INDONESIASKETSA.COM, Denpasar – Mengutip data dari Kementerian Agama (Kemenag) tahun 2018, Bali merupakan provinsi dengan populasi umat Hindu terbesar di Tanah Air. Dari total 4.236.983 orang penduduk setempat, sebanyak 3.682.484 orang di antaranya memeluk Hindu.
Sementara itu, Islam menjadi agama kedua yang dipeluk sebagian besar warga setempat, yakni sebanyak 425.981 orang. Interaksi sosial-budaya antara umat Hindu dan Islam di Bali sesungguhnya sudah terjalin sejak zaman pra-penjajahan Eropa. Bahkan, pada masa kolonial kedua komunitas beda agama itu menyatukan kekuatan untuk berjuang mengusir penjajah.
Salah satu jejak sejarah Islam di Pulau Dewata adalah Masjid as-Syuhada. Terletak di Kampung Bugis, Serangan, Kabupaten Badung, inilah sebuah masjid tertua se-Bali.
Merujuk pada historinya, lahan tempat masjid ini berada merupakan pemberian Raja Badung. Komunitas Muslim Bugis memang dekat dengan kalangan elite Kerajaan Badung. Konon, para penghuni istana menyukai sajian khas Bugis, semisal lawar selam dan lawar penyu.
Orang Bali pada akhirnya piawai meracik sendiri kedua masakan itu, yang pada era 1980-an atau 1990-an sempat populer. Bagaimanapun, kini negara telah melindungi keberadaan penyu sebagai salah satu binatang langka. Maka dari itu, masakan lawar penyu pun jarang beredar lagi.
Selain kuliner, relasi antara umat Islam—yang direpresentasikan orang Bugis—dan penduduk tempatan lebih dekat lagi. Seperti terekam dalam Lontar Siti Badriyah, para pendatang asal Bugis terkenal pandai mengobati berbagai macam penyakit. Kaum Muslimin itu tidak hanya menyembuhkan sesamanya, tetapi juga masyarakat lokal Bali.
Penduduk Hindu pada masa itu sangat mempercayai keampuhan para tabib Muslim dari Sulawesi Selatan tersebut. Tempat permukiman komunitas Muslim Bugis di daerah sekitar Sungai Jogading kerap disebut loloan. Panggilan itu berasal dari istilah lolo, yang berarti ‘jamu’ atau ‘obat’ dalam bahasa Bali.
Maka, wajarlah bila orang-orang Muslim Bugis diterima dengan baik oleh kelompok elite maupun rakyat Badung pada umumnya. Keberadaan Masjid as-Syuhada merupakan saksi bisu dari harmoni yang telah terjalin ratusan tahun lamanya.
Masjid ini berdiri sejak abad ke-17 M. Pada awalnya, lokasinya sangat dekat dengan kawasan pesisir. Tak lebih dari 300 meter dari bibir pantai setempat.
Setelah dilakukan reklamasi, jarak antara masjid dan pantai kira-kira mencapai 2 km. Adapun jarak Masjid as-Syuhada ke Kota Denpasar mencapai 10 km dan jika dicapai melalui Jalan Bay Pass Ngurah Rai, jaraknya 2,5 km.
Tampilan Masjid as-Syuhada kini merupakan hasil dari beberapa kali renovasi atau pemugaran. Untuk atapnya saja, sudah enam kali perbaikan agar mencegah bocor. Temboknya pun diperbaikin untuk mengatasi lapuk. Pada 1999, tembok bagian dalam masjid tersebut dilapisi dengan keramik untuk mencegah kerontokan. Tebal tembok masjid menjadi 25 cm.
Masjid as-Syuhada memiliki empat tiang sebagai penyangga di tengah, dua pintu, dan sembilan jendela. Daya tampungnya mencapai 150 orang jamaah.
Berbagai renovasi juga menyebabkan kian luasnya area Masjid as-Syuhada. Sesudah renovasi yang dilakukan pada 2007 lalu, luas masjid ini ditambah hingga mencakup 17,5 x 13,5 m persegi. Perluasan ini memberikan keuntungan, terutama bagi Muslimin setempat yang jumlahnya kian bertambah dari tahun ke tahun. Menurut sensus pada 2017 lalu, orang Muslim yang menetap di Kampung Bugis mencapai 87 kepala keluarga atau 360 jiwa. Itu belum termasuk Muslimin pendatang.
Seperti umumnya masjid, as-Syuhada pun menjadi pusat keislaman yang cukup makmur. Pelbagai program rutin yang telah berjalan adalah Taman Pendidikan Alquran. Biasanya, itu berlangsung sehabis ashar yang diikuti oleh anak-anak usia 4 hingga 11 tahun. Mereka belajar membaca Alquran dan doa-doa.
Selepas maghrib, kegiatan diikuti oleh mereka yang berusia 11 hingga 16 tahun. Mereka belajar tauhid, akidah, dan sejumlah materi lainnya dengan bimbingan sejumlah ustaz. Selain itu, ada program pekanan yang dilakukan setiap malam Jumat sehabis shalat maghrib. Pengurus mengajak para jamaah untuk itikaf dan membaca surah Yasin bersama-sama hingga isya tiba.
Masjid As-Syuhada pun tak pernah absen dalam menggelar peringatan hari-hari besar Islam. Selain kegiatan menyambut tahun baru Islam, pada setiap 9 Muharram, diadakan tradisi, yakni mengelilingi batas-batas Kampung Bugis sambil berdoa. Sejumlah orang juga mengusung Alquran, termasuk mushaf yang dicetak pada abad ke-17 M.
Saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pengurus masjid membuat pernak-pernik telur lalu diarak remaja dan anak-anak keliling kampung. Sesampai di masjid, para jamaah menyambutnya dengan bacaan kitab Al-Barzanzi.







Komentar