INDONESIASKETSA.COM, Jawa Timur – Genap tujuh bulan pasca pelantikan, kepemimpinan Sholahuddin Hasan di Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PP Hima Persis) mulai menuai sorotan tajam. Organisasi yang dikenal sebagai pilar kritis mahasiswa Islam ini dinilai sedang mengalami stagnansi gerakan dan terjebak dalam formalitas narasi tanpa dampak nyata bagi kebijakan publik.
Kritik ini muncul seiring dengan persepsi kader di angkar rumput bahwa kehadiran Hima Persis sebagai “mitra kritis” pemerintah belum menyasar dan terasa secara pasti. Meskipun berbagai kebijakan kontroversial muncul dalam setengah tahun terakhir, namun respon dari Kepemimpinan Sholahuddin Hasan masih sekedar formalitas belaka.
Kader Akar Rumput Hima Persis-Indonesia (KAR Hima Persis), mengatakan Mosi Tidak Percaya dan mengatakan respons PP Hima Persis hanya sebatas gimik di media sosial dan rilis tertulis yang minim tindak lanjut dan konsolidasi yang masif terhadap kader-kader di seluruh Indonesia.
Maka dari itu, kiranya perlu adanya evaluasi terhadap tujuh bulan perjalanan roda kepemimpinan ini, agar kemudian lebih menitikberatkan pada ketimpangan antara retorika dan aksi nyata di lapangan. KAR Hima Persis-Seluruh Indonesia juga menilai bahwa narasi kritis yang dibangun oleh kepengurusan periode ini cenderung “nihil respons” dari pemerintah.
“Tujuh bulan adalah waktu yang sangat cukup untuk melakukan evaluasi. Saat ini, Hima Persis seolah belum benar-benar hadir sebagai wadah perjuangan mahasiswa. Kritiknya terasa tumpul karena hanya berhenti pada narasi yang paradoks, sementara pemerintah tetap melenggang dengan kebijakan-kebijakannya yang amburadul,” ujarnya
Ketidakpekaan Pemerintah dan Krisis Ekonomi menjadi sorotan utama dimana tertuju pada kontradiksi kebijakan pemerintah hari ini. Di satu sisi, pemerintah kerap mendengungkan efisiensi anggaran, namun di sisi lain justru terlihat melakukan pemborosan di beberapa program yang dianggap tidak mendesak bagi rakyat kecil.
Hal ini terasa semakin ironis mengingat kondisi masyarakat yang tengah dihimpit ketidakstabilan harga komoditas pangan. Ketidakmampuan PP Hima Persis dalam menekan pemerintah untuk lebih peka terhadap kondisi rakyat menjadi poin krusial dalam raport merah evaluasi tujuh bulan ini.
Kami menantikan langkah atau gerakan konkret dari Sholahuddin Hasan untuk memecah kebekuan ini. Apakah PP Hima Persis akan terus bertahan dengan pola gerakan “siaran pers” atau kembali ke khittah-nya sebagai pengontrol kekuasaan yang berani turun ke basis massa.
Jika tidak ada perubahan strategi gerakan yang signifikan, Hima Persis di bawah komando Sholahuddin Hasan dikhawatirkan akan kehilangan relevansi sejarahnya sebagai organisasi mahasiswa yang progresif dan revolusioner dan berpihak pada kepentingan umat serta bangsa. 3 Dekade Hima Persis semestinya menjadi evaluasi sejati sebagai mana marwah organisasi yang berdiri atas sumpah atas nama Allh SWT, Umat, Rakyat, dan Bangsa.