Saatnya Berbagi Peran Secara Adil: Pendidik, Orang Tua, dan Pemerintah

INDONESIASKETSA.COM, Dalam dunia pendidikan, penting bagi seorang pendidik untuk memiliki pengetahuan atau minimal memahami ilmu psikologi. Sebab, untuk menjadi seorang pendidik selain memiliki kecakapan ilmu, juga harus memiliki kecerdasan dalam membaca dinamika mental anak. Sepanjang perjalanan proses pembelajaran selalu ada hal unik sekaligus menarik, entah itu tentang dinamika perkembangan peserta didik, tindakannya atau kualitas berpikirnya. Kesemua hal ini menjadi sangat penting untuk didudukkan bersama dalam proses penyelesaiannya. Peserta didik dengan semua kompleksitas yang mereka miliki, menjadi dunia yang mesti diselami. Di dalamnya terdapat begitu banyak pelajaran berharga yang menanti untuk dieksplor dan direspon. Sebab, mereka adalah yang sebenar-benarnya filosof sejati itu, keingintahuan mereka yang banyak, pertanyaan yang mereka ajukan dan kenakalan mereka yang luar biasa, ialah bagian terkecil dari rangkaian pelajaran tentang mereka. terlepas dari semua yang mereka miliki, pendidik senantiasa diperhadapkan dengan problematika yang melingkupi ruang itu-itu saja. Tentang mereka, dengan segala kompleksitasnya.

Kemendikbud, sebagai sebuah lembaga yang menggawangi proses pendidikan dan pelaksana pendidikan di Indonesia menghendaki terbentuknya sebuah proses pendidikan yang berkarakter. Pembentukan watak dan kepribadian yang berakhlak adalah tujuan yang hendak dicapai dan diciptakan oleh pendidikan kita. Namun seolah bertolak belakang dengan cita-citanya, justru dunia pendidikan kita menampakan wajah yang suram lagi galau. Banyak potret kurang mendidik justru lahir dari dunia pendidikan itu sendiri.

Moral, yang mestinya melahirkan akhlak yang baik bagi peserta didik, justru menjadi hal yang mulai menampakan kejenuhannya. Hilangnya moral dan akhlak peserta didik merupakan salah satu bentuk kegagalan pendidikan kita. Betapa, video yang beredar beberapa bulan lalu yang mempertontonkan seorang pelajar SMA yang menantang gurunya lantaran hanya karena diingatkan agar seragam sekolah dirapikan dan tidak di keluarkan dari celananya, juga kejadian yang sama terjadi pada salah seorang guru SMA di Kabupaten Bima yang di hajar oleh siswanya lantaran ditegur agar tidak merokok di kelas.
Berbagai kejadian ini merupakan sebuah bentuk catatnya pendidikan kita. Tentunya fenomena ini, perlu dipelajari secara bersama oleh segenap pelaku pendidikan, baik itu pemerintah sebagai pemangku kebijakan maupun guru sebagai pendidik. Pendidik dalam hal ini guru mesti melakukan evaluasi secara mandiri maupun kolektif, sharing bersama dengan kelompok atau penggiat pendidikan untuk mencari tahu problem atau penyebab lahirnya tindakan-tindakan yang tidak etik dari kasus-kasus di atas juga untuk mengukur sejauh mana kualitas dan keterampilan yang dimiliki agar menjadi solusi terbaik bagi pertumbuhan pendidikan ke depannya. Sebab, menjadi pendidik merupakan tanggung jawab yang cukup berat dengan beban kerja yang banyak, pun administrasi yang tidak kalah melelahkan.

Menjadi pendidik artinya menjadi teman, orang tua, orang dewasa sebagai panutan dan solusi bagi persoalan yang dihadapi peserta didik. Untuk itu, maka pendidik harus selalu mengupgrade diri dan pengetahuan agar sejalan dengan dinamika kekinian yang ada. Semisal tentang bagaimana perkembangan yang harus dipahami dari Gen Z ( 5-24 tahun) yang rata-rata masih menduduki bangku sekolah. Pendekatan yang dilakukan kepada mereka harusnya sesuai dengan eranya, tidak bisa memakai era sebelumnya karena memang mereka lahir di jaman yang berbeda, tentunya dengan tantangan dan situasi yang berbeda.
Selain pendidik, orang tua juga memiliki peran sangat penting dalam mengontrol tumbuh kembang anak di rumah dan dilingkungan tempat tinggal. Peletakan pendidikan yang pertama bermula dari rumah. Sebab di sanalah proses pembentukan karakter di mulai.

Kadang kala bahkan seringkali para orang tua kecolongan dalam membentuk karakter anaknya, dengan beranggapan bahwa sekolah lebih punya tanggung jawab itu. Sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pendidik selaku pelaku pendidikan hanyalah perantara. Oleh sebab itu, orang tua harus proaktif dalam mengontrol dan berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk memastikan proses tumbuh kembang anak. Tidak serta merta menjadikan sekolah sebagai lembaga tempat titipan belaka.

Koordinasi yang baik antara pihak sekolah dengan orang tua selaku wali murid adalah satu keharusan yang tidak boleh diabaikan.
Adapun aturan, capaian yang hendak dijalankan oleh lembaga sekolah harus terkomunikasikan dengan baik kepada orang tua dan orang tua pun sudah harus mengetahui dan memahami aturan-aturan yang berlaku dalam sebuah lembaga pendidikan yang dikehendaki. Antara orang tua dan lembaga pendidikan mesti menyatukan pandangan agar tercapai harapan dan keinginan bersama dalam mengawal proses tumbuh kembang peserta didik baik di rumah maupun di lembaga pendidikan.

Seringnya muncul kasus-kasus orang tua merasa tidak terlalu percaya pada lembaga pendidikan atau lembaga pendidikan merasa susah untuk bisa berkomunikasi dengan para orang tua, karena tidak adanya koordinasi dan komunikasi yang intens diantara kedua pihak. Sebagai seorang yang juga berada di dunia pendidikan, seringkali juga mendapati orang tua yang kadang terlalu cuek dengan kondisi dan perkembangan anak. Kurang peka dengan kondisi anak, tidak melakukan pengontrolan yang intens dan juga jarang berkomunikasi sehingga memicu lahirnya persoalan-persoalan yang tidak diharapkan bersama.

Dua kasus yang disebutkan di atas, bukan tidak mungkin sedikit banyaknya orang tua atau lembaga pendidikan atau bahkan guru selaku pendidik punya andil didalamnya. Orang tua barangkali tidak mampu mengkomunikasikan dengan baik bagaimana seharusnya anak-anak diajarkan untuk punya akhlak terhadap orang yang dituakan sedari dini, atau bisa jadi orang tua kurang perhatian terhadap anak. Lalu pendidik dalam hal ini guru, perlu mencari tahu cara, atau alasan dibalik perilaku yang siswa tanpa harus menghakimi terlebih dahulu.
Selain pendidik dan orang tua, pemerintah adalah ujung tombak keberlangsungan proses pendidikan. Pemerintah harus hadir dan menempatkan diri pada posisi yang menggawangi proses pendidikan. Sebab dari sanalah, segala aturan secara tertulis itu di buat.

Pemerintah harus melihat pendidikan sebagai proses panjang dalam memajukan peradaban bangsa. Pergantian kurikulum atau pergantian nama kurikulum haruslah dikaji dengan serius dengan melihat situasi dan dinamika yang ada. Bukan hanya sekedar proses untuk menghabiskan biaya proyek, yang akan dinikmati oleh segelintir orang saja. Perubahan kurikulum dari kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka belum mampu membawa wajah pendidikan kita menjadi jauh lebih baik. Kata merdeka ini dijadikan dalih yang kadang kala disalahartikan, bahwa anak-anak bebas naik kelas meskipun tidak sekolah berbulan-bulan, anak-anak bebas naik kelas jika tidak mengikuti proses KBM, anak-anak bebas bertutur kata tidak baik, asalkan ada proses ke arah yang baik di dalamnya.

Biaya perbaiakan dan perubahan kurikulum sangat mahal, dengan harapan proses pendidkan dan genarasi yang dihasilakn adalah generasi unggul. Namun, saya masih sangat percaya bahwa seepik apapun kurikulum jika pendidiknya belum terampil dan belum tercerahkan maka sama saja. Yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan saat ini adalah pelatihan-pelatihan yang berkelanjutan yang diberikan kepada seluruh pendidik, sebagai upaya untuk meningkatkan secara terus menerus pengetahuan, keterampilan dan kecapan diri. Meskipun, kita tahu bahwa untuk menjadi berkualitas, bisa dimana dan kapan saja. Namun jika, program pelatihan itu diagendakan oleh pemerintah secara berkelanjutan maka kita akan bisa menghasilkan para pendidik yang jauh lebih berkualitas. Bukan hanya sekedar pelatihan kurikulum dan cara membuat RPP/Modul dan administrasi beserta tetek bengeknya.

Semua peradaban yang pernah dengan jayanya, tidak pernah kita temukan dalam sejarah manapun bahwa ia lahir dari sebuah bangsa dengan tingkat pendidikan rendah, pendidik yang biasa saja dan generasi yang beradab. Semua generasinya adalah generasi yang memiliki akhlak dan moral yang baik, menjadikan ilmu sebagai jalan kesucian dalam menegakan peradaban yang bermartabat, dan hal itu tentunya tidak terlepas dari pendidik dan juga pemerintah sebagai pemangku kebijakan yang memiliki kekuasaan penuh untuk mengontrol.
Untuk membentuk karakter dan moral dalam dunia pendidikan memnag tidak mudah, sebab yang tengah dididik adalah manusia, yang secara alamiah dan naluri kemanusiaan selalu ada faktor pendukung baik dari dalam dan luar dirinya. Faktor-faktor tersebut adalah diri mereke sendiri, orang tua sebagai pendamping, pendidik sebagai perantara arang tua, dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Hal itulah yang mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Mengingat, kematangan berpikir peserta didik khususnya yang masih menduduki bangku SMP dan tidak menutup kemungkinan juga yang setingkat SMA/SMK pun masih sangat rendah dan rentan terjangkit virus ikut-ikutan. Oleh karena itu, penting bagi segenap orang tua, aparatur sekolah dan pendidik untuk senantiasa melakukan penanaman nilai-nilai akhlakul karimah pada peserta didik. Pendidikan kita saat ini masih minim akhlak, minim karakter dan kesadaran. Kedua tokoh utama dalam pendidikan, yakni pendidik dan peserta didik merupakan sosok yang mesti sama-sama dikualitaskan. Terlebih lagi pendidik, sebagai agen dalam melakukan transformasi pengetahuan, harus memiliki kualitas yang lebih. Sebab, posisi pendidik adalah figur yang senantiasa dicontoh. Penting bagi pendidik untuk tidak sekedar memberikan transferan pengetahuan saja, melainkan juga mesti cakap dalam membaca dinamika psikis dan karakter peserta didik.

Dalam membentuk karakter peserta didik, dalam ilmu psikologi ternyata butuh 21 kali perlakuan untuk dapat membangun karakter tersebut dan dibutuhkan 100 kali perlakuan untuk dapat merubah perilaku atau karakter itu. Betapa karater menjadi sangat penting untuk dikawal dalam setiap interaksi yang ada. Lalu sudah sejauh mana orang tua, pendidik, sekolah dan lembaga pendidikan lainnya mengupayakan sebuah proses pembentukan dan perbaikan akhlak bagi peserta didiknya? Ini menjadi tugas dan PR kita bersama.

Di hari Pendidikan Nasional ini merupakan momentum yang paling tepat untuk merefleksi kembali kinerja dan kualitas masing-masing. Seperti orang tua, pendidik memiliki tanggung jawab moril yang besar dalam mengantarkan peserta didik ke depan pintu gerbang keberhasilan. Maka penting bagi seorang pendidik untuk senantiasa mengkualitaskan dirinya dan lebih penting lagi pemerintah mengambil bagian terdepan dalam upaya mencerdaskan, menyejahterakan pendidik dengan mengadakan pelatihan-pelatihan terkait isu-isu pendidikan dan lainya. Oleh karenanya, mari sama-sama kita evaluasi dan tingkatkan kembali kualitas kita, agar menjadi pendidik yang benar-benar bisa menjadi figur bagi peserta didik.
Selamat Hari Pendidikan Nasioanal

Penulis: Novi Anggreani
Praktisi Pendidikan

Komentar