INDONESIASKETSA.COM, Ankara – Turkiye yang saat ini berada di bawah kekuasaan Presiden Recep Tayyip Erdogan dikenal vokal menentang penjajah Israel, dalam berbagai forum dalam negeri maupun internasional Turkiye selalu melontarkan kecaman terhadap penjajah Israel, sikap Turkiye terhadap penjajah Israel semakin keras saat zionis melancarkan serangan ke Palestina dan membunuh puluhan ribu warga sipil Palestina, tindakan genosida yang dikutuk dunia internasional. Dibalik sikap keras Turkiye tersebut, banyak yang tidak tahu bahwa hingga kini Turkiye masih mengirim minyak mentah ke zionis yang digunakan penjajah sebagai bahan bakar mesin perang mereka untuk membantai warga Palestina.
Sebuah citra satelit menunjukkan Turki masih terus mengirimkan minyak mentah ke Israel meskipun pemerintah negara tersebut telah embargo perdagangan sejak Mei 2024 sebagai respons atas kejahatan perang Israel ke Gaza.
Sekelompok peneliti sekaligus aktivis yang menamai dirinya “Stop Fuelling Genocide”, mengumpulkan data pengiriman dan citra satelit dengan dukungan Progressive Internasional, menunjukkan bahwa sebuah kapal tanker mengirimkan minyak mentah langsung dari pelabuhan Ceyhan di Turki ke sebuah jaringan pipa dekat Ashkelon di Israel.
Pelabuhan tersebut menjadi pemberhentian terakhir dari jalur pipa Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC), yang mengangkut minyak mentah dari Azerbaijan. Minyak tersebut kemudian dikirim dari Terminal Heydar Aliyev di Ceyhan ke Israel.
Laporan investigasi dari Embargo Energi untuk Palestina mengungkap bagaimana minyak mentah yang dipasok oleh jaringan pipa BTC diekstraksi dan digunakan sebagai bahan bakar jet tempur, tank, dan kendaraan militer Israel untuk melakukan Genosida di Gaza.
Pada 28 Oktober, para peneliti tersebut mendapati kapal tanker Seavigour tiba di Haydar Aliyev di Cehyan dengan muatan yang lebih berat. Mereka juga mendapati bahwa kapal tersebut mematikan dan menyalakan citra satelit di beberapa titik lokasi.
“Bukti tersebut hanyalah puncak gunung es dalam kaitannya dengan perdagangan yang sedang berlangsung antara Israel dan Turki,” kata Felix, seorang peneliti dari Stop Fuelling Genocide kepada Middle East Eye (MEE) menggunakan nama samaran, seperti dikutip pada Jumat (29/11).







Komentar