INDONESIASKETSA.COM – Seperti daerah lain di Indonesia, Papua juga kental akan adat istiadat turun temurun serta masih melestarikan tradisinya hingga sekarang. Sebagai salah satu provinsi paling besar yang ada di Indonesia dan terletak di wilayah timur Indonesia, Papua tidak hanya memiliki warisan alam yang melimpah, Papua juga kaya akan kebudayaan serta tradisinya. berikut beberapa tradisi Papua yang masih lestari hingga sekarang:
Upacara Kematian Suku Asmat
Upacara adat Papua yang cukup dikenal adalah upacara kematian oleh Suku Asmat. Suku Asmat merupakan salah satu suku yang memiliki populasi terbesar di Papua. Selain sebagai suku terbesar, Suku Asmat juga memiliki beberapa ritual atau upacara-upacara penting yang biasa dilakukan dan salah satunya adalah upacara kematian Suku Asmat.
Masyarakat Suku Asmat, biasanya tidak mengubur mayat dari anggota suku yang telah meninggal dunia. Mereka biasanya meletakan mayat tersebut di atas perahu lesung dengan dibekali sagu, lalu mayat tersebut dibiarkan mengalir ke laut membiarkan mayat tersebut berada di atas anyaman bambu hingga akhirnya membusuk.
Setelah mayat yang dibiarkan itu menjadi tulang belulang, barulah masyarakat Suku Asmat akan menyimpannya di atas pokok kayu. Sedangkan tengkorak dari mayat tersebut akan dijadikan sebagai bantal oleh anggota keluarganya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kasih sayang, cinta dari anggota keluarga yang ditinggalkan.
Upacara kematian dilakukan oleh masyarakat Suku Asmat, karena masyarakat Asmat percaya bahwa kematian bukanlah suatu hal yang alamiah, melainkan sebagai penanda adanya roh jahat yang mengganggu. Oleh karena itu, ketika ada seseorang yang sakit, maka warga Asmat akan membuat pagar dari pohon dahan nipah.
Pohon dari dahan nipah ini bertujuan untuk mengusir roh jahat yang berkeliaran di sekitar orang sakit tersebut dan tidak mendekati orang tersebut. Ketika orang tersebut, sakit maka orang-orang hanya akan berdiam dan berkerumun di sekelilingnya tanpa memberi obat atau makan. Barulah setelah orang yang sakit tersebut meninggal, masyarakat Suku Asmat akan berebutan untuk memeluk mayat tersebut dan keluar menggulingkan badannya di lumpur.
Ero Era Tu Ura
Upacara adat Papua, tindik telinga atau disebut pula dengan mam Ero Era Tu Ura merupakan upacara adat yang dilakukan oleh anak-anak yang berumur tiga hingga lima tahun untuk mendidik telinga mereka.
Upacara ini akan dilaksanakan serta dipimpin oleh seorang dukun yang bernama Aebe Siewi dan dihadiri oleh sanak keluarga dari anak yang akan ditindik sekaligus para tetangga.
Anak yang akan menjalani upacara tindik telinga ini nantinya akan duduk di tikar dan dikelilingi oleh anak-anak lain yang diundang. Lalu, kedua telinga anak tersebut akan ditindik dengan menggunakan alat khusus.
Upacara Ero Era Tu Ura dilaksanakan untuk menjaga telinga si anak. Karena masyarakat Papua percaya bahwa telinga adalah salah satu alat pendengar yang harus dipelihara. Masyarakat Papua juga berharap, agar anak yang telah mendapatkan tindik telinga selalu mendengarkan suara yang baik dan tidak yang buruk.
Nasu Palek
Upacara adat Papua yang satu ini dinilai cukup ekstrim. Upacara adat Nasu Palek merupakan sebuah tradisi mengiris telinga yang dilakukan oleh masyarakat dari Suku Dani.
Tradisi Nasu Palek dilakukan sebagai wujud dari rasa duka cita atau sedih ketika ada seorang anggota keluarga yang meninggal dunia. Bagi masyarakat Suku Dani, setiap irisan telinga yang berkurang adalah sebuah bentuk penghormatan pada ibu, ayah dan saudara yang meninggal dunia.







Komentar