Site icon indonesiasketsa.com

Kabut Asap Kebakaran Hutan Indonesia Paksa Sekolah Malaysia Tutup, Dua Juta Siswa Terdampak

Api membakar lahan di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Minggu (30/08). (Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

INDONESIASKETSA.COM, Kuala Lumpur — Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memicu krisis kabut asap lintas negara yang berdampak serius terhadap aktivitas masyarakat di Asia Tenggara. Di Malaysia, memburuknya kualitas udara memaksa sekolah-sekolah di sejumlah wilayah menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka demi melindungi kesehatan siswa dan tenaga pendidik.

Pada 9 Oktober 2026, pemerintah Malaysia menutup sekolah di Kuala Lumpur, Putrajaya, Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, serta Distrik Rompin di Pahang. Kebijakan tersebut diperkirakan berdampak terhadap sekitar dua juta siswa. Langkah ini diambil setelah kabut asap dari kebakaran di Indonesia membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia masuk kategori tidak sehat.

Direktur Jenderal Pendidikan Malaysia, Datuk Dr. Mohd Azam Ahmad, sebelumnya menyampaikan bahwa institusi pendidikan di wilayah dengan Indeks Pencemaran Udara atau Air Pollutant Index (API) di atas 180 harus ditutup. Penutupan juga diberlakukan apabila indeks berada di atas 150 selama tiga hari berturut-turut. Kegiatan belajar kemudian dialihkan ke pembelajaran dari rumah sesuai kemampuan dan kesiapan masing-masing sekolah.

Kabut Asap Menyebar dari Sumatra dan Kalimantan

Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Asap dari kebakaran hutan dan lahan gambut terbawa melintasi perbatasan dan memperburuk kualitas udara di negara-negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.

Laporan Reuters pada 15 Oktober 2026 menyebutkan bahwa kondisi cuaca kering yang diperburuk fenomena super-El Niño mempercepat penyebaran api. Lahan gambut menjadi salah satu tantangan utama karena api dapat membara di bawah permukaan tanah dan kembali muncul meskipun bagian permukaan terlihat telah padam.

Besarnya dampak kebakaran juga terlihat dari perbedaan estimasi luas lahan terbakar. Data resmi yang dikutip Reuters masih mencatat sekitar 202.000 hektare hingga Juli 2026. Sementara itu, kelompok lingkungan Auriga memperkirakan luas lahan terdampak mencapai lebih dari 637.000 hektare selama Januari–Agustus, sedangkan pemantau deforestasi Nusantara Atlas memperkirakan angkanya mendekati 900.000 hektare. Angka-angka tersebut berasal dari sumber dan periode penghitungan berbeda sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai satu angka resmi yang sama.

Dampak Kesehatan dan Pendidikan

Krisis kabut asap tidak hanya mengganggu kegiatan pendidikan, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan masyarakat. Reuters melaporkan bahwa hingga 13 Oktober 2026, terdapat 283.270 kasus gangguan pernapasan terkait kebakaran di tujuh provinsi Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan 113.336 kasus pada 9 September 2026.

Di Malaysia, penutupan sekolah juga menimbulkan persoalan lanjutan bagi keluarga. Sebagian orang tua harus mengatur ulang aktivitas kerja dan mendampingi anak belajar dari rumah. Keterbatasan perangkat digital dan akses internet turut menjadi tantangan bagi keluarga yang memiliki beberapa anak usia sekolah.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada kerusakan lingkungan di wilayah asalnya. Ketika asap melintasi batas negara, kesehatan masyarakat, keberlangsungan pendidikan, transportasi, dan aktivitas ekonomi di negara tetangga ikut terpengaruh.

Exit mobile version