INDONESIASKETSA.COM, Gaza – Di wilayah Gaza yang terus digempur dari udara, dibelit pengungsian massal dan blokade berkepanjangan, ada pemandangan yang nyaris tak tersentuh dentuman bom: anak-anak duduk bersila, melantunkan dan mengikat ayat-ayat Al-Qur’an di ingatan mereka. Masjid yang tersisa, tenda darurat, hingga ruang belajar seadanya menjadi saksi keteguhan itu. Bagi mereka, hafalan bukan sekadar pelajaran, melainkan benteng batin keyakinan bahwa apa yang telah bersemayam di hati tak dapat dihancurkan oleh perang.
Keteguhan spiritual ini diangkat dalam program Ayyamu Allah yang ditayangkan Al Jazeera Mubasher. Melalui liputan jurnalis Mujahid, publik diajak menyaksikan aktivitas Dar Al-Itqan, lembaga tahfiz yang tetap menjalankan proses pendidikan meskipun lebih dari 90 persen masjid di Gaza dilaporkan hancur akibat agresi Israel. Tayangan tersebut merekam kisah para pelajar yang menjadikan Al-Qur’an sebagai jangkar iman di tengah runtuhnya bangunan fisik.
Dar Al-Itqan bahkan baru saja menyelenggarakan wisuda bagi ratusan penghafal Al-Qur’an. Wakil Direktur lembaga itu, Sheikh Muhammad Abu Mohsen, menyebut sebanyak 777 hafiz dan hafiza diwisuda dalam sebuah seremoni yang sarat makna simbolik. Menurutnya, acara tersebut dirancang sebagai sinyal harapan di tengah suasana perang. Ia menegaskan bahwa penghancuran masjid tidak berarti terhentinya pendidikan. Al-Qur’an, katanya, tidak bergantung pada tembok dan tidak bisa dibatasi oleh ruang.
Keseharian para siswa berlangsung di bawah tekanan ekstrem. Mereka harus mengantre air bersih, bahan bakar, dan makanan, lalu memanfaatkan waktu di sela-sela itu untuk mengulang hafalan. Kelas-kelas yang mereka datangi pun tak luput dari ancaman serangan. Namun para orang tua tetap mengirimkan anak-anak mereka, meyakini bahwa pendidikan Qurani adalah perlindungan terakhir yang masih bisa diwariskan.
Salah satu siswa, Nabil Al-Agha, mengisahkan perjalanan panjangnya bersama Al-Qur’an sejak usia tujuh tahun. Perpindahan paksa dari Khan Younis ke Rafah tidak memutus semangatnya. Ia justru menemukan kekuatan dari bimbingan gurunya, almarhum Sheikh Ahmed Abu Jamal. Dalam tayangan itu, Nabil mengutip ayat dari Surah Al-Baqarah tentang ujian dan kesabaran ayat yang seolah merefleksikan realitas hidup warga Gaza hari ini.
Kisah lain datang dari Amir Muammar, hafiz cilik yang menghafal Al-Qur’an bersama saudara kembarnya. Dalam satu kesempatan, keduanya mampu menyelesaikan hafalan selama tujuh jam tanpa jeda. Prestasi tersebut menjadi gambaran peran keluarga dan guru dalam menjaga kesinambungan pendidikan di tengah situasi yang nyaris mustahil.
Keterbatasan fasilitas menjadi tantangan tersendiri. Mushaf Al-Qur’an langka akibat hancurnya rumah dan masjid. Sejumlah siswa harus bergantian menggunakan satu mushaf, sementara yang lain mengandalkan ponsel milik orang tua. Metode talaqqi menirukan bacaan guru secara langsung—pun menjadi solusi untuk menjaga akurasi hafalan.
Di tengah segala keterbatasan itu, Dar Al-Itqan tetap menjalankan sistem pendidikan Qurani yang menyeluruh. Programnya mencakup hafalan rutin, penguatan akidah, sirah, dan tafsir, pembelajaran tajwid, pengembangan kualitas suara, pembinaan karakter, hingga Diwan al-Hafiz sebagai forum penguatan dan pengulangan hafalan secara menyeluruh.
Sheikh Abu Mohsen menekankan bahwa tujuan utama lembaga tersebut bukan sekadar melahirkan penghafal, melainkan membentuk generasi yang membawa nilai, akhlak, dan pemahaman Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.
Menutup program, ia mengajak masyarakat Arab dan Muslim di berbagai belahan dunia untuk menopang pendidikan Qurani di Gaza. Menurutnya, dukungan semacam ini melampaui bantuan darurat kemanusiaan. Ia adalah investasi jangka panjang untuk menumbuhkan generasi dokter, pendidik, dan pemimpin masa depan yang berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an.







Komentar