Site icon indonesiasketsa.com

Membedah Faktor Penentu Gencatan Senjata Gaza

Zaenal Abidin Riam, Pengamat Kebijakan Publik/Dosen ITB Vinus. (Foto: Istimewa)

INDONESIASKETSA.COM, Gencatan senjata resmi tercapai di Gaza. Setelah perang Panjang dan melelahkan selama dua tahun, pejuang Palestina dan Israel akhirnya menyepakati gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim sebagai pihak yang paling berperan sekaligus faktor penentu terwujudnya gencatan senjata di Gaza, Gedung Putih juga mengamini klaim sang Presiden, berbagai pihak di luar Amerika Serikat juga nampak sepakat dengan klaim tersebut. Tentu validitas klaim ini perlu diuji, Benarkah Trump merupakan faktor penentu terwujudnya gencatan senjata di Gaza? Secara faktual Trump memang berperan dalam terwujudnya gencatan senjata antara pejuang Palestina dan Israel, namun perlu diingat Trump selaku representasi Amerika Serikat tidak bekerja sendiri dalam proses gencatan senjata Gaza. Terdapat beberapa negara Arab dan Muslim yang ambil bagian dalam mendorong gencatan senjata, negara tersebut adalah Qatar, Mesir, dan Turkiye, bahkan Indonesia juga termasuk negara yang konsisten menyuarakan gencatan senjata di Gaza. Proses negosiasi gencatan senjata juga tidak terjadi di Amerika Serikat, melainkan di Qatar dan Mesir, kedua negara tersebut menjadi rumah bagi negosiator pejuang Palestina dan Israel dalam proses perundingan damai. Fakta ini menegaskan Qatar dan Mesir punya kontribusi yang setara dengan Amerika Serikat dalam mendorong dan mewujudkan gencatan senjata Gaza.

Noda Hitam Amerika Serikat di Gaza

Publik juga mesti memahami, Donald Trump dan Amerika Serikat bukan pihak netral dalam perang antara pejuang Palestina dan Israel. Amerika Serikat secara aktif mendukung Israel dalam melakukan serangan brutal terhadap rakyat Palestina yang kini dunia internasinal menganggapnya sebagai genosida, pembantaian puluhan ribu warga Palestina oleh Israel bukan hanya bentuk penjajahan nyata, lebih dari itu sudah masuk ke ranah pemusnahan massal. Anehnya saat negara-negara di dunia ramai mengecam genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza, bahkan negara seperti Inggris dan Prancis yang sebelumnya mendukung Israel, kini berbalik badan mengecam Israel karena kekejaman mereka di Gaza, pada saat yang sama Amerika Serikat justru tetap kukuh membela Israel secara politi dan militer, di ranah politik Amerika Serikat menjadi negara yang paling aktif melindungi Israel di PBB dengan hak veto yang mereka miliki, sementara itu di ranah militer Amerika Serikat aktif mensuplai bom dan senjata ke Israel selama perang dengan pejuang Palestina, amunisi kiriman Amerika Serikat lalu digunakan Israel untuk membantai warga sipil dan membombardir Gaza. Sehingga dalam posisi ini perdamaian yang berupaya didorong Amerika Serikat merupakan bentuk pertanggungjawaban mereka terhadap kontribusi mereka dalam kehancuran Gaza.

Amerika Serikat dan Israel pada dasarnya dipaksa oleh keadaan sehingga mereka memilih gencatan senjata sebagai penyelesaian konflik. Saat Israel akan menginvasi Jalur Gaza, pihak Israel telah menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat, Israel berhasil meyakinkan Gedung Putih bahwa perang tersebut tidak akan berlangsung lama, Gaza akan dikuasai penuh dengan cepat dan pejuang Palestina akan ditumpas habis. Fakta di lapangan berkata lain, setelah dua tahun berperang, Israel tidak mampu menguasai Gaza secara penuh, pejuang Palestina tetap aktif melakukan perlawanan, bukan perlawana biasa, para pejuang Palestina bahkan mampu mendatangkan kerugian besar di tubuh militer Israel, tidak hanya serdadu IDF yang terus berguguran, aset militer Israel berupa tank dan peralatan tempur lainnya banyak yang menjadi bangkai di Gaza akibat sergapan pejuang Palestina. Perang selama dua tahun sangat menguras militer Israel, tidak sedikit tentara yang mengalami trauma dan menolak ditugaskan Kembali ke Gaza, moral tantara Israel jatuh ke titik terendah, mereka dilanda frustasi akibat arah perang yang tidak jelas. Perpecahan mendalam juga terjadi di internal elit politik Israel, perang berkepanjangan menyebabkan mereka sadar bahwa gaza dan pejuang Palestina mustahil dikalahkan secara militer, gencatan senjata merupakan opsi yang paling masuk akal.

Keteguhan Rakyat dan Pejuang Palestina Sebagai Faktor Penentu

Saat Israel dilanda frustasi akibat perang Gaza. Rakyat dan pejuang Palestina memperlihatkan sisi sebaliknya, mereka tetap teguh mempertahankan tanah air mereka. Sebagai manusia, rakyat Palestina tentu memiliki rasa takut, terlebih hampir tidak ada hari berlalu tanpa serangan Israel, nyawa dengan mudah melayang akibat serangan tersebut, puluhan ribu warga telah tewas, hal yang sama bisa menimpa bagi mereka yang masih hidup, tapi mereka tetap teguh berdiri di tanah mereka, Palestina. Pada saat yang sama, pejuang Palestina tak pernah berhenti melawan, walaupun tidak sedikit rekan seperjuangan yang meninggal dalam perang, namun generasi baru segera menggantikan mereka yang telah wafat. Bagi mereka ini bukan hanya soal menang dan kalah dalam pertempuran, lebih dari itu ini merupakan perjuangan hidup mati mempertahankan tanah air dari agresi penjajah, tanah Palestina. Keteguhan rakyat Palestina dan pejuangnya yang menyebabkan mereka bisa bertahan dalam perang genosida yang dilancarkan Israel selama dua tahun. Situasi ini membuka mata dunia, dukungan terhadap Palestina meningkat drastis, beberapa negara barat mulai mengakui Palestina sebagai negara berdaulat, tuntutan gencatan senjata semakin nyaring, akhirnya Israel tidak punya pilihan selain mengikuti tuntutan tersebut. Lahirnya gencatan senjata merupakan buah keteguhan rakyat dan pejuang Palestina dalam melawan agresi Israel selama dua tahun, seandainya keteguhan itu mereka tak miliki, boleh jadi Palestina telah hilang dari sejarah. Rakyat dan pejuang Palestina merupakan faktor penyebab dan penentu lahirnya gencatan senjata di Gaza.

Masalah Palestina masih jauh dari kata selesai, Palestina sebagai negara merdeka mesti terwujud, saat ini Palestina telah menjadi isu global, isu kemanusiaan. Mereka yang membela Palestina didorong oleh sebuah keyakinan bahwa hak asasi manusia perlu dibela, kemerdekaan merupakan hak paling dasar bagi setiap manusia, rakyat Palestina berhak mendapatkan hak tersebut.  

Zaenal Abidin Riam, Pengamat Kebijakan Publik/Dosen ITB Vinus

Exit mobile version