INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – Kondisi atmosfer DKI Jakarta kembali berada dalam rentang mengkhawatirkan pada akhir pekan ini. Pada Minggu awal hari, kualitas atmosfer di wilayah Ibu Kota mencatatkan rapor buruk dengan menempati peringkat ketiga metropolitan berudara paling tercemar di seluruh dunia.
Posisi puncak kota berudara terburuk dihuni oleh Kinshasa di Kongo lewat skor 215, disusul Kampala di Uganda pada urutan kedua dengan nilai 162. Jakarta membuntut tepat di urutan ketiga dengan angka 158, lalu disusul oleh Kuching di Malaysia pada tingkat 157, serta Baghdad di Irak yang bertengger di posisi kelima melalui capaian 153.
Konsentrasi partikel mikro PM2,5 di langit Jakarta terdeteksi mencapai 65,3 mikrogram per meter kubik. Tingkatan tersebut mengindikasikan paparan udara yang rentan memicu gangguan kesehatan bagi kelompok masyarakat peka, selain berpotensi mengganggu ekosistem flora, fauna, maupun estetika lingkungan.
Sistem pengukuran standar menetapkan bahwa rentang indeks 0 hingga 50 tergolong baik tanpa implikasi negatif, sementara angka 51 hingga 100 masuk kategori sedang. Adapun indeks pada rentang 200 hingga 299 dikategorikan sangat tidak sehat karena membahayakan fisik warga, dan angka 300 hingga 500 menandakan kondisi bahaya yang sanggup merusak kesehatan masyarakat secara masif.
Menanggapi situasi lingkungan yang kurang kondusif tersebut, warga yang harus beraktivitas di ruang terbuka sangat disarankan untuk memakai pelindung pernapasan. Selain itu, masyarakat dianjurkan mengunci akses ventilasi rumah agar udara kotor tidak masuk, serta memaksimalkan penggunaan pemurni udara di dalam ruangan.