INDONESIASKETSA.COM, Tel Aviv – Ketegangan memuncak di Timur Tengah setelah Israel secara mengejutkan mengalami kekalahan strategis besar dalam konflik bersenjata melawan Iran. Dalam waktu kurang dari dua minggu, Iran berhasil melumpuhkan sejumlah infrastruktur militer dan fasilitas vital Israel, memaksa pemerintah Tel Aviv mengajukan permintaan gencatan senjata melalui mediator internasional.
Serangan balasan Iran, yang dimulai setelah serangan udara Israel menghantam wilayah Teheran awal Juni, berkembang menjadi operasi militer masif dengan kode “Janji Sejati 3”. Dalam operasi ini, Iran meluncurkan rudal balistik jarak menengah dan drone kamikaze yang menghantam beberapa kota utama Israel, termasuk Tel Aviv, Haifa, dan Beersheba. Banyak instalasi militer dan pusat kendali komunikasi dilaporkan hancur atau lumpuh total.
Menurut sumber diplomatik di PBB, Israel melalui pihak ketiga menyampaikan keinginannya untuk segera mengakhiri konflik. “Israel kini berada di posisi defensif, kehabisan opsi militer yang efektif. Mereka secara aktif meminta peran mediasi dari Amerika Serikat dan Qatar,” ujar seorang diplomat yang enggan disebut namanya.
Sementara itu, Iran menyatakan tidak akan menghentikan operasi militer selama Israel belum menghentikan agresinya terhadap Iran. Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan, perang ini adalah respon atas pelanggaran kedaulatan yang dilakukan Israel terhadap Iran.
Di dalam negeri, opini warga Israel terbelah, banyak diantara mereka yang menuntut Netanyahu segera mengakhiri perang dengan Iran, desakan ini muncul setelah warga melihat langsung dampak serangan Iran yang mengahancurkan berbagai wilayah Israel. Banyak analis menyebut kekalahan ini sebagai pukulan telak bagi reputasi militer Israel yang selama ini dianggap unggul di kawasan.
Meski ketegangan masih terasa, gencatan senjata akhirnya berhasil dicapai pada Selasa malam (24/6), setelah perundingan intensif yang dimediasi oleh Qatar. Kedua belah pihak sepakat menghentikan serangan militer. Resolusi damai sementara ini disambut dengan lega oleh masyarakat sipil, meskipun banyak pihak menilai situasi masih rentan dan berpotensi kembali memanas jika tidak disertai langkah diplomatik lanjutan.







Komentar