INDONESIASKETSA.COM, Angin pagi bulan Oktober tahun 2026 ini berhembus lebih dingin dari biasanya. Bima, seorang siswa kelas dua SMP, sedang berdiri di depan lemari kayu tua di loteng rumah kakeknya. Hari ini adalah tanggal 1 Oktober. Sekolahnya akan mengadakan upacara bendera memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dan Bima ditugaskan sebagai pembawa baki.
Namun, ada yang mengganjal di pikiran Bima. Baginya, upacara hari ini hanyalah rutinitas tahunan. Berdiri di bawah terik matahari, mendengarkan pidato, dan menghafal sila-sila Pancasila yang sering kali terasa seperti mantra yang jauh dari realitas kehidupan remaja seusianya.
“Kakek selalu bilang, Pancasila itu bukan sekadar hafalan, Bim,” gumam Bima menirukan ucapan mendiang kakeknya, seorang veteran yang telah berpulang tiga tahun lalu.
Bima membuka sebuah kotak besi berkarat. Di dalamnya, ia tidak menemukan medali atau senjata seperti yang ia kira. Yang ia temukan hanyalah sebuah buku harian bersampul kulit cokelat yang sudah terkelupas, dan sebuah baret hijau yang mulai dimakan ngengat.
Dengan hati-hati, Bima membuka halaman buku itu. Tulisan tangan kakeknya yang tegak bersambung memenuhi halaman yang menguning.“30 September 1965. Malam ini langit Jakarta seolah menangis. Orang-orang gila itu ingin merobek tubuh ibu pertiwi. Mereka ingin mengganti dasar negara kita, menghapus Tuhan, dan mengadu domba kami. Mereka pikir dengan menculik para jenderal, mereka bisa membungkam rakyat. Tapi mereka salah besar…”
Bima menelan ludahnya. Ia pernah mendengar cerita tentang Lubang Buaya, tentang tujuh perwira terbaik bangsa yang gugur dengan cara yang tak manusiawi. Namun, membaca goresan tinta kakeknya yang mungkin ditulis di malam yang penuh ketakutan itu, membuat dada Bima terasa sesak.Ia membalik halaman.
“1 Oktober 1965. Pagi ini kabut masih menyelimuti Lubang Buaya. Jenazah saudara-saudaraku ditemukan. Air mataku jatuh membasahi tanah. Namun, di tengah duka yang meremukkan jiwa ini, aku melihat sesuatu yang membuat para pengkhianat itu gemetar. Rakyat tidak terpecah. Tentara tidak saling membunuh. Di tengah lumpur dan darah, kami saling bergandengan tangan. Kami berpegang pada satu hal yang tidak bisa mereka renggut: Pancasila. Sila demi sila, seperti butiran mutiara yang dirangkai menjadi satu kalung yang tak bisa dihancurkan. Hari ini, Pancasila membuktikan kesaktiannya. Bukan karena sihir, tapi karena cinta rakyat pada tanah airnya.”
Sebuah tetes air jatuh membasahi halaman buku itu. Bima baru menyadari bahwa ia sedang menangis.
Selama ini, Bima pikir Pancasila adalah kata-kata yang diucapkan saat upacara. Tapi bagi kakeknya, dan bagi enam jenderal serta satu lettu yang gugur, Pancasila adalah nyawa. Ia adalah alasan mengapa bangsa yang terdiri dari ribuan pulau, suku, dan bahasa ini tetap berdiri tegak sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga enam puluh satu tahun setelah malam kelam itu.
“Bim!” suara ibu Bima memanggil dari tangga loteng. “Sudah siap? Upacara akan segera dimulai.”Bima menyeka air matanya dengan lengan baju. Ia menutup buku harian kakeknya, lalu mengambil baret hijau yang usang itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.
“Siap, Bu,” jawab Bima. Suaranya terdengar berbeda. Lebih berat, lebih mantap.Di lapangan sekolah, bendera Merah Putih berkibar setengah tiang, lalu dinaikkan hingga ke puncak. Bima melangkah maju membawa baki bendera. Matanya menatap lurus ke depan. Ia tidak lagi melihat upacara ini sebagai sebuah rutinitas yang membosankan.
Saat membacakan teks Pancasila yang dipimpin oleh pembina upacara, suara Bima bergema lantang dan penuh penghayatan. Ia membayangkan langit Oktober enam puluh satu tahun lalu, kabut di Lubang Buaya, dan senyum kakeknya.Pancasila memang sakti.
Kesaktiannya tidak terletak pada sihir atau kekuatan gaib, melainkan pada hati setiap anak bangsa yang memilih untuk bersatu, meski badai ingin memisahkan mereka. Dan pagi ini, di dalam dada Bima, api kesaktian itu baru saja dinyalakan kembali.
Penulis : Id_Latu