INDONESIASKETSA.COM, Namaku Bia.
Usiaku dua puluh enam tahun. Di ruang tamu rumah sederhana kami, seorang anak laki-laki berusia empat tahun sedang berlari kecil sambil tertawa. Sesekali ia memanggilku, “Mama… lihat aku!”
Aku tersenyum. Di setiap tawa anakku, ada luka masa kecil yang perlahan belajar sembuh.
Orang-orang sering berkata bahwa menjadi seorang ibu adalah awal dari kehidupan baru. Bagiku, menjadi seorang ibu juga berarti bertemu kembali dengan anak kecil yang dulu hidup di dalam diriku—anak yang kehilangan ibunya terlalu cepat.
Aku masih mengingat rumah masa kecil itu. Dindingnya sederhana, tetapi penuh kenangan.
Saat teman-temanku di kelas satu SD masih berlomba bermanja kepada ibu mereka, aku belajar menerima kenyataan bahwa ibuku hanya bisa terbaring di tempat tidur. Tubuhnya semakin lemah karena penyakit. Bahkan untuk bangun pun beliau tidak mampu. Di samping tempat tidurnya selalu ada sebuah wadah yang digunakan karena beliau tak lagi sanggup berjalan ke kamar mandi.
Aku terlalu kecil untuk memahami arti sakit yang sebenarnya.
Yang kutahu, setiap pulang sekolah aku selalu mendekati tempat tidurnya.
“Ma…”
Beliau mengusap kepalaku dengan tangan yang mulai dingin.
“Nanti kalau Mama sudah sembuh, Mama belikan Bia sepatu roda yang lampunya warna-warni, ya.”
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar.
Saat itu aku percaya semua janji orang tua pasti akan terwujud.
Aku menunggu.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Namun yang datang bukanlah sepatu roda.
Yang datang justru kabar yang belum mampu dimengerti seorang anak kelas satu SD.
Mama pergi.
Pergi untuk selamanya.
Rumah menjadi sunyi.
Tak ada lagi suara yang memanggil namaku dengan lembut.
Tak ada lagi tangan hangat yang membelai rambutku.
Sepatu roda itu tidak pernah datang.
Tetapi anehnya, sampai hari ini aku masih bisa mengingat warnanya. Dalam bayanganku selalu berwarna merah muda dengan lampu kecil yang menyala setiap roda berputar.
Sejak saat itu, Ayah berubah menjadi sosok yang memikul dua peran sekaligus.
Beliau bekerja sebagai karyawan swasta sejak pagi hingga sore. Namun sepulang kerja, Ayah tetap mengantarku ke sekolah, mengambil rapor, memasakkan makanan sederhana, bahkan mengepang rambutku dengan hasil yang selalu miring.
Aku sering menahan tawa melihat kepangan buatannya.
Ayah hanya berkata, “Maaf ya, Ayah masih belajar.”
Kalimat itu kini baru kupahami.
Beliau memang sedang belajar menjadi ayah sekaligus ibu.
Suatu hari ketika pembagian rapor, Ayah datang sendiri seperti biasa. Setelah membayar uang kas kelas, salah seorang ibu koordinator kelas mengajaknya berbincang.
Percakapan itu sederhana.
Namun ternyata menjadi awal dari babak baru dalam hidup kami.
Ibu itu memperkenalkan saudara jauhnya yang saat itu masih lajang. Waktu berlalu, perkenalan berubah menjadi keseriusan, lalu akhirnya Ayah memutuskan menikah lagi.
Sebagai anak kecil, aku tidak mengerti apa pun tentang pernikahan.
Aku hanya bertanya dalam hati, “Apakah perempuan ini akan menggantikan Mama?”
Tidak.
Tak ada siapa pun yang bisa menggantikan seorang ibu.
Setiap orang hanya memiliki caranya sendiri untuk hadir.
Bertahun-tahun kemudian aku tumbuh menjadi remaja.
Ada satu hal yang sering membuatku bingung.
Hampir setiap orang yang mengenal ibuku berkata bahwa wajahku sangat mirip dengannya.
“Bia ini fotokopi mamanya.”
“Kalau lihat Bia jadi ingat almarhumah.”
Awalnya aku bangga.
Namun suatu hari seorang tetangga pernah berkata menggunakan istilah Jawa yang saat itu belum kupahami.
“Kalau wajah anak mirip sekali dengan orang tuanya, biasanya ada yang mengalah.”
Aku pulang dengan hati penuh pertanyaan.
Anak kecil memang mudah mempercayai apa saja.
Aku mulai merasa takut.
Jangan-jangan Mama pergi karena aku terlalu mirip dengannya?
Pikiran itu terus menghantuiku bertahun-tahun.
Kini aku tahu, itu hanyalah mitos.
Tetapi luka yang lahir dari ucapan orang dewasa sering kali menetap lebih lama daripada yang mereka bayangkan.
Waktu terus berjalan.
Aku tumbuh.
Belajar.
Bermimpi.
Dan berusaha membuktikan bahwa kehilangan bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Sepatu Roda yang Tak Pernah Datang
Bagian 2
Waktu tidak pernah benar-benar menghapus kehilangan. Ia hanya mengajarkan seseorang hidup berdampingan dengannya.
Aku tumbuh menjadi anak yang lebih banyak diam. Ketika teman-teman bercerita tentang masakan ibu mereka, aku hanya tersenyum. Ketika mereka mengeluh dimarahi karena pulang terlalu sore, diam-diam aku berharap masih bisa mendengar suara seorang ibu memarahiku.
Aku belajar menerima bahwa hidupku memang berbeda.
Ayah tetap menjadi orang pertama yang selalu berdiri di sampingku. Beliau bekerja tanpa banyak mengeluh. Pagi berangkat sebelum matahari tinggi, sore pulang dengan wajah lelah, tetapi masih sempat bertanya, “Bia sudah makan?”
Pertanyaan sederhana itu selalu membuatku merasa dicintai.
Aku tahu, tidak mudah membesarkan anak sendirian.
Karena itu aku berjanji dalam hati, suatu hari nanti aku akan membuat Ayah bangga.
Saat memasuki bangku kuliah, keadaan ekonomi keluarga belum benar-benar longgar. Aku sadar biaya pendidikan tidak sedikit. Aku tidak ingin Ayah memikul beban itu seorang diri.
Aku mencoba mendaftar berbagai program beasiswa.
Berkali-kali gagal.
Berkali-kali memperbaiki berkas.
Sampai akhirnya sebuah kabar baik datang.
Namaku dinyatakan lolos menerima beasiswa.
Hari itu Ayah memelukku tanpa banyak kata. Aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih sudah berjuang, Nak.”
Padahal seharusnya akulah yang berterima kasih.
Karena sejak kecil, Ayahlah yang mengajariku arti bertahan.
Hari-hari kuliah tidak selalu mudah. Ada tugas yang menumpuk, ada rasa lelah, ada saat-saat ingin menyerah. Namun setiap kali mengingat perjuangan Ayah dan janji kecilku kepada Mama, aku memilih bangkit lagi.
Empat tahun berlalu.
Di atas panggung wisuda, aku menerima ijazah sarjana.
Predikat kelulusanku baik.
Saat namaku dipanggil, aku mencari sosok Ayah di antara ratusan orang yang hadir. Beliau berdiri sambil bertepuk tangan paling keras.
Aku tersenyum.
Di dalam hati aku berbisik,
“Ma… aku berhasil.”
Aku memang tidak bisa memperlihatkan ijazah itu kepadamu.
Tetapi aku percaya, cinta seorang ibu tidak berhenti hanya karena kematian memisahkan.
Beberapa tahun kemudian aku dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sederhana.
Ia tidak menjanjikan kemewahan.
Ia hanya berjanji akan menjadi teman berjalan sampai tua.
Aku menerimanya.
Kini kami memiliki seorang putra kecil yang setiap hari memenuhi rumah dengan tawa.
Setiap kali memeluk anakku, aku selalu mengingat satu janji.
Aku tidak ingin ia tumbuh dengan rasa kehilangan kasih sayang.
Aku ingin ia tahu bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk pulang.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Dalam perjalanan berumah tangga, aku belajar bahwa menyatukan dua keluarga tidak selalu mudah.
Ada kalanya ucapan orang lain terasa lebih tajam daripada pisau.
Ada saat ketika aku merasa apa pun yang kulakukan selalu kurang.
Cara memasak dipertanyakan.
Cara mengurus rumah dikomentari.
Cara mendidik anak dinilai.
Bahkan caraku memperlakukan suami pun seolah selalu salah di mata sebagian orang.
Aku pernah menangis diam-diam setelah semua orang tertidur.
Bukan karena membenci siapa pun.
Aku hanya lelah.
Aku bertanya-tanya dalam hati,
“Apakah menjadi menantu memang harus selalu sempurna?”
Yang paling menyakitkan bukanlah kritik itu sendiri.
Melainkan ketika masa lalu suamiku sesekali kembali disebut dalam percakapan, seolah aku sedang dibandingkan dengan seseorang yang bahkan bukan bagian dari hidup kami lagi.
Aku memilih diam.
Bukan karena tidak punya jawaban.
Tetapi karena aku percaya, tidak semua perkataan harus dibalas dengan perkataan.
Ada kalanya ketenangan lebih kuat daripada perdebatan.
Suamiku menggenggam tanganku suatu malam.
“Terima kasih sudah bertahan.”
Hanya kalimat itu.
Namun cukup untuk membuatku kembali percaya bahwa perjuangan ini tidak kulalui sendirian.
Aku sadar, setiap keluarga memiliki ujiannya masing-masing.
Dan mungkin inilah ujian yang harus kulewati dengan hati yang lebih luas.
Sebab aku tidak ingin anakku tumbuh menyaksikan ibunya dipenuhi kebencian.
Aku ingin ia belajar bahwa luka tidak harus diwariskan.
Luka bisa berhenti pada kita.
Sepatu Roda yang Tak Pernah Datang
Bagian 3 (Penutup)
Malam itu rumah begitu tenang.
Suamiku telah terlelap. Anakku juga sudah tidur dengan memeluk boneka kesayangannya. Aku duduk di dekat jendela kamar. Langit gelap dihiasi bintang-bintang kecil. Entah mengapa, malam seperti ini selalu membuatku mengingat seseorang yang sudah lama tidak ada.
Aku membuka sebuah buku kosong.
Di halaman pertama, kutulis satu kata yang selama bertahun-tahun hanya mampu kuucapkan dalam hati.
Ma…
Kata orang, waktu bisa menyembuhkan segalanya.
Nyatanya tidak.
Waktu hanya mengajarkan bagaimana cara tersenyum sambil membawa rindu.
Ma, sekarang usiaku dua puluh enam tahun.
Aku sudah menjadi seorang ibu.
Aku akhirnya mengerti mengapa dulu Mama tetap tersenyum meski tubuh Mama menahan sakit. Mengandung, melahirkan, begadang, mengurus anak, semuanya tidak mudah. Baru sekarang aku benar-benar memahami betapa besar kasih sayang seorang ibu.
Ma…
Dulu Bia sering marah dalam diam.
Kenapa Mama pergi terlalu cepat?
Kenapa Bia harus belajar menjadi kuat saat teman-teman masih bisa bermanja kepada ibu mereka?
Kenapa janji tentang sepatu roda yang lampunya menyala itu tidak pernah menjadi kenyataan?
Tetapi sekarang Bia tahu.
Bukan karena Mama mengingkari janji.
Mama hanya tidak sempat menepatinya.
Dan itu bukan salah Mama.
Bahkan sampai hari ini, setiap kali melihat anak kecil bermain sepatu roda, hati Bia selalu tersenyum sekaligus bergetar. Rasanya seperti melihat janji kecil yang tertinggal di masa lalu.
Namun anehnya, sekarang Bia tidak lagi menangisinya.
Karena Bia sadar, hadiah terbesar dari Mama bukanlah sepatu roda.
Melainkan cinta yang masih terasa, meski Mama telah lama tiada.
Ma…
Kata orang, dunia ini keras bagi anak yang tumbuh tanpa ibu.
Mungkin ada benarnya.
Ada hari-hari ketika Bia merasa sendirian.
Ada hari ketika Bia ingin sekali pulang dan memeluk Mama sambil bercerita bahwa hidup orang dewasa ternyata jauh lebih rumit daripada pelajaran di sekolah.
Ada saat ketika ucapan orang lain membuat hati terasa sesak.
Ada saat ketika Bia merasa apa yang dilakukan selalu kurang.
Tetapi setiap kali ingin menyerah, Bia selalu mengingat Ayah.
Ayah yang belajar mengepang rambut.
Ayah yang mengantar sekolah.
Ayah yang mengambil rapor.
Ayah yang diam-diam menyembunyikan lelah agar anaknya tidak ikut bersedih.
Ma…
Bia berhasil.
Bia menyelesaikan kuliah S-1.
Bia tidak ingin menjadi beban bagi Ayah, maka Bia berusaha mendapatkan beasiswa.
Saat dinyatakan lulus dengan predikat baik, rasanya Bia ingin sekali berlari pulang dan menunjukkan ijazah itu kepada Mama.
Namun rumah yang ingin Bia tuju kini hanya ada dalam doa.
Semoga di tempat yang paling indah, Mama mengetahui bahwa anak kecil yang dulu sering menangis kini sudah berdiri dengan kakinya sendiri.
Ma…
Sekarang Bia memiliki keluarga kecil.
Suami Bia adalah laki-laki yang selalu mengingatkan bahwa rumah dibangun dengan saling menguatkan, bukan saling menyalahkan.
Dan anak Bia…
Dialah alasan Bia belajar menjadi ibu yang lebih baik setiap hari.
Bia tidak sempurna.
Masih sering lelah.
Masih sering menangis diam-diam.
Tetapi Bia tidak ingin anak Bia tumbuh mempertanyakan apakah ia dicintai.
Ia harus tahu bahwa pelukan ibunya akan selalu menjadi tempat pulang.
Ma…
Dulu Bia pernah merasa bersalah karena banyak orang mengatakan wajah Bia sangat mirip dengan Mama.
Bahkan ada yang mengucapkan mitos yang membuat hati anak kecil ini ketakutan.
Bertahun-tahun Bia membawa rasa bersalah yang seharusnya tidak pernah menjadi milik seorang anak.
Kini Bia mengerti.
Mirip dengan Mama bukanlah kutukan.
Itu adalah anugerah.
Setiap kali bercermin, seolah ada sedikit bagian Mama yang masih tinggal bersama Bia.
Dan mungkin itulah cara Allah mengobati rindu yang tak pernah selesai.
Beberapa waktu lalu, saat menghadiri acara keluarga dari pihak Mama, seseorang tanpa sengaja memanggil Bia dengan nama Mama.
Semua orang terdiam sesaat.
Lalu tersenyum.
Di dalam hati, Bia menangis.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena bahagia.
Ternyata setelah bertahun-tahun berlalu, kenangan tentang Mama masih hidup di hati begitu banyak orang.
Mungkin benar…
Seseorang tidak benar-benar pergi selama masih ada yang mengenangnya dengan cinta.
Malam semakin larut.
Aku menutup buku itu perlahan.
Dari kamar sebelah terdengar suara anakku memanggil pelan dalam tidurnya.
“Mama…”
Aku segera menghampirinya.
Kupeluk tubuh kecilnya.
Kucium keningnya.
Di detik itulah aku tersadar.
Dulu aku adalah seorang anak yang kehilangan panggilan “Nak” dari ibunya.
Hari ini, Allah menggantinya dengan menghadiahkan seorang anak yang memanggilku, “Mama.”
Air mataku jatuh tanpa suara.
Aku tersenyum ke arah langit.
“Ma… terima kasih. Bia baik-baik saja sekarang. Rindu ini memang tidak pernah hilang, tetapi Bia sudah belajar hidup bersamanya. Doakan Bia dari surga agar mampu menjadi ibu yang bisa dibanggakan, sebagaimana Bia selalu bangga pernah menjadi anak Mama.”
Di sudut rumah, anakku kembali tertawa dalam tidurnya.
Dan untuk pertama kalinya, bayangan tentang sepatu roda yang tak pernah datang tidak lagi terasa sebagai kehilangan.
Ia berubah menjadi pengingat bahwa cinta seorang ibu tidak pernah berakhir.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari pelukan di dunia, menjadi doa yang menguatkan dari langit.
Penulis: Nabila Dwi Amalia







Komentar