Ironis, Peraih Nobel Perdamaian 2025 Justru Dukung Penjajah Israel

INDONESIASKETSA.COM, Caracas – Di tengah ketegangan politik yang belum reda di Venezuela, nama Maria Corina Machado kembali menjadi sorotan dunia. Bukan hanya karena perannya sebagai oposisi paling vokal terhadap rezim Nicolas Maduro, tetapi juga karena pernyataan politik luar negeri yang kontroversial: jika ia memenangkan kursi kepresidenan, kedutaan besar Venezuela untuk Israel akan dipindahkan dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Hal itu ia utarakan dalam sebuah wawancara dengan media Israel, tak lama setelah menerima Hadiah Nobel Perdamaian sebuah penghargaan yang menandai pengakuan internasional atas kiprahnya dalam perjuangan politik damai.

“Kami akan menegaskan posisi kami di Timur Tengah,” ujarnya. “Yerusalem akan menjadi tempat kedutaan Venezuela di Israel.” Sebuah pernyataan yang bukan hanya simbolis, tetapi juga sarat makna politik global.

Machado tampaknya tak sekadar ingin membuka halaman baru dalam hubungan luar negeri negaranya. Ia berniat menulis ulang keseluruhan bab. Menurutnya, mempererat hubungan bilateral dengan Israel adalah langkah strategis sekaligus ideologis.

“Akan tiba waktunya, Venezuela dan Israel berdiri berdampingan sebagai mitra sejati,” ucapnya.

Pernyataan ini merupakan antitesis dari kebijakan yang diambil pemerintahan Hugo Chavez pada 2009, yang memutus total hubungan diplomatik dengan Israel sebagai bentuk kecaman atas agresi militer di Gaza kala itu. Bahkan kala itu, Caracas mengusir duta besar Israel, sebuah langkah yang belum pernah dibalik hingga hari ini.

Machado bukan hanya berbeda haluan, ia bergerak dalam spektrum politik yang kontras. Ia mendukung kebijakan luar negeri AS di era Donald Trump, termasuk pengerahan pasukan militer Amerika Serikat di wilayah Karibia yang sempat memicu kontroversi. Dalam wawancara sebelumnya dengan Fox News, ia juga menyatakan dukungan terbuka terhadap operasi militer Amerika yang menargetkan kapal-kapal pengangkut narkotika. Baginya, itu adalah upaya menyelamatkan nyawa.

“Ini bukan soal Venezuela saja,” ujarnya. “Ini tentang menyelamatkan orang-orang Amerika juga.”

Dalam narasinya, Maduro bukan sekadar lawan politik. Ia digambarkan sebagai sosok yang menjadi kepala jaringan narkotika dan terorisme transnasional yang mengancam stabilitas regional. Machado mengemas kritik politik menjadi narasi keamanan global.

Dengan pengaruh internasional yang kian besar dan retorika yang semakin berani, Machado tampaknya tengah membentuk ulang citra Venezuela di mata dunia. Bukan lagi sekadar negara yang terjebak dalam krisis, tapi calon pemain baru di arena geopolitik global.

Komentar