INDONESIASKETSA.COM, Tel Aviv – Ketika Iran melancarkan serangan balasan selama berjam-jam terhadap Israel, informasi mengenai dampak kerusakan di berbagai kota Israel menjadi sangat terbatas. Pemerintah Israel dilaporkan memperketat pengawasan terhadap pemberitaan dan penyebaran gambar yang menunjukkan lokasi atau tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Langkah pembatasan ini membuat publik internasional sulit mengetahui kondisi sebenarnya di sejumlah wilayah yang terkena serangan rudal maupun drone. Foto dan rekaman video dari lokasi kejadian hanya beredar dalam jumlah terbatas karena harus melewati proses penyensoran sebelum dipublikasikan.
Otoritas keamanan Israel menegaskan bahwa penyebaran dokumentasi dari lokasi serangan dapat membahayakan keamanan negara. Informasi semacam itu dikhawatirkan dapat membantu pihak lawan mengidentifikasi titik sasaran serta mengevaluasi efektivitas serangan mereka. Karena alasan tersebut, pemerintah menerapkan aturan ketat terhadap media dan masyarakat yang merekam dampak serangan.
Bahkan, aparat dilaporkan menghentikan siaran langsung dan meminta jurnalis menghapus rekaman yang diambil di lokasi tertentu. Sejumlah perangkat liputan juga disita oleh pihak keamanan untuk mencegah materi visual menyebar luas.
Kebijakan penyensoran ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama Israel memiliki sistem sensor militer yang memungkinkan pemerintah melarang publikasi informasi yang dinilai berpotensi membahayakan kepentingan keamanan nasional. Setiap materi liputan terkait operasi militer atau fasilitas strategis dapat dibatasi penyebarannya.
Konflik antara Iran dan Israel meningkat setelah serangan awal Israel terhadap sejumlah target di Iran. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke beberapa wilayah Israel. Sejumlah kota dilaporkan terdampak serangan tersebut, meskipun detail kerusakan sulit diverifikasi akibat pembatasan informasi.