INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto kembali melemparkan sorotan tajam terkait dugaan manipulasi nilai laporan ekspor (under invoicing) pada komoditas kelapa sawit nasional. Kebocoran informasi nilai jual ini disinyalir telah mengikis potensi pendapatan devisa tanah air dalam angka yang amat signifikan selama kurun waktu yang panjang.
Kepala Negara membeberkan adanya jurang pemisah yang teramat lebar antara tarif pengapalan yang tercatat dari tanah air dengan harga penutupan di pasar global. Saat bertolak dari pelabuhan domestik, nilai sawit terdaftar pada kisaran Rp15.000 per kilogram, sedangkan di kawasan tujuan ekspor harganya dapat meroket hingga Rp27.000 per kilogram.
“Sebelumnya minyak mentah sawit Indonesia dijual di pelabuhan Indonesia, dijual sekitar Rp15.000 per kilogram sementara harga di bursa Rotterdam Belanda harganya Rp27.000 per kilogram padahal satu hektare di Belanda tidak ada kebun kelapa sawit,” ungkap Prabowo di Gedung MPR/DPR Jakarta, Jumat (14/8).
Disparitas harga yang hampir menyentuh separuh dari nilai riil tersebut sama sekali tidak masuk ke kas negara, melainkan tersedot oleh oknum-oknum tertentu akibat mekanisme niaga yang buram.
“Artinya kita hilang 50% nilai komoditas kita,” ujarnya.
Guna menutup celah kecurangan tersebut, pemerintah bergerak cepat merancang mekanisme tata kelola ekspor terintegrasi di bawah naungan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Badan usaha baru di bawah Danantara ini diproyeksikan bakal memegang kendali penuh atas pengawasan lalu lintas ekspor komoditas strategis.
“Karena itu pada tanggal 20 Mei 2026 Hari Kebangkitan Nasional kita di aula terhormat ini di hadapan majelis terhormat ini saya telah umumkan pembentukan PT DSI ini sebagai pintu tunggal prosesing ekspor komoditas milik Indonesia,” tegas Prabowo.







Komentar