Wamenlu Anis Matta: Kemerdekaan Palestina Adalah Utang Sejarah Yang Belum Ditunaikan Indonesia

INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menyebut perjuangan untuk memerdekakan Palestina bukan sekadar isu politik luar negeri, melainkan tanggung jawab moral dan sejarah yang diwariskan sejak masa perjuangan bangsa. Menurutnya, spirit pembelaan terhadap bangsa tertindas yang dulu menjadi ciri kepemimpinan Soekarno kini kembali bergema di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Indonesia, kata Anis, tengah menegaskan kembali posisinya sebagai negara yang aktif memperjuangkan keadilan dan perdamaian di panggung dunia.

“Yang tersisa dari semangat Bandung itu sebenarnya tinggal satu ini, Palestina. Itu artinya masih ada utang sejarah yang kita belum tuntaskan. Dan menuntaskan utang sejarah inilah yang sedang dilakukan oleh Pak Prabowo sekarang,” ujar Anis, Minggu (2/11).

Anis Matta menilai, kembalinya Indonesia sebagai bangsa yang disegani di kancah global tidak terjadi secara tiba-tiba di masa pemerintahan Presiden Prabowo. Ia menekankan, akar dari kehormatan itu sudah tumbuh sejak era Presiden Soekarno, ketika Indonesia berani mengambil peran sebagai penggerak kebebasan bagi bangsa-bangsa yang masih hidup di bawah penjajahan. Warisan diplomasi tersebut, lanjutnya, tercermin dalam lahirnya Konferensi Asia-Afrika (KAA), sebuah momentum bersejarah yang meneguhkan posisi Indonesia sebagai jembatan solidaritas dunia Selatan.

“Posisi Indonesia dihargai di mata dunia. Tapi sebenarnya peranan ini sudah pernah kita lakukan sebelumnya. Di era Bung Karno dulu tahun 1955 kan kita yang menginisiasi Konferensi Asia Afrika di Bandung dan kemudian ikut melahirkan Gerakan Non-Blok di masa Perang Dingin,” tutur Anis.

Anis menjelaskan, semangat yang lahir dari KAA 1955 membawa satu narasi tunggal, yakni perjuangan untuk kemerdekaan dan perlawanan terhadap imperialisme. Indonesia yang saat itu baru sepuluh tahun merdeka, lanjut Anis, memprakarsai forum tersebut di tengah situasi dalam negeri yang masih sulit.

“Semangat Bandung atau ruhnya Bandung itu waktu itu datang dengan satu narasi tunggal: kemerdekaan melawan imperialisme. Karena banyak dari anggotanya yang masih belum merdeka sampai tahun itu, dan kita juga baru 10 tahun merdeka,” kata Anis.

Dia menambahkan, meski Indonesia saat itu baru keluar dari masa agresi Belanda dan baru menyelenggarakan pemilu pertama, pemerintahan yang ada memiliki legitimasi besar untuk memimpin gerakan solidaritas Dunia Selatan (Global South).

“Dalam kondisi baru merdeka, masih terseok-seok, kita sudah mengundang negara-negara selatan yang pernah dijajah untuk hadir dalam konferensi ini dan menebarkan semangat perlawanan untuk merdeka,” ucapnya.

Dari semangat yang lahir di Bandung itu, hampir seluruh negara di Asia dan Afrika akhirnya memperoleh kemerdekaannya pada dekade 1960-an. Hanya dua negara yang sempat tertinggal, yakni Afrika Selatan dan Palestina.

“Alhamdulillah kira-kira dari tahun itu sampai tahun 1960-an hampir semua negara merdeka. Kecuali nanti ada dua yang belakangan yaitu Afrika Selatan yang akhirnya juga berhasil merdeka zamannya Nelson Mandela. Nah yang tersisa dari semangat Bandung itu sebenarnya tinggal Palestina,” ungkap Anis.

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Sharm El-Sheikh di Mesir dinilai menjadi kelanjutan dari tradisi diplomasi Indonesia yang berpihak pada kemerdekaan dan keadilan.

Menurut Anis, partisipasi Indonesia dalam forum tersebut mempertegas posisi Indonesia di mata dunia.

Komentar