Site icon indonesiasketsa.com

NATO Tingkatkan Kehadiran Militer di Greenland, Rusia Angkat Suara

Rusia menyatakan sangat prihatin dengan pengerahan tentara negara-negara NATO ke Greenland. (Foto: Srpska National)

INDONESIASKETSA.COM, Brussels — Pemerintah Rusia menyatakan keprihatinan mendalam atas pengerahan pasukan negara-negara NATO ke Greenland, wilayah otonom Denmark di kawasan Arktik. Moskow menilai langkah tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di lintang tinggi yang selama ini relatif stabil.

Pernyataan itu disampaikan Kedutaan Besar Rusia di Belgia, lokasi markas besar NATO, menyusul meningkatnya aktivitas militer aliansi Atlantik Utara di Greenland. Rusia menuding NATO menggunakan dalih ancaman dari Moskow dan Beijing untuk membenarkan ekspansi militernya di kawasan strategis tersebut.

“Situasi yang terjadi di wilayah lintang tinggi sangat mengkhawatirkan kami,” ujar perwakilan Kedutaan Rusia dalam pernyataan resminya. Rusia menilai peningkatan kehadiran militer NATO berisiko memicu eskalasi baru di Arktik, kawasan yang memiliki kepentingan strategis, keamanan, dan sumber daya mineral bernilai tinggi.

Sedikitnya delapan negara Eropa anggota NATO dilaporkan telah mengerahkan personel militer ke Greenland, yakni Denmark, Prancis, Jerman, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, dan Inggris. Pengerahan ini terjadi di tengah memanasnya perdebatan mengenai masa depan Greenland.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menegaskan keinginannya agar Greenland berada di bawah kendali AS. Trump menyebut pulau tersebut penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk menguasainya.

Meski demikian, Gedung Putih menegaskan bahwa pengerahan pasukan oleh negara-negara Eropa tidak akan mengubah sikap Trump terkait Greenland. Upaya diplomasi tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Denmark sebelumnya juga dilaporkan gagal meredakan perbedaan pandangan.

Greenland selama ini dikenal sebagai wilayah strategis di Arktik, baik dari sisi militer, geopolitik, maupun cadangan sumber daya alam. Perkembangan terbaru ini menandai meningkatnya rivalitas kekuatan global di kawasan yang sebelumnya relatif berada di luar pusat konflik internasional.

Exit mobile version