Site icon indonesiasketsa.com

Efek Gaza Mengguncang Inggris, Partai Hijau dan Reform UK Raup Dukungan Besar

Ilustrasi pemilihan umum di Inggris.

INDONESIASKETSA.COM, London – Peta politik Inggris menunjukkan perubahan besar setelah hasil pemilu lokal menghadirkan lonjakan dukungan bagi partai kanan keras Reform UK serta peningkatan suara signifikan untuk Partai Hijau yang dikenal vokal mendukung Palestina di sejumlah wilayah Inggris.

Partai Reform UK yang dipimpin politikus nasionalis Nigel Farage sukses mencatat kemenangan penting di banyak dewan lokal di Inggris. Partai tersebut juga memperlihatkan peningkatan dukungan di Skotlandia dan Wales. Hasil pemilu ini semakin memperlihatkan merosotnya kepercayaan publik terhadap partai-partai tradisional Inggris sekaligus memperkuat tanda-tanda melemahnya dominasi sistem dua partai yang selama puluhan tahun menguasai panggung politik negara itu.

Berdasarkan proyeksi Sky News, Reform UK diperkirakan bakal menjadi kekuatan terbesar di parlemen apabila pemilu nasional digelar dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Perdana Menteri Keir Starmer harus menerima pukulan telak setelah Partai Buruh kehilangan ratusan kursi dewan serta gagal mempertahankan kendali di sejumlah wilayah pemerintahan lokal.

“Pelajaran yang tepat adalah mendengarkan para pemilih,” kata Starmer pada Sabtu, seraya menambahkan bahwa hal itu “tidak berarti bergeser ke kanan atau ke kiri.”

Partai Hijau perkuat dominasi di kota besar

Partai Hijau Inggris dan Wales mencetak capaian bersejarah dengan memenangkan dua posisi wali kota di London, menguasai empat dewan, dan memperoleh ratusan kursi baru di berbagai kota besar seperti London, Manchester, Sheffield, Newcastle, hingga Cambridge.

Kemenangan penting diraih di Hackney, London timur, ketika anggota dewan Zoë Garbett berhasil menumbangkan kandidat Partai Buruh di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis kuat partai tersebut. Tidak lama berselang, Liam Shrivastava juga keluar sebagai pemenang di Lewisham, London tenggara.

Disebut sebagai “kemenangan bersejarah”

Selain itu, Partai Hijau berhasil mengambil alih Dewan Hackney yang mencakup Stamford Hill, kawasan dengan komunitas Yahudi ultra-Ortodoks yang cukup besar, serta menguasai Waltham Forest di London, Hastings di pesisir selatan Inggris, dan Norwich di kawasan timur Inggris.

Menanggapi hasil di Hackney, pemimpin Partai Hijau Zack Polanski menyebut kemenangan tersebut sebagai “kemenangan bersejarah”.

“My message to Keir Starmer is that he needs to go. But I don’t think that’s my message; I think that’s the country message,” tegas Polanski.

Isu Gaza memengaruhi pertarungan politik lokal

Media-media Inggris melaporkan bahwa agresi Israel di Gaza menjadi salah satu isu utama dalam sejumlah pertarungan politik di wilayah perkotaan, terutama di Hackney. Ketidakpuasan terhadap sikap Partai Buruh terkait perang tersebut dinilai memengaruhi pilihan para pemilih.

Menurut Garbett, banyak warga kecewa terhadap Partai Buruh, baik terkait persoalan lokal maupun sikap partai terhadap konflik di Gaza.

Sementara itu, anggota dewan Partai Hijau yang baru terpilih, Laura-Louise Farley, dikabarkan mendesak agar pasukan pendudukan Israel dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris.

Di Sheffield, anggota dewan Mustafa Ahmed merayakan kemenangannya dengan mengibarkan bendera Palestina sambil meneriakkan “Free Palestine”.

Partai Buruh kehilangan banyak dukungan

Secara nasional, Partai Buruh kehilangan hampir 1.400 kursi dewan dan gagal mempertahankan kendali di sejumlah wilayah penting. Meski begitu, penurunan suara di London tidak sebesar yang sebelumnya diperkirakan para analis.

Pemilu lokal kali ini dipandang sebagai semacam referendum tidak resmi terhadap kepemimpinan Starmer, kurang dari dua tahun setelah Partai Buruh kembali memegang pemerintahan usai mengalahkan Partai Konservatif.

Starmer mengakui hasil yang diperoleh partainya sangat berat, namun menepis tuntutan agar dirinya mundur dari jabatan.

“Para pemilih telah menyampaikan pesan tentang cepatnya perubahan dan bagaimana mereka ingin kehidupan mereka diperbaiki,” katanya. “Saya dipilih untuk menghadapi tantangan itu, dan saya tidak akan meninggalkan tantangan tersebut lalu menyeret negara ke dalam kekacauan.”

Walau demikian, sejumlah anggota parlemen dari Partai Buruh mulai menyerukan pergantian kepemimpinan setelah hasil buruk tersebut.

“Saya rasa Keir Starmer tidak seharusnya bertahan setelah hasil ini,” ujar anggota parlemen Jonathan Brash. “Kita harus lebih berani dan melangkah lebih jauh. Dan sejujurnya, kita membutuhkan kepemimpinan baru untuk mencapainya.”

Reform UK manfaatkan isu anti-imigrasi

Reform UK mencatat performa kuat di wilayah kelas pekerja di Inggris utara yang selama ini identik dengan basis Partai Buruh. Partai tersebut juga berhasil mengurangi dominasi Partai Konservatif di beberapa daerah Inggris selatan, termasuk Essex.

Dalam kampanyenya, Reform UK mengangkat isu anti-imigrasi dan perlawanan terhadap elite politik. Pesan tersebut mendapat respons positif di kawasan yang sebelumnya mendukung Brexit dalam referendum tahun 2016.

Farage menyebut hasil pemilu kali ini sebagai “perubahan bersejarah dalam politik Inggris”.

Meski memperoleh momentum besar secara nasional, Reform UK tidak tampil terlalu dominan di sejumlah daerah dengan populasi Yahudi besar. Di wilayah seperti Golders Green dan Hendon, dukungan terhadap Partai Konservatif masih bertahan cukup kuat.

Sementara di Barnet, wilayah dengan komunitas Yahudi terbesar di Inggris, baik Partai Buruh maupun Partai Konservatif gagal menguasai mayoritas kursi.

Skotlandia dan Wales makin dekat dengan nasionalisme

Partai-partai nasionalis turut meraih hasil positif dalam pemilu devolusi di Skotlandia dan Wales.

Di Skotlandia, Partai Nasional Skotlandia tetap menjadi partai terbesar, meski gagal memperoleh mayoritas penuh. Situasi ini diperkirakan mengurangi peluang mereka untuk kembali mendorong referendum kemerdekaan dalam periode parlemen berikutnya.

Sementara itu di Wales, Plaid Cymru mencatat sejarah baru dengan mengakhiri dominasi Partai Buruh yang telah berlangsung selama 27 tahun.

Meski tidak memperoleh mayoritas absolut, partai tersebut diprediksi akan memimpin pemerintahan Wales selanjutnya.

Menteri Pertama Wales yang akan mengakhiri masa jabatannya, Eluned Morgan, menggambarkan hasil tersebut sebagai bencana bagi Partai Buruh.

“Partai Buruh Wales hari ini mengalami hasil yang katastrofik,” katanya. “Ini mengakhiri satu abad kemenangan Partai Buruh di Wales dan partai harus benar-benar melakukan introspeksi.”

Inggris memasuki era politik baru

Para pengamat politik menilai hasil pemilu ini menunjukkan semakin terpecahnya peta politik Inggris serta meningkatnya ketertarikan publik terhadap partai-partai di luar dua kekuatan utama tradisional, yakni Partai Buruh dan Partai Konservatif.

Tony Travers dari London School of Economics menilai partai-partai arus utama kesulitan menghadapi gerakan populis yang menawarkan “solusi sederhana” atas persoalan ekonomi dan politik yang kompleks.

Sementara itu, John Curtice dari University of Strathclyde mengatakan kepada BBC bahwa Inggris kini memasuki babak politik yang benar-benar berbeda.

“Bahkan Reform UK mungkin belum mencapai 30% suara, sehingga fragmentasi politik Inggris semakin terlihat jelas melalui hasil ini,” ujarnya.

Hasil pemilu tersebut diperkirakan akan memperbesar spekulasi terkait masa depan politik Starmer. Sejumlah tokoh senior Partai Buruh seperti Wes Streeting, Angela Rayner, dan Andy Burnham kini mulai disebut-sebut sebagai calon penerus potensial apabila tekanan terhadap perdana menteri terus meningkat menjelang pemilu nasional yang wajib digelar paling lambat tahun 2029.

Exit mobile version