INDONESIASKETSA.COM, Jakarta – International Monetary Fund (IMF) mengingatkan pemerintah di berbagai negara agar tidak melakukan belanja berlebihan di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Peringatan ini disampaikan seiring meningkatnya risiko resesi apabila konflik, khususnya di Iran, terus berlanjut dan berdampak pada lonjakan harga energi, termasuk bahan bakar minyak. IMF juga menilai belum ada solusi yang jelas untuk mengatasi situasi tersebut.
“Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas energi penting di Timur Tengah meningkatkan prospek krisis energi besar, jika solusi jangka panjang tidak segera ditemukan,” kata Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, dalam konferensi pers IMF-World Bank Spring Meetings.
Ia menjelaskan bahwa harga minyak, gas, serta berbagai komoditas lain seperti bahan bakar jet, pupuk, aluminium, dan helium mengalami kenaikan tajam. Dampak kondisi ini akan terasa melalui beberapa jalur utama.
Pertama, kenaikan harga komoditas menjadi guncangan pasokan yang mendorong kenaikan biaya dan harga, sekaligus mengganggu rantai pasok serta menekan daya beli masyarakat. Kedua, kondisi ini berpotensi memicu spiral upah dan harga ketika perusahaan dan pekerja berupaya menutup kerugian, terutama jika ekspektasi inflasi tidak terkendali.
“Ketiga, kondisi keuangan dapat mengencang, dengan valuasi aset yang lebih rendah, premi risiko yang lebih tinggi, pelarian modal, apresiasi dolar, yang meredam permintaan,” paparnya.
Dalam skenario dasar, IMF memperkirakan konflik hanya berlangsung singkat dengan kenaikan harga energi sekitar 19% pada 2026. Namun demikian, dampak ekonomi tetap tidak bisa dihindari.
Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan turun menjadi 3,1% pada tahun ini, lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya, sementara inflasi meningkat menjadi 4,4%.
“Skenario buruk kami mengasumsikan gangguan lebih lanjut, yang menyebabkan harga energi dan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi serta kondisi keuangan yang lebih ketat sepanjang tahun. Pertumbuhan turun menjadi 2,5% tahun ini dan inflasi naik menjadi 5,4%.”
Dalam skenario yang lebih parah, gangguan pasokan energi diperkirakan berlanjut hingga tahun depan, menyebabkan ketidakstabilan makroekonomi yang lebih besar. Pertumbuhan global bahkan bisa turun menjadi 2% dengan inflasi melampaui 6%.
IMF menilai pertumbuhan di bawah 2% akibat konflik berkepanjangan dan lonjakan harga minyak berpotensi memicu resesi global besar, yang tercatat jarang terjadi sejak 1980-an.
Terkait langkah yang perlu diambil, Gourinchas menekankan bahwa ruang fiskal banyak negara kini semakin terbatas akibat tingginya utang publik. Ia mengingatkan bahwa kebijakan seperti subsidi besar atau pembatasan harga memang populer, tetapi berisiko menimbulkan distorsi dan beban biaya tinggi.
“Sebagian besar negara tidak lagi memiliki kemewahan itu. Di mana dukungan untuk yang paling rentan dibutuhkan, langkah-langkah yang ditargetkan dan sementara harus diterapkan, konsisten dengan rencana jangka menengah untuk membangun kembali penyangga fiskal dan menghindari stimulasi permintaan di mana inflasi meningkat,” ujarnya.
Dalam kondisi terburuk, ia menilai kebijakan moneter dan fiskal harus siap disesuaikan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sistem keuangan, termasuk melalui kebijakan likuiditas yang tepat.
Namun, IMF juga menilai bank sentral memiliki keterbatasan dalam mengendalikan harga energi. Oleh karena itu, lembaga tersebut menyarankan agar bank sentral tidak terburu-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi masih terkendali.
“Namun, selama ekspektasi inflasi tetap terkendali dengan baik, bank sentral dapat menunggu dan mengamati untuk saat ini. Tetapi mereka harus memperhatikan risiko dan mengkomunikasikan dengan jelas kesiapan mereka untuk bertindak tegas guna menjaga stabilitas harga,” ujar Gourinchas.