freedom”, yang diklaim sebagai misi kemanusiaan untuk membantu kapal-kapal keluar dari Teluk sekaligus mengurangi pengaruh Iran di Selat Hormuz.

Tidak lama setelah pengumuman itu, Trump kembali mengubah pendekatannya. Pada Rabu dini hari, ia menyampaikan bahwa peluang menuju perdamaian mulai terbuka lebar.

“Kemajuan besar telah dicapai menuju Kesepakatan Lengkap dan Final,” kata Trump, sambil mengumumkan bahwa Project Freedom akan dihentikan sementara demi memberi kesempatan bagi negosiasi.

Laporan berbagai media internasional menilai perubahan sikap Trump mencerminkan kebuntuan strategi Amerika Serikat. Iran dinilai tetap mampu bertahan meski mendapat tekanan militer, bahkan masih memiliki kemampuan besar mengganggu jalur energi dunia melalui Selat Hormuz.

Analisis yang dikutip dari The Guardian menyebut pendekatan Washington saat ini bergerak di tiga jalur sekaligus, yakni tekanan militer, operasi maritim, dan diplomasi. Namun ketiganya lahir dari kesadaran bahwa Iran tidak mudah dipaksa menyerah, termasuk dalam isu pengayaan uranium.

Kondisi tersebut membuat AS berada dalam situasi dilematis. Di satu sisi ingin mempertahankan tekanan terhadap Iran, tetapi di sisi lain khawatir perang berkepanjangan justru memperburuk ekonomi global dan posisi politik Washington sendiri.

Meski membuka ruang damai, Trump tetap memberi ancaman baru apabila Iran menolak syarat yang diajukan Amerika Serikat. Ia bahkan memperingatkan kemungkinan serangan dengan intensitas lebih besar jika negosiasi gagal.

Sejumlah laporan menyebut AS dan Iran kini mulai mendekati kesepahaman awal berupa memorandum of understanding (MoU). Dokumen itu disebut akan menjadi dasar penghentian perang sekaligus membuka negosiasi selama 30 hari terkait program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, serta pembahasan aset Iran yang dibekukan.

Dalam proses tersebut, kedua negara juga disebut akan mulai mengurangi blokade di Selat Hormuz secara bertahap selama perundingan berlangsung.

Kabar kemungkinan damai itu langsung memengaruhi pasar global. Harga minyak dunia turun sementara pasar saham mengalami penguatan. Namun situasi tetap dianggap sangat rapuh karena belum ada kesepakatan final.

Iran sendiri masih berhati-hati menanggapi proposal tersebut. Korps Garda Revolusi Islam Iran memberi sinyal terbuka terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz, tetapi menegaskan blokade harus diakhiri lebih dulu sebelum pembicaraan lebih jauh dilakukan.

Sementara itu, parlemen Iran menilai proposal Amerika hanya sebatas “daftar keinginan Amerika, bukan kenyataan”.

Negosiasi diperkirakan akan berlangsung alot, terutama terkait masa moratorium pengayaan uranium. Sebelumnya Iran mengusulkan penghentian selama lima tahun, sedangkan AS menginginkan hingga 20 tahun. Proposal terbaru disebut mengarah pada kompromi sekitar 12 hingga 15 tahun.

Selain itu, Iran juga disebut siap menerima kembali inspeksi permanen dari International Atomic Energy Agency (IAEA) guna memastikan kepatuhan terhadap kesepakatan nuklir. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan melonggarkan sanksi dan mencairkan aset Iran secara bertahap.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai peluang kegagalan tetap tinggi. Selain karena perbedaan kepentingan antara Washington dan Teheran, Israel juga diperkirakan akan menolak kesepakatan apa pun yang tidak menyentuh program rudal Iran maupun jaringan kelompok proksi regionalnya.

Komentar