INDONESIASKETSA.COM, Dunia pendidikan menjadi salah satu unsur utama dalam membangun peradaban bangsa. Sebuah bangsa menjadi sangat diperhitungkan manakala dalam hal pendidikannya unggul. Bahkan pendidikan menjadi salah satu faktor utama sebuah bangsa dikatakan maju dan tidaknya. Indonesia dalam hal pendidikan, masih sangat jauh terbelakang dari Filipina, apalagi dari Negara-negara eropa.
Sejauh yang penulis lihat bahwa Indonesia lebih memilih untuk fokus pada upaya membangun perekonomian nasional dibandingkan pendiidkan. Ekonomi memang penting, tapi pendidikan jauh lebih penting. Sebab, dunia pendidikan menjadi ruh dari segala proses peradaban di dunia ini.
Dunia pendidikan dengan segala persoalannya yang kompleks, perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak. Namun, sayangnya perhatian dari pemerintah khususnya, untuk dunia pendidikan hanya datang dari sisi perbaikan kurikulum dan kurikulum saja. Sejauh yang penulis perhatikan, kurikulum manapun yang coba ditawarkan dalam proses pendidikan, belum sepenuhnya mampu menjadi solusi atas problematika yang ada. Sebut saja tentang akhlak dan moral. Jika saja kita dapat melihat lebih jauh, bahwa akhlak dan moral ini menjadi persoalan yang mesti menjadi fokus perbaikan dari sisi pendidikan. Inilah penyebab sehingga masih banyak kita melihat adanya peserta didik yang terlibat dalam persoalan-persoalan amoral yang tidak semestinya.
Ini menandakan, bahwa pendidikan dan terlebih lagi kurikulum sebagai sebuah kitab rujukan proses pembelajaran, masih belum mampu menciptakan peserta didik yang bermoral. Sebab sejauh yang saya pahami tentang kurikulum yang ada, hanya sebagian kecil menyentuh aspek akhlak dan moralnya. Jika sekolah dan lembaga pendidikan lainya tidak mampu menciptakan akhlak dan moral peserta didik, maka impian untuk membentuk suatu bangsa pun akan menjadi mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
Kurikulum, lebih menitik beratkan pada persoalan aspek kognitifnya saja. Meskipun aspek psikomotorik dan afektifnya juga ikut di dalamnya. Namun, aspek kognitif atau pengetahuan disini menjadi indikator utama untuk menilai ketercapaian sebuah proses pembelajaran. Jika alasan dari fokusnya sebuah kurikulum terhadap aspek pengetahuan ini adalah untuk menjemput peluang kerja ke depannya, maka bagi saya secara pribadi ini adalah langkah yang salah, sebab dunia kerja adalah dunia yang menjadikan pengetahuan hanya sebagai prasyarat terakhir dari sekian syarat yang ada.
Justru yang kita lihat dalam kenyataanya, sikap dan keterampilanlah yang justru menjadi poin utamanya. Argumentasi di atas diajukan jika kita melihat pendidikan dari sisi nilai profitnya. Akan beda lagi jika kita memandang dunia pendidikan sebagai sebuah jalan untuk membentuk kepribadian manusia yang seutuhnya atau yang dalam istilah Paulo Freire adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Barangkali kita perlu belajar pada Paolo Freire, tentang bagaimana pendidikan yang sebenarnya.
Penulis: Novi Anggreani
Praktisi Pendidikan







Komentar