Dinilai Cemari Lingkungan, FPPL Indonesia Timur Gelar Aksi, Minta PT BMI Angkat Kaki Dari Taliabu

INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Front Pemuda Peduli Lingkungan (FPPL) Indonesia Timur menggelar aksi simbolik di depan Wisma 46, kantor pusat PT Bintani Megah Indah (BMI).

Dalam aksi demonstrasi tersebut, peserta aksi bersama-sama menggunakan kain untuk menutup kedua mata mereka sebagai bentuk protes terhadap PT Bintani Megah Indah (BMI).

Mereka menuding PT BMI selama ini sengaja menutup mata terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar area tambang.

Aksi ini merupakan respon terhadap aktivitas pertambangan biji besi oleh PT BMI yang diduga telah merampas ruang hidup masyarakat Taliabu.

Pasalnya, semenjak aktivitas pertambangan terjadi, pendapatan masyarakat menjadi menurun secara drastis.

Pada saat diwawancarai oleh rekan-rekan media, Koordinator aksi Rahmat Rahayaa menegaskan bahwa. “Aktivitas tambang ini diduga telah menyebabkan pencemaran lingkungan serius, dengan air sungai yang sebelumnya murni kini menjadi keruh dan tidak layak konsumsi. Kondisi ini dianggap sebagai ancaman nyata bagi masyarakat dan generasi mendatang. Selain itu, sektor pertanian dan hutan sekitar yang merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat setempat juga mengalami kerusakan masif.” Katanya

Atas dasar beragam persoalan ini, FPPL Indonesia Timur menyatakan tuntutan tunggal mereka dengan tegas: PT Bintani Megah Indah harus hengkang dari Pulau Taliabu.

Koordinator aksi, Rahmat Rahayaa menyatakan bahwa tidak ada yang dapat menghentikan gerakan mereka. Rahmat, yang akrab disapa RR, menegaskan bahwa gerakan mereka akan terus berlanjut hingga PT BMI angkat kaki dari Bumi Taliabu.

Lebih lanjut, ia mengumumkan bahwa FPPL akan menggelar aksi demonstrasi lanjutan pada Selasa, 25 Juni mendatang dengan jumlah massa yang lebih banyak dan lebih militan.

Aksi tersebut tidak hanya akan dilakukan di depan kantor PT BMI, tetapi juga di Kementerian ESDM.

Mereka akan mendesak kementerian untuk segera membentuk tim investigasi khusus ke Todoli, Lede, dan Tolong, daerah aktivitas pertambangan.

FPPL Indonesia Timur juga siap berkolaborasi dengan tim investigasi ESDM untuk mempermudah kerja mereka.

Lebih lanjut, RR mengajak kepada setiap aktivis lingkungan untuk bersama-sama mengangkat persoalan ini dan mendorongnya sebagai isu nasional. “Kami mengajak semua pihak untuk peduli dan bertindak demi menyelamatkan lingkungan kita,” tutupnya

Komentar