INDONESIASKETSA.COM, Medan – Gelombang aksi massa di depan gedung DPRD Sumatera Utara memuncak selama empat hari berturut-turut, dimulai pada 26 Agustus dan berlangsung hingga 29 Agustus. Dalam tiga hari pertama, ketegangan tak terbendung: bentrokan fisik antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan kerap pecah, menciptakan suasana mencekam di sekitar lokasi demonstrasi.
Berbagai kelompok masyarakat ikut turun ke jalan. Mulai dari buruh, mahasiswa, pelajar, hingga pengemudi ojek online, semua bersatu menyuarakan keresahan terhadap tingginya tunjangan gaji anggota dewan. Bagi mereka, hal tersebut mencerminkan ironi pahit—di tengah kondisi rakyat yang masih jauh dari kata sejahtera, elit politik justru menikmati fasilitas mewah.
Situasi kian panas ketika kabar duka datang dari Ibu Kota: seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan, 21 tahun, tewas setelah terlindas kendaraan taktis milik Brimob saat aksi di Jakarta. Tragedi itu langsung menyulut kemarahan di berbagai kota, termasuk Medan.
Duka dan amarah bercampur jadi satu. Aksi yang semula berfokus pada kritik terhadap DPR, kini berubah menjadi ledakan protes terhadap institusi kepolisian yang dianggap bertindak brutal dan tidak manusiawi dalam menangani massa.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa simbol perlawanan bermunculan di berbagai sudut Kota Medan. Coretan “1312” dan akronim “ACAB”—yang merupakan kependekan dari frasa keras “All Cops Are Bastards”—terpampang di tembok-tembok, jembatan, jalanan, dan pagar. Kode ini dibaca berdasarkan urutan alfabet: A=1, C=3, A=1, B=2—yang jika dirangkai kembali menjadi 1312.
Coretan-coretan lain pun menghiasi ruang publik, membawa pesan-pesan tajam seperti “Dulu Ditindas, Sekarang Dilindas”, “Merdeka Bagi Penguasa”, dan “Polisi Pembunuh”. Semua itu menjadi ekspresi visual dari kekecewaan dan kemarahan rakyat terhadap aparat yang dinilai gagal menjalankan tugas secara adil.
Amarah massa mencapai puncaknya saat pos polisi lalu lintas di pusat Kota Medan dibakar habis. Aksi itu dianggap sebagai simbol perlawanan dan bentuk pelampiasan atas kematian Affan, yang telah menjelma menjadi ikon perlawanan baru bagi gerakan rakyat.







Komentar