INDONESIASKETSA.COM, Fenomena Fear of Missing Out atau rasa takut tertinggal dari tren dan pengalaman sosial semakin meluas di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda. Di era dominasi media sosial, FOMO tidak lagi sekadar istilah populer, tetapi telah menjadi bagian dari dinamika psikologis masyarakat digital.
Istilah FOMO pertama kali diperkenalkan oleh Dan Herman pada akhir 1990-an, dan kemudian dipopulerkan dalam kajian psikologi modern. Konsep ini merujuk pada kecemasan seseorang ketika merasa orang lain menjalani pengalaman yang lebih menarik, menyenangkan, atau bernilai dibanding dirinya.
Perkembangan platform digital seperti Instagram, TikTok, dan X mempercepat penyebaran fenomena ini. Konten yang menampilkan gaya hidup ideal, perjalanan mewah, hingga pencapaian personal sering kali memicu perbandingan sosial yang tidak sehat.
Sejumlah studi menunjukkan bahwa tingkat penggunaan media sosial yang tinggi berkorelasi dengan meningkatnya gejala FOMO, seperti kecemasan, stres, hingga penurunan kepuasan hidup. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior menemukan bahwa individu dengan intensitas tinggi dalam memantau media sosial cenderung mengalami tekanan psikologis lebih besar akibat perasaan tertinggal.
Di Indonesia, tren ini semakin terlihat dengan meningkatnya budaya “ikut-ikutan” dalam berbagai aspek, mulai dari gaya hidup, tren kuliner, hingga investasi digital. Banyak anak muda merasa terdorong untuk selalu mengikuti tren terbaru agar tetap relevan dalam lingkungan sosialnya.
Psikolog menilai bahwa FOMO berkaitan erat dengan kebutuhan dasar manusia akan pengakuan sosial. Dalam konteks masyarakat digital, validasi sering kali diukur melalui jumlah “like”, komentar, dan pengikut. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, individu berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri.
Namun demikian, para ahli juga menekankan bahwa FOMO dapat dikelola. Edukasi literasi digital menjadi kunci penting agar masyarakat mampu memahami bahwa realitas di media sosial sering kali telah melalui proses kurasi dan tidak sepenuhnya mencerminkan kehidupan nyata.
Pemerintah dan berbagai lembaga pendidikan di Indonesia mulai mendorong kampanye kesehatan mental digital, termasuk mengajak generasi muda untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Beberapa inisiatif juga menekankan pentingnya konsep JOMO (Joy of Missing Out), yaitu kemampuan menikmati hidup tanpa tekanan untuk selalu mengikuti tren.
Fenomena FOMO menjadi cerminan tantangan baru di era digital. Di satu sisi, teknologi membuka akses luas terhadap informasi dan pengalaman global. Namun di sisi lain, tanpa kontrol yang bijak, ia juga dapat memicu tekanan sosial yang berdampak pada kesehatan mental.
Dengan meningkatnya kesadaran akan isu ini, diharapkan masyarakat Indonesia mampu memanfaatkan teknologi secara lebih sehat, bukan sebagai sumber kecemasan, melainkan sebagai sarana pengembangan diri.







Komentar