Program Cerdas Finansial Desa, Kader Posyandu Dramaga Dibekali Kemampuan Kelola Keuangan Keluarga

INDONESIASKETSA.COM, Bogor – Penguatan ekonomi keluarga di wilayah pedesaan membutuhkan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim pengabdian masyarakat Program Studi Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak (IKPA), Sekolah Pascasarjana, menghadirkan program edukasi bertajuk Cerdas Finansial Desa di RW Setu Leutik, Desa Dramaga, Kabupaten Bogor.

Program ini dirancang untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya dalam mengelola pendapatan, mengendalikan pengeluaran, membangun kebiasaan menabung, serta mengantisipasi risiko keuangan rumah tangga.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdi yang terdiri dari Annisaturradiah, Nadhifa, Rahmawati Rahayu, dan Siti Annisa, di bawah arahan Prof. Dr. Ir. Lilik Noor Yulianti, M.F.S.A.

“Kader Posyandu menjadi kelompok sasaran utama dalam kegiatan ini. Mereka dipilih karena memiliki kedekatan dengan masyarakat dan berperan penting dalam kehidupan sosial desa,” ujar Prof. Lilik Noor, dalam keterangan tertulis yang diterima indonesiasketsa.com, Minggu (1/11).

Melalui kader, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga lain sehingga manfaat program menjangkau lebih banyak warga.

“Edukasi ini dilatarbelakangi sejumlah persoalan ekonomi yang masih dihadapi keluarga pedesaan,” tambahnya.

Ia melanjutkan, antara lain yaitu ketergantungan terhadap pinjaman informal dengan biaya tinggi, belum terbentuknya kebiasaan menyiapkan dana darurat, serta meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital tanpa disertai pemahaman yang cukup mengenai risiko.

“Atas dasar persoalan tersebut, materi ini diberikan melalui tiga kali pertemuan dengan pembahasan yang saling berkesinambungan,” terangnya.

Pada sesi awal, peserta diperkenalkan pada konsep dasar keuangan keluarga, termasuk cara membedakan kebutuhan dan keinginan, mengenali sumber pendapatan, mencatat pengeluaran, hingga mengidentifikasi kebocoran keuangan yang kerap tidak disadari atau dikenal dengan istilah bocor alus.

Materi kemudian dilanjutkan dengan teknik menabung dan strategi mengatur keuangan agar keluarga tidak terjebak dalam pola utang untuk menutup utang sebelumnya atau gali lubang tutup lubang.

“Sebagai tindak lanjut, peserta diajak menyusun kartu komitmen selama 30 hari,” kata Lilik.

Tim juga membentuk Cerdas Finansial Desa (CFD) sebagai kelompok fasilitator yang diharapkan dapat menjaga keberlanjutan edukasi di lingkungan masyarakat.

Agar mudah diterapkan, seluruh materi disusun dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi warga setempat.

Tim menyediakan modul interaktif, buku saku praktis, serta bahan sosialisasi yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran secara berkelanjutan.

Koordinator tim, Nadhifa, mengapresiasi keterbukaan masyarakat dan perangkat lingkungan RW Setu Leutik selama program berlangsung.

“Kami berharap pengetahuan yang dibagikan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam pengelolaan keuangan sehari-hari,” katanya.

Hal senada disampaikan anggota tim, Siti Annisa Aditianingsih, menurutnya program ini bisa menjadi salah satu pilot project yang menginspirasi daerah lain,” ucapnya.

Respons positif juga disampaikan Launy, salah seorang warga RW Setu Leutik.

“Alhamdulillah, dapat wawasan baru tentang cara mengatur keuangan rumah tangga setelah mengikuti seluruh rangkaian edukasi selama tiga hari berturut-turut,” ungkap Launy.

Melalui program tersebut, tim pengabdi berharap kader Posyandu dapat menjadi penggerak literasi keuangan di lingkungan masing-masing.

“Semoga bisa mendorong terbentuknya keluarga yang lebih mandiri, bijak dalam mengambil keputusan finansial, dan memiliki ketahanan ekonomi jangka panjang,” harapnya.

Komentar