Site icon indonesiasketsa.com

Jejak di Atas Debu

Selamat Hari Tani Nasional 24 September.

INDONESIASKETSA.COM, Pagi itu, kabut masih enggan pergi dari pematang sawah. Udara berbau tanah basah dan jerami kering aroma yang bagi Pak Dandi lebih menenangkan daripada parfum mahal mana pun. Di usianya yang keenam puluh lima, lututnya memang sudah sering nyeri saat membungkuk, tapi tangannya tetap lincah mencabut rumput liar di antara barisan padi yang mulai menguning.

Hari ini bukan hari biasa. Kalender di dinding rumahnya tadi pagi menunjukkan tanggal 24 September. Hari Tani Nasional. Bagi kebanyakan orang kota, tanggal itu mungkin hanya sekadar peringatan seremonial di televisi atau spanduk baliho pemerintah. Tapi bagi Pak Dandi, hari ini adalah pengingat bahwa setiap butir nasi yang masuk ke mulut jutaan manusia, lahir dari punggung yang membungkuk dan tangan yang kapalan.

“Pak, kenapa Bapak masih turun ke sawah? Kan hari libur nasional,” tanya Rian, cucunya yang baru pulang dari kota untuk mengunjungi kakeknya. Pemuda itu duduk di atas gubuk kecil, memegang ponsel pintar, wajahnya bersih tanpa noda debu.

Pak Dandi tersenyum tipis, tidak menghentikan kerjanya. “Nak, tani itu bukan pekerjaan yang bisa diliburkan. Padi tidak peduli kalau hari ini tanggal merah. Kalau Bapak diam sehari saja, besok gulma akan menang.”Rian terdiam.

Ia melihat kakeknya menyeka keringat dengan lengan baju lusuh yang sudah pudar warnanya. Ada sesuatu dalam gerakan kakeknya yang membuat Rian merasa asing sekaligus akrab. Asing karena ia tak pernah melakukan itu; akrab karena darah yang mengalir di nadinya berasal dari tanah yang sama.

“Tahu tidak, Nak?” Pak Dandi akhirnya berbicara lagi, suaranya parau tapi tenang. “Orang bilang petani itu miskin. Tapi mereka lupa, kami adalah satu-satunya profesi yang bisa mengubah debu menjadi emas. Lihatlah ini.” Ia menunjuk bulir padi yang mulai berisi. “Ini bukan cuma makanan. Ini adalah doa yang kami tanam setiap musim.”

Siang harinya, sekelompok mahasiswa datang ke desa untuk mengadakan acara peringatan Hari Tani. Mereka membawa spanduk, kamera, dan pidato-pidato tentang ketahanan pangan. Pak Dandi mendengarkan dengan sopan, meski hatinya sedikit miris. Kata-kata mereka indah, tapi apakah mereka benar-benar merasakan beratnya cangkul yang menancap di tanah keras saat kemarau? Apakah mereka tahu rasa cemas ketika awan mendung tak kunjung turun saat padi butuh air?

Setelah acara selesai dan para tamu pulang, Rian tetap tinggal. Ia mendekati kakeknya yang sedang duduk istirahat di bawah pohon beringin tua.

“Kek, ajari aku,” kata Rian tiba-tiba.

Pak Dandi menatap cucunya, alisnya terangkat. “Apa?”

“Ajari aku cara memegang cangkul yang benar. Ajari aku membedakan padi yang sehat dan yang sakit. Aku ingin tahu… apa artinya menjadi tani yang sebenarnya. Bukan cuma teori di buku.”

Mata Pak Dandi berkaca-kaca. Bukan karena sedih, tapi karena lega. Selama ini ia takut warisan leluhurnya akan mati tertelan beton dan layar kaca. Tapi hari ini, di Hari Tani Nasional yang sunyi ini, ia menemukan harapan yang jauh lebih berharga daripada seribu pidato.

“Mari,” kata Pak Dandi, berdiri perlahan dan menyerahkan cangkul kayunya yang gagangnya sudah licin oleh keringat puluhan tahun. “Pertama-tama, rasakan bobotnya. Cangkul ini bukan alat. Dia adalah perpanjangan tanganmu. Jika kau memaksanya, tanah akan menolak. Jika kau menghormatinya, tanah akan memberi.”

Rian menggenggam cangkul itu. Berat. Kasar. Nyata. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan getaran bumi melalui telapak tangannya. Ia membungkuk, meniru gerakan kakeknya, dan untuk sesaat, jarak antara generasi yang terpisah oleh zaman dan teknologi itu runtuh. Mereka berdua berdiri di atas pematang, dua sosok dengan usia berbeda namun jiwa yang sama-sama terhubung pada ibu pertiwi.

Sore harinya, saat matahari mulai tenggelam dan mewarnai langit dengan jingga keemasan, Rian pulang dengan sepatu yang kotor dan kuku yang hitam. Ia tidak menyesal. Sebaliknya, ia merasa telah menemukan bagian dari dirinya yang selama ini hilang.

Di meja makan malam itu, nasi putih mengepul di piring mereka. Rian menatapnya lama sebelum menyendok. Kali ini, ia tidak sekadar makan. Ia sedang menikmati buah dari jejak-jejak di atas debu yang telah ditinggalkan oleh kakeknya, dan kini, jejaknya sendiri mulai terbentuk di sana.

Hari Tani Nasional baginya bukan lagi tentang perayaan. Itu adalah janji. Janji untuk tidak pernah melupakan bahwa di balik kenyamanan hidup modern, ada tangan-tangan kasar yang rela kotor agar dunia tetap kenyang. Dan selama masih ada anak muda seperti Rian yang mau turun dan merasakan beratnya cangkul, maka selama itu pula, harapan bangsa ini akan tetap tumbuh subur, layaknya padi di musim panen raya.

Pesan Moral Cerita

Cerita ini mengingatkan kita bahwa Hari Tani Nasional sejatinya bukan sekadar momentum seremonial, melainkan panggilan untuk kembali menghargai akar peradaban kita. Kemajuan teknologi dan urbanisasi tidak boleh memutus tali penghormatan terhadap petani dan tanah air. Warisan terbesar seorang petani bukanlah lahan luas atau hasil panen berlimpah, melainkan nilai-nilai kesabaran, kerja keras, dan harmoni dengan alam yang diturunkan kepada generasi penerus. Selama nilai itu hidup dalam hati pemuda bangsa, maka kedaulatan pangan dan identitas budaya kita akan tetap kokoh berdiri.

Penulis: Id_Latu (Pecinta Sastra)

Exit mobile version