AS Terus Diguncang Demo Besar, Buntut Agen Federal Tembak Mati Seorang Perawat

Gelombang kemarahan publik merebak di Amerika Serikat setelah seorang warga negara AS, Alex Pretti (37), tewas ditembak dalam operasi penegakan imigrasi federal di Minneapolis, Minnesota. Insiden yang melibatkan agen Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) itu kini menjelma menjadi krisis nasional yang menyorot tajam pertanggungjawaban aparat federal di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Kematian Pretti bukan peristiwa tunggal. Tiga pekan sebelumnya, kota yang sama diguncang penembakan fatal lain oleh petugas imigrasi terhadap Renee Good (37), yang tewas di dalam kendaraannya. Dua kasus beruntun ini memicu anggapan publik bahwa penggunaan kekuatan mematikan oleh agen federal telah menjadi pola yang mengkhawatirkan.

Sepanjang akhir pekan, jalanan Minneapolis dipenuhi massa dari berbagai kelompok usia. Mereka melantangkan seruan protes seperti “ICE keluar sekarang”, “Minneapolis mogok”, serta slogan sinis yang menandai runtuhnya citra kota ramah di negara bagian tersebut.

“Kami tidak pernah membayangkan ini bisa terjadi, apalagi dibiarkan berulang,” ujar Pege Miller (69), seperti dikutip BBC Internasional, Senin (26/1). Seorang demonstran lain menambahkan, “Negara seperti inilah yang tidak pernah saya bayangkan harus saya saksikan.”

Tekanan juga datang dari kalangan dunia usaha. Lebih dari 60 pimpinan perusahaan besar yang berbasis di Minnesota termasuk raksasa korporasi seperti 3M, Best Buy, dan Target menandatangani surat terbuka yang mendesak pemerintah segera meredakan ketegangan. Mereka meminta otoritas lokal dan federal duduk bersama untuk mencari jalan keluar konkret.

Aksi solidaritas meluas ke berbagai kota besar di AS, mulai dari New York hingga San Francisco. Di Utah, panggung Festival Film Sundance ikut menjadi ruang kritik. Sejumlah selebritas memanfaatkan momen karpet merah untuk mengecam keras insiden tersebut.

Aktris Olivia Wilde menyebut penembakan itu “tak terbayangkan”, seraya menolak anggapan bahwa kekerasan semacam ini dapat dianggap normal. “Orang-orang turun ke jalan menuntut keadilan, lalu kita menyaksikan mereka terbunuh. Ini tidak boleh diterima,” tegasnya. Natalie Portman pun menyampaikan kemarahan serupa, menyebut kejadian itu sebagai “hari yang mengerikan” dan “sangat menjijikkan.”

Pretti sendiri diketahui merupakan perawat ICU dan warga negara AS. Ia tewas dalam sebuah operasi ICE yang kemudian dibenarkan oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS), meski lembaga itu menutup rapat identitas dan riwayat disiplin agen yang terlibat. DHS hanya menyebut petugas tersebut memiliki masa dinas sekitar delapan tahun.

Sekretaris DHS Kristi Noem menyatakan bahwa tembakan dilepaskan sebagai tindakan defensif setelah Pretti disebut mendekat dengan senjata api dan melakukan perlawanan keras. Namun narasi resmi itu mulai diragukan seiring beredarnya sejumlah rekaman amatir yang direkam saksi mata dan ditelaah berbagai media.

Dalam beberapa video, Pretti tampak merekam aktivitas agen federal menggunakan ponselnya, termasuk saat seorang perempuan didorong hingga terjatuh. Rekaman lain menunjukkan Pretti disemprot merica dan ditahan oleh beberapa agen sebelum suara letusan terdengar. Pada detik-detik sebelum penembakan, yang terlihat di tangannya hanyalah telepon genggam.

Salah satu video bahkan memperlihatkan seorang agen mengambil sebuah pistol dari tubuh Pretti sesaat sebelum tembakan dilepaskan oleh agen lain. Hingga kini, DHS belum memberikan penjelasan resmi terkait perbedaan mencolok antara rekaman visual dan pernyataan mereka.

“Ketidaksesuaian antara bukti video dan klaim federal membuat kami tidak bisa langsung menerima versi resmi,” ujar seorang pejabat penegak hukum Minnesota yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Menanggapi polemik tersebut, otoritas negara bagian Minnesota mengambil langkah tegas. Kantor Jaksa Agung Minnesota, Jaksa Wilayah Hennepin, dan Biro Penangkapan Kriminal Minnesota menyatakan akan melakukan penyelidikan independen untuk menilai kemungkinan pengajuan tuntutan pidana terhadap agen terkait.

Seorang hakim federal juga memerintahkan pemerintahan Trump dan DHS untuk mengamankan seluruh barang bukti. Perintah itu dikeluarkan setelah muncul tudingan bahwa aparat federal sempat menghambat akses penyelidik lokal ke lokasi kejadian.

Secara umum, kasus penembakan yang melibatkan personel DHS memang ditangani oleh FBI dan Inspektur Jenderal DHS. Namun bagi pejabat Minnesota, mekanisme pengawasan internal federal dinilai tidak memadai untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam kasus ini.

Komentar