INDONESIASKETSA.COM, Pengejaran terhadap Pangeran Diponegoro menjadi mimpi buruk tersendiri bagi pasukan kolonial Belanda. Perlawanan yang dilancarkan oleh Diponegoro dan pasukannya selama Perang Jawa benar-benar menyulitkan lawan. Upaya penangkapan berubah menjadi pengejaran panjang yang menuntut pengorbanan besar.
Demi menemukan jejak sang pangeran, Belanda mengerahkan ribuan serdadu. Informasi yang mereka dapatkan berasal dari jaringan intelijen lokal, meskipun sering kali data yang diterima saling bertentangan dan tidak pasti. Keberadaan Diponegoro seolah menjadi teka-teki yang tak mudah dipecahkan.
Pada Oktober 1825, Mayor Sollewijn ditugaskan menyerang wilayah Kutagede, yang diduga menjadi tempat persembunyian Diponegoro. Namun, serangan tersebut gagal membuahkan hasil karena keberadaan sang pangeran tak terlacak.
Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 24 Oktober, Jenderal de Kock menerima kabar bahwa Diponegoro berada di tepi barat Sungai Bedog. Informasi ini memicu pergerakan militer besar-besaran untuk menangkapnya.
Tiga kolone pasukan disiapkan dan dikerahkan dari wilayah Bantul. Kolone pertama dipimpin oleh Mayor Sollewijn, kolone kedua di bawah Kapten van de Polder, sementara kolone ketiga yang menjadi pusat kekuatan dipimpin langsung oleh Jenderal de Kock.
Berdasarkan catatan dalam buku Sejarah Nasional Indonesia IV, kolone pertama yang menuju Desa Jeblok mendapat perlawanan sengit dari laskar Diponegoro. Sementara itu, kolone kedua dan ketiga bergerak menuju wilayah Kasihan, tempat Diponegoro memusatkan kekuatannya.
Pertempuran berdarah tak terhindarkan. Pasukan Diponegoro menunjukkan keberanian luar biasa, tetap bertempur meski dihujani tembakan meriam. Di pihak Mandung, tercatat 40 prajurit gugur. Meski demikian, Diponegoro berhasil meloloskan diri dan bergerak menuju Gegulu di pinggiran Sungai Progo.
Mayor Sollewijn berhasil tiba di Gegulu, namun desa itu telah kosong dan dibakar, meninggalkan jejak kehancuran. Pengejaran berlanjut ke desa Kaliwatang, tempat pasukan Diponegoro kembali menghadang. Kali ini, 40 pejuang Diponegoro tewas dalam pertempuran sengit tersebut.
Meski gagal menangkap tokoh utama perlawanan, operasi yang dipimpin de Kock setidaknya berhasil menguasai beberapa basis penting milik Diponegoro di wilayah sekitar Yogyakarta. Setelah de Kock dipanggil ke Batavia, tongkat komando diserahkan kepada Jenderal Mayor van Geen. Namun, meski operasi lanjutan dilakukan hingga ke desa Ngrajeg dan Jumeneng dengan pola yang sama, Diponegoro kembali lolos berkat perlindungan dari pasukan Mandung di bawah pimpinan Tumenggung Mertoloyo.







Komentar