Site icon indonesiasketsa.com

Diduga Rusia Diam-Diam Bantu Iran Bombardir Sarang CIA di Timur Tengah

Iran lakukan serangan besar-besaran terhadap pangkalan militer AS. (Foto: Mahmud HAMS / AFP)

INDONESIASKETSA.COM, New York – Tim intelijen Amerika Serikat kini tengah bekerja keras membongkar dugaan campur tangan Rusia di balik gelombang serangan drone militer Iran yang mengenai beberapa lokasi rahasia Central Intelligence Agency (CIA) di wilayah Teluk. Otoritas AS menaruh curiga bahwa Rusia ikut berperan lewat pasokan data intelijen untuk membidik sasaran secara presisi serta memberi dukungan teknologi navigasi drone yang lebih canggih.

Berdasarkan pemberitaan Reuters pada Kamis (23/07/2026), sejumlah pejabat intelijen AS menyampaikan bahwa ketepatan dan daya rusak serangan drone Iran atas titik-titik rahasia CIA menjadi bukti kuat adanya campur tangan teknis pihak luar.

Tercatat setidaknya dua lokasi milik CIA menjadi sasaran serangan pada bulan Maret, yakni ruang stasiun CIA yang berada di dalam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, dan satu fasilitas lain yang terletak di wilayah timur Irak.

“Kami tidak dapat menerima situasi di mana negara mitra memberikan data intelijen sensitif untuk menargetkan operasional kami,” ungkap salah satu pejabat yang dikonfirmasi mengenai penyelidikan intelijen tersebut.

Banyak kalangan menilai kesuksesan Iran ini sulit dipisahkan dari sokongan Rusia. Di luar bantuan data intelijen, pihak Washington juga meyakini Moskow ikut andil dalam mendongkrak kualitas teknologi serta ketepatan drone-drone milik Teheran.

“Rusia membantu Tehran meningkatkan akurasi Shahed-136 dengan memasok sistem navigasi satelit Kometa-M yang jauh lebih presisi dan sulit dijangkau oleh sinyal pengganggu (jamming),” timpal sumber intelijen lainnya mengenai integrasi teknologi Moskow pada drone Iran.

Merujuk pada catatan internal salah satu badan intelijen negara-negara Barat, penyerangan terhadap Kedutaan Besar AS di Riyadh menggunakan dua unit drone Shahed rakitan Iran yang sudah dilengkapi teknologi hasil modifikasi Rusia. Unit pertama dikabarkan berhasil menembus lapisan luar tembok gedung kedutaan, kemudian disusul unit kedua yang menerobos masuk melalui celah yang tercipta dan meledak tepat di ruang stasiun CIA.

Diduga peran Rusia mencakup pemasangan modul navigasi satelit Kometa-M ke dalam pesawat tanpa awak milik Iran. Sokongan tersebut disebut-sebut mampu mendongkrak daya jelajah drone Shahed hingga bisa menembus dan menghancurkan titik-titik rahasia AS yang selama ini dijaga sangat ketat dan tertutup dari sorotan publik.

Kecurigaan terhadap keterlibatan Moskow dalam pemberian data sasaran semakin kuat menyusul insiden serangan rudal balistik Iran ke barak militer di pangkalan udara AS di Yordania akhir pekan lalu, yang merenggut nyawa dua tentara Amerika.

Sejumlah pengamat menilai perluasan kerja sama teknis semacam ini menandakan Moskow makin siap mengambil langkah lebih agresif untuk mengganggu jalannya operasi militer serta intelijen AS di kawasan Timur Tengah.

“Mereka berbagi kepentingan untuk mencoba mengurangi atau menghilangkan pengaruh AS sama sekali di wilayah yang mereka tetapkan sebagai lingkup pengaruh mereka,” tegas mantan Kepala Stasiun CIA Daniel Hoffman.

Exit mobile version