INDONESIASKETSA.COM, Ucok menatap layar monitornya yang menyala redup di ruang kerja yang mulai sepi. Di sudut ruangan, sebuah spanduk kecil bertuliskan “Selamat Hari Statistik Nasional: Satu Data, Presisi untuk Negeri” baru saja dipasang oleh panitia. Hari ini tanggal 24 September, dua hari menjelang puncak peringatan.
Sebagai seorang analis data muda di Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi, Ucok terbiasa berurusan dengan jutaan baris angka. Bagi sebagian orang, statistik adalah kumpulan digit mati yang membosankan. Tapi bagi Ucok, itu adalah teka-teki raksasa yang harus disusun hingga membentuk wajah utuh sebuah bangsa.
Namun, malam itu, ada satu teka-teki yang membuat dahi Ucok berkerut.
Ia sedang melakukan validasi akhir untuk data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) di sebuah kecamatan terpencil bernama Kecamatan Marawijaya. Secara kuantitatif, angka kemiskinan di desa-desa sekitar wilayah itu turun drastis hingga 15% dalam satu kuartal.
“Harusnya aku senang, kan? Angka kemiskinan turun,” gumam Ucok pada dirinya sendiri. “Tapi kenapa catatan kualitatif dari pencacah lapangan justru menandakan sebaliknya?”
Ucok mengklik file catatan lapangan yang diunggah oleh Pak Uyul, seorang pencacah senior yang sudah pensiun tahun ini namun masih sering diminta bantuannya sebagai konsultan lapangan.
Catatan Pak Uyul “Warga Desa Sukamulya terlihat lebih sejahtera bulan ini karena ada pembagian sembako dan uang tunai dari program CSR perusahaan tambang yang kebetulan lewat. Tapi, stok pangan di lumbung desa kosong. Panen padi gagal total karena irigasi rusak sejak tahun lalu. Jika bantuan CSR berhenti bulan depan, mereka akan kembali ke titik nol, bahkan lebih lapar”.
Ucok menghela napas. Data kuantitatif mengatakan desa itu sejahtera. Data kualitatif berteriak bahwa desa itu sedang dalam bahaya. Jika ia membiarkan angka kuantitatif itu lolos ke dalam dashboard “Satu Data” untuk direkomendasikan ke dinas terkait, maka Desa Sukamulya tidak akan mendapat prioritas bantuan perbaikan irigasi dari pemerintah daerah, karena secara “angka” mereka sudah dianggap keluar dari garis kemiskinan.
Keesokan paginya, Ucok membawa temuan itu ke ruang Kepala Bidang Distribusi dan Jasa, Bu Mawar.
“Bu, saya ingin merekomendasikan flagging atau penandaan khusus untuk data Kecamatan Marawijaya. Kita tidak bisa hanya memakai rata-rata makro,” kata Ucok sambil menyodorkan tabel perbandingannya.
Bu Mawar menatap layar, lalu menatap Ucok lekat-lekat. “Kamu tahu, Ucok, mengubah atau memberikan catatan khusus pada data yang sudah masuk sistem terpusat itu prosedurnya panjang. Kamu harus bisa membuktikan bahwa ada anomali struktural, bukan sekadar kesalahan input.
“Ini bukan kesalahan input, Bu,” Ucok menjawab mantap. “Ini adalah fenomena shock therapy ekonomi sesaat. Bantuan CSR menutupi kegagalan struktural pertanian. Kalau kita rilis data mentah ini besok saat peringatan HSN sebagai ‘kemenangan penurunan kemiskinan’, kita sama saja menipu pembuat kebijakan. Desa Sukamulya akan kehilangan haknya dapat bantuan irigasi.”
Ruangan hening sejenak. Bu Mawar tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kebanggaan.
Kamu tahu kenapa kita memperingati Hari Statistik Nasional setiap tanggal 26 September, Ucok? tanya Bu Mawar pelan.
Ucok menggeleng pelan.
Bukan untuk merayakan betapa canggihnya komputer kita, atau seberapa cepat kita mengolah data,” lanjut Bu Mawar sambil berdiri dan menepuk bahu Arya. “Tapi untuk merayakan kejujuran. Statistik adalah cermin. Jika cerminnya retak atau dikaburkan, bangsa ini akan berjalan menabrak tembok. Kamu baru saja menyelamatkan cermin itu.
Dua hari kemudian, tanggal 26 September, aula BPS provinsi penuh sesak. Pejabat daerah, wartawan, dan seluruh pegawai berkumpul untuk upacara peringatan Hari Statistik Nasional.
Kepala BPS Provinsi naik ke mimbar. Di layar besar belakangnya, ditampilkan *dashboard* Satu Data terbaru.
“Rekan-rekan sekalian,” suara Kepala BPS menggema. “Tahun ini, kita bangga menyajikan data yang tidak hanya akurat secara matematis, tetapi juga kontekstual secara sosiologis. Berkat ketelitian tim validasi, kita menemukan anomali di Kecamatan Marawijaya. Data ini telah kami kirimkan sebagai early warning system ke Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Pertanian. Bulan depan, alat berat untuk perbaikan irigasi akan turun ke Desa Sukamulya”.
Tepuk tangan riuh memenuhi aula. Ucok bertepuk tangan, matanya sedikit berkaca-kaca.
Ia menatap layar besar itu. Angka-angka persentase, grafik batang, dan tabel silang berkedip di sana. Tapi kali ini, Ucok tidak lagi melihat deretan angka yang dingin. Di balik persentase 15% itu, ia melihat senyum lega petani di Sukamulya.
Di balik grafik irigasi, ia melihat air yang akhirnya kembali mengalir ke sawah yang kering. Dan di balik seragam loreng pencacah lapangan, ia melihat keringat Pak Uyul dan ratusan petugas lainnya yang menyusuri jalanan berlumpur demi memastikan tidak ada satu pun warga negara yang terlewat dari catatan negeri ini.
Bagi Ucok, dan bagi ribuan insan statistik di seluruh pelosok Nusantara, angka tidak pernah sekadar angka. Angka adalah napas, adalah nyawa, dan adalah janji negara kepada rakyatnya.
Selamat Hari Statistik Nasional (26 September). Teruntuk seluruh insan statistik, pencacah, hingga analis data: Terima kasih telah merawat kejujuran dari setiap deretan angka.
Penulis : Id_Latu (Pecinta Sastra)







Komentar