Risiko Tinggi Bikin Proyek Infrastruktur RI Sulit Menarik Investor Swasta

INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Mantan Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior Agus Martowardojo menyoroti rendahnya partisipasi sektor swasta dalam proyek-proyek infrastruktur berskala besar di Indonesia. Menurutnya, persoalan tersebut bukan disebabkan oleh keterbatasan sumber dana, melainkan tingginya tingkat risiko dan ketidakpastian yang melekat pada proyek-proyek tersebut.

Agus menegaskan, selama risiko dan kepastian proyek belum dapat dikelola secara memadai, proyek akan sulit menarik pembiayaan komersial. Kondisi ini membuat proyek tidak layak secara perbankan (non-bankable), meskipun didukung oleh anggaran negara maupun lembaga pembiayaan pemerintah.

“Risiko dan kepastian itu adalah yang membuat satu project tidak bankable. Jadi, kalau seandainya APBN atau Danantara mau membiayai suatu project, tapi risiko dan ketidakpastian-nya masih tinggi, sudah pasti itu jadi tidak bankable dan tidak bisa didorong, dan akhirnya menghabiskan waktu,” ujar Agus Martowardojo dalam acara Indonesia Business Council di Jakarta, Kamis (15/1).

Mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut menjelaskan bahwa hambatan utama kerap muncul sejak tahap awal proyek, terutama terkait kesiapan (readiness). Ia menilai proses perizinan yang belum rampung serta pembebasan lahan yang berkepanjangan masih menjadi persoalan berulang dalam banyak proyek infrastruktur nasional.

Selain aspek kesiapan, Agus juga menekankan pentingnya pengelolaan risiko permintaan atau demand risk. Ia menilai tidak sedikit proyek besar yang dirancang tanpa perhitungan proyeksi penggunaan yang solid, seperti estimasi jumlah penumpang transportasi massal atau volume lalu lintas pada infrastruktur jalan dan logistik.

Menurutnya, tanpa kepastian permintaan yang memadai, proyek akan sulit menarik minat investor swasta karena potensi pengembalian investasi menjadi tidak jelas. Kondisi tersebut pada akhirnya memperlambat realisasi proyek dan menurunkan efektivitas belanja infrastruktur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Agus menilai, perbaikan tata kelola proyek, penguatan kepastian hukum, serta perhitungan risiko yang lebih matang menjadi prasyarat utama agar proyek-proyek strategis nasional dapat lebih menarik bagi investor swasta ke depan.

Komentar