INDONESIASKETSA.COM, Cilacap – Seorang warga yang berhasil lolos dari terjangan longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Cilacap, kembali mengisahkan malam yang nyaris merenggut nyawanya. Tanah dari bukit setinggi kurang lebih 60 meter tiba-tiba meluruh dan melesat turun, menyapu dua kawasan permukiman, Tarukahan dan Cibuyut.
Ia mengingat, sekitar pukul delapan malam pada hari Kamis, kegiatan doa bersama rutin baru saja usai. Seperti lazimnya malam Jumat, ia pulang dari tahlilan bersama warga setempat. Namun baru beberapa langkah meninggalkan lokasi acara, sebuah suara bergemuruh, panjang, berat, dan tidak biasa memecah keheningan. Saat itu ia baru menyadari bahwa sesuatu yang sangat besar sedang bergerak dari arah perbukitan.
“Saya berlari ke rumah dan meminta kepada istri dan anak saya untuk keluar rumah,”ujar Daryana.
Baru berteriak-teriak, ada lumpur yang longsor dan membawa dirinya. Lumpur merendam setengah badannya, dari perut sampai kaki. “Saya terseret sampai 15 meter. Saya tidak bisa bergerak, hanya mengikuti lumpur yang terus bergerak. Saya tidak sempat menyelamatkan anak istri karena tidak mungkin,” ungkapnya.
Daryana pun berduka karena anaknya, Maya, dan istrinya, Yuni, meninggal dunia dalam peristiwa itu. Satu korban tewas lainnya adalah Juli. Total ada tiga korban tewas yang telah ditemukan tim Basarnas Cilacap.Sementara Imam Faedi, warga dusun tempat yang rumahnya tertimbun longsoran, berhasil menyelamatkan diri. Ia menceritakan detik-detik peristiwa memilukan tersebut.
Sekitar pukul 20.00 WIB, Imam sedang duduk bersama tiga rekannya di depan rumah sambil menikmati kopi. “Waktu itu hujan hanya gerimis. Tiba-tiba ada suara gemuruh seperti pesawat. Saya berdiri, lihat ke depan seperti gumpalan asap. Lalu terlihat kayu seperti beterbangan, dan di belakangnya tanah,” ujar Imam.
Imam menegaskan bahwa apa yang ia lihat benar-benar terjadi di depan matanya. “Yang terakhir itu kayak ular lagi berenang di kali, goyang, set, jess. Tanah sudah labil dan berhenti di sini. Tiga teman saya langsung lari membantu menyelamatkan korban,” katanya.
Imam yang teringat dua anaknya berada di dalam rumah segera berlari pulang. Saat tiba, rumahnya sudah terdorong material tanah, kayu, dan batu. Ia lega, anak bungsunya, Gatra Wisesa Hari Setiawan yang duduk di kelas 4 SD ditemukan dalam keadaan selamat namun syok. Sementara sang kakak, Fenova Hari Setiawan, 19, berhasil menyelamatkan diri sendiri.
Menurut Imam, kondisi gelap dan tanah yang masih labil membuat proses pertolongan berlangsung sulit. Warga berlarian menyelamatkan diri masing-masing. Begitu tanah mulai berhenti bergerak, barulah teriakan minta tolong terdengar dari berbagai arah.
Menurutnya, longsor berasal dari ketinggian dan bergerak cepat menuju pemukiman. “Tanah yang di atas itu sudah turun kurang lebih 2 meter. Jarak kiriman tanah itu dari sana sekitar 2 kilometer. Tadinya diprediksi longsor turun ke arah lain, ke daerah Cikuyut. Warga di sana bahkan sudah diminta ngungsi,” terangnya.
Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap Taryo mengatakan masih ada 20 warga yang dilaporkan tertimbun longsoran. “Kami akan mengerahkan alat berat untuk mempercepat evakuasi. Hari ini ada tiga alat berat yang bekerja,” katanya.
Sedangkan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logsitik BPBD Cilacap Budi Setyawan mengatakan, longsor dipicu hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis sore dan kondisi kontur tanah yang labil. “Material tanah tebing kemudian ambruk dan menimbun permukiman warga sekitar pukul 20.00 WIB,” tambahnya.







Komentar