INDONESIASKETSA.COM, Kepergian Pak Hartono bukan hanya meninggalkan lubang di hati Raka, tetapi juga membuka lembaran baru perjuangan bagi Bu Siti. Selama lima belas tahun, ia telah menjadi “ayah dan ibu” sekaligus bagi Raka. Namun, kini beban itu terasa berbeda. Bukan lagi tentang menanggung rindu atau menutupi rasa sakit dengan kesibukan, melainkan tentang bagaimana mengisi kekosongan yang selama ini ditutupi oleh harapan akan kepulangan sang suami.
Pagi-pagi benar, saat ayam jantan belum berkokok, Bu Siti sudah terbangun. Tubuhnya yang mulai renta dipaksa bangkit dari kasur tipis. Ia tidak memiliki waktu untuk berduka terlalu lama; tagihan listrik, biaya sekolah Raka yang semakin tinggi, dan kebutuhan dapur tidak pernah menunggu air matanya kering.
Di pasar tradisional, Bu Siti menjual nasi uduk dan lauk pauk sederhana. Dulu, saat Pak Hartono masih mengirim uang meski tak rutin, ia hanya membantu berjualan di sore hari. Kini, ia harus berdiri sejak subuh hingga siang, mengangkat panci berat, melayani pembeli dengan senyum yang selalu ia paksa tetap merekah, meski punggungnya sering kali nyeri luar biasa.
“Bu Siti, kok kurusan? Jangan lupa makan ya,” tegur langganan setianya, Mbak Yanti.
Bu Siti hanya tersenyum tipis. “Alhamdulillah, Mbak. Masih kuat. Anak saya mau ujian nasional bulan depan, jadi harus lebih semangat”.
Kalimat itu adalah mantra penguatnya. Setiap kali lelah menghampiri, setiap kali rasa sepi mencekam dada di malam hari, wajah Raka yang sedang belajar di meja kayu usang adalah obatnya. Ia ingat pesan almarhum suaminya: “Jadilah orang yang bisa membanggakan ibumu.” Maka, Bu Siti bertekad menjadi ibu yang pantas dibanggakan, meskipun caranya adalah dengan mengikis habis masa mudanya demi masa depan anak semata wayangnya.
Sore harinya, sepulang dari pasar, Bu Siti tidak langsung istirahat. Ia duduk di teras, menjahit seragam sekolah tetangga atau menerima pesanan kue untuk acara arisan. Jarum yang ditusuk-tusukkan ke kain seolah menusuk-nusuk jari-jarinya yang kapalan, namun gerakannya tak pernah melambat. Di sela-sela jahitan, ia sesekali melirik ke dalam rumah, memastikan Raka tidak terlalu stres menghadapi pelajaran.
Malam itu, Raka menemukan ibunya tertidur pulas di kursi goyang dengan mesin jahit masih di pangkuannya. Lampu temaram menerangi wajah ibunya yang penuh keriput dan uban yang kian banyak. Raka menyadari, setiap helai uban itu adalah bukti perjuangan. Setiap keriput di sudut mata ibunya adalah peta perjalanan panjang menahan tangis agar anaknya tidak merasa kehilangan.
Raka mengambil selimut tipis dan memelukkannya perlahan ke tubuh ibunya. Ia tidak membangunkannya. Dalam keheningan malam, Raka bersumpah dalam hati: “Ibu, aku akan lulus. Aku akan bekerja. Aku akan mengganti semua lelahmu dengan kebahagiaanku. Perjuanganmu tidak akan sia-sia.”
Esok paginya, ketika Bu Siti bangun, ia menemukan secarik kertas di atas meja makan bersama segelas teh hangat yang masih mengepul. Tulisan Raka yang rapi berbunyi:
“Untuk Ibu Pahlawanku,Terima kasih telah menjadi atap yang tidak bocor, bahkan ketika Ayah tiada. Terima kasih telah menjadi tanah yang subur meski kau sendiri kekeringan. Aku mencintaimu, Bu. Lebih dari kata-kata yang bisa kutulis.”
Bu Siti membaca surat itu sambil menangis. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis lega. Tangis seorang pejuang yang akhirnya melihat hasil jerih payahnya mulai menampakkan cahaya. Ia tahu, perjuangan belum selesai. Tapi setidaknya, ia tidak berjalan sendirian lagi. Cinta anaknya adalah bahan bakar yang akan membuatnya terus tangguh, melewati badai kehidupan apa pun yang datang esok hari.
Pesan Moral:
Perjuangan seorang ibu setelah kepergian ayah adalah bentuk cinta yang paling sunyi namun paling dahsyat. Ia tidak menuntut penghargaan, tidak meminta pujian. Cukup melihat anaknya tumbuh menjadi manusia yang baik dan mandiri, itu sudah menjadi mahkota tertinggi bagi segala lelah dan air mata yang telah ia curahkan. Ketangguhan ibu adalah warisan abadi yang tak ternilai harganya.
Penulis : Id_Latu (Pecinta Sastra)