Site icon indonesiasketsa.com

Dua Tahun Prabowo–Gibran: Antara Ambisi Mobilisasi Nasional dan Himpitan Realitas Ekonomi

INDONESIASKETSA.COM, Tepat dua tahun berjalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, wajah perjalanan kabinet menunjukkan gambaran yang sarat kontradiksi. Di satu sisi, pemerintah berupaya keras memperlihatkan ketegasan kepemimpinan melalui percepatan berbagai program unggulan berskala raksasa. Namun di sisi lain, bayang-bayang tekanan fiskal, penurunan daya beli masyarakat, hingga menguatnya kecenderungan sentralisasi kekuasaan menjadi catatan kritis yang menyelimuti ruang publik.

Langkah cepat pemerintah dalam mengeksekusi janji kampanye memang terlihat kentara, terutama pada perluasan skala program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta konsolidasi bantuan sosial. Di tengah lonjakan anggaran yang dialokasikan untuk membiayai agenda-agenda prioritas nasional ini, pemerintah berusaha menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan rakyat di tingkat akar rumput. Namun, di balik angka-angka penerima manfaat yang terus dipamerkan, realitas di lapangan mengungkapkan celah tata kelola yang cukup mendasar. Rangkaian persoalan operasional, mulai dari kendala rantai pasok hingga isu standar mutu pangan di sejumlah daerah, memperlihatkan bahwa mobilisasi program bernilai ratusan triliun rupiah tersebut sering kali mendahului kesiapan sistem pengawasan dan infrastruktur lokal.

Di sektor ekonomi dan kesejahteraan, retorika pertumbuhan tinggi harus berhadapan langsung dengan himpitan hidup harian yang dirasakan warga. Meskipun indikator inflasi umum dilaporkan terkendali, harga bahan-bahan pokok harian tetap merayap naik dan memukul kapasitas belanja kelompok menengah ke bawah. Pasar keuangan dan nilai tukar rupiah yang sempat mengalami tekanan di tengah ketidakpastian global turut memperberat iklim usaha domestik. Gelombang pemutusan hubungan kerja di industri manufaktur serta belum optimalnya penyerapan tenaga kerja di sektor formal kian mempertegas jurang antara janji penciptaan lapangan kerja dan kenyataan di lapangan. Penyesuaian alokasi anggaran pusat ke daerah juga memicu tekanan baru, di mana banyak pemerintah daerah kini berjuang mengatasi keterbatasan fiskal demi mempertahankan mutu layanan publik dasar.

Secara bersamaan, dinamika penegakan hukum dan konsolidasi politik menyisakan kekhawatiran tersendiri bagi penguatan demokrasi. Langkah tegas dalam penindakan sejumlah kasus korupsi bernilai besar memang berhasil meraih simpati publik. Namun, gaya tata kelola yang semakin sentralistis serta meluasnya peran personel berlatar belakang militer dan keamanan dalam urusan sipil serta birokrasi memperkuat kritik mengenai merosotnya prinsip civilian supremacy. Ruang partisipasi masyarakat sipil kerap kali terasa menyempit di tengah arus kebijakan nasional yang diputus secara cepat dari pusat. Sementara itu, pada isu ekologi, efektivitas penanganan bencana lingkungan dan komitmen transisi energi masih terus diuji oleh desakan kepentingan industri ekstraktif.

Genap dua tahun masa kepemimpinan ini, pemerintahan Prabowo–Gibran kini berdiri di persimpangan jalan yang krusial. Dukungan publik yang terbelah antara kepuasan atas bantuan sosial dan kekecewaan atas melambatnya perbaikan kualitas hidup, menjadi penanda bahwa pendekatan berbasis retorika dan eksekusi top-down mulai menemui batasnya. Tanpa adanya evaluasi mendasar terhadap efisiensi APBN, reformasi birokrasi yang benar-benar transparan, serta keterbukaan untuk mendengarkan kritik publik, ambisi besar untuk membawa Indonesia melesat berisiko terjebak menjadi beban pembangunan yang berkepanjangan.

Exit mobile version