Latihan Militer China di Ambang Pantai Taiwan, Simulasi Blokade Total Picu Ketegangan Baru

INDONESIASKETSA.COM – Ketegangan di Selat Taiwan kembali meningkat setelah China menuntaskan latihan militer dua hari di sekitar pulau tersebut. Manuver bertajuk “Justice Mission 2025” ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan operasi militer dengan jarak paling dekat ke pantai Taiwan yang pernah dilakukan Beijing dalam sejarah modern hubungan lintas selat.

Latihan tersebut digelar oleh Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan melibatkan kekuatan laut, udara, serta unit artileri roket. Untuk pertama kalinya, PLA menembakkan roket ke laut di zona tambahan (contiguous zone) yang hanya berjarak 24 mil laut dari garis pantai Taiwan—jarak yang secara hukum internasional berada tepat di luar perairan teritorial, namun sangat sensitif secara geopolitik.

Bukan Sekadar Unjuk Kekuatan

Analis pertahanan menilai latihan ini dirancang sebagai simulasi nyata blokade total terhadap Taiwan. Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan melaporkan bahwa PLA mempraktikkan skenario pemutusan jalur udara dan laut utama, yang merupakan urat nadi logistik, ekonomi, dan militer pulau tersebut.

Dalam rentang 24 jam hingga pagi 30 Desember, Taiwan mendeteksi 60 sorti pesawat militer China, terdiri dari jet tempur, pembom, dan drone. Sebanyak 44 pesawat melintasi garis tengah (median line) Selat Taiwan, batas tidak resmi yang selama puluhan tahun menjadi penyangga stabilitas antara kedua pihak.

Latihan ini bahkan berdampak pada sektor sipil. Zona latihan yang luas menyebabkan ratusan penerbangan komersial terganggu, menandai bahwa latihan tersebut tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga berdampak langsung pada lalu lintas internasional.

Pemicu: Senjata AS dan Anggaran Pertahanan Taiwan

Eskalasi ini diyakini kuat dipicu oleh paket penjualan senjata Amerika Serikat senilai US$11,1 miliar kepada Taiwan, serta komitmen Taipei untuk meningkatkan anggaran pertahanannya. Beijing memandang langkah tersebut sebagai campur tangan langsung dalam isu yang dianggap sebagai urusan domestik China.

Dibandingkan latihan besar China saat kunjungan Nancy Pelosi ke Taiwan pada 2022, skala Justice Mission 2025 dinilai lebih terstruktur dan operasional. Peneliti Taiwan Strategy Research Association, Enrico Cau, menyebut latihan ini secara kuantitatif sebagai yang terbesar kedua sejak 2022, namun dengan cakupan wilayah terluas yang pernah digunakan PLA.

Uji Nyali dan Batas Kemampuan PLA

Meski demikian, tidak semua analis sepakat bahwa China siap menerapkan strategi ini dalam perang nyata. Pengamat politik Sean Su menilai bahwa mempertahankan blokade total selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan akan menjadi tantangan besar bagi PLA.

Menurutnya, blokade jangka panjang menuntut rotasi personel, pasokan logistik, serta kesiapan menghadapi serangan balik dan potensi intervensi Amerika Serikat serta Jepang. Hingga kini, PLA belum pernah menunjukkan kemampuan mempertahankan tekanan militer sebesar itu dalam kondisi tempur sesungguhnya.

Pesan Politik yang Jelas

Dari sisi Beijing, pesan latihan ini disampaikan secara tegas. Kapten Senior Li Xi dari Komando Teater Timur PLA menyatakan latihan tersebut telah “berhasil diselesaikan” dan menegaskan bahwa pasukan China akan tetap dalam kondisi siaga tinggi untuk menggagalkan setiap upaya yang disebut sebagai gerakan “Kemerdekaan Taiwan”.

Sebaliknya, Dewan Urusan Daratan Taiwan mengecam latihan ini sebagai tindakan “irasional” yang membahayakan keselamatan warga sipil dan stabilitas kawasan.

Selat Taiwan di Titik Rawan Baru

Latihan Justice Mission 2025 menandai fase baru dinamika militer di Selat Taiwan: dari sekadar demonstrasi kekuatan menjadi uji coba operasional blokade. Bagi China, ini adalah pesan strategis kepada Taiwan dan Amerika Serikat. Bagi kawasan Asia-Pasifik, ini menjadi pengingat bahwa Selat Taiwan tetap menjadi salah satu titik rawan konflik paling berbahaya di dunia saat ini.

Jika tren ini berlanjut, risiko salah hitung (miscalculation) di kawasan akan semakin tinggi—dan satu insiden kecil bisa berujung pada krisis regional yang jauh lebih besar.

Komentar