Site icon indonesiasketsa.com

Peneliti Inggris Ungkap Penyebab Penjajah Israel Gagal Total Kalahkan Pejuang Palestina

Negara yang mengakui kedaulatan Palestina semakin bertambah banyak. (Foto: towardfreedom)

INDONESIASKETSA.COM, Bagi Dr. Azim Ibrahim—peneliti asal Inggris penerima gelar kehormatan Order of the British Empire—perang Israel di Gaza telah berubah menjadi cermin kehampaan ambisi militer. Hampir setahun pesawat tempur menyalakan langit, tapi hasilnya justru memunculkan tanda tanya besar: siapa sebenarnya yang menang?

Israel, menurut Ibrahim, memang berhasil menghancurkan kota, bukan musuh. Jalur Gaza kini hanya menyisakan debu dan mayat, sementara pemerintah di Tel Aviv masih berbicara tentang “menyelesaikan misi” bahkan setelah gencatan senjata ditandatangani. Di lapangan, katanya, realitas justru menolak narasi itu. Dari bawah reruntuhan, sekitar 15.000 anggota Hamas kembali muncul—sebagian membawa senjata lengkap dan tekad yang tampak tak padam.

Dalam esainya di The National Interest, Ibrahim menulis bahwa Hamas bukanlah entitas yang bisa dihapus dengan serangan udara. Ia adalah gagasan—dan gagasan tidak bisa dibom. Gerakan itu menanam akarnya dalam struktur sosial Palestina: di sekolah-sekolah yang hancur, di dapur umum, di hati para pengungsi yang kehilangan segalanya kecuali amarah dan harapan.

Para pakar kontra-terorisme, sebutnya, sudah lama mengingatkan bahwa perang semacam ini hanya mengulang pola kegagalan Amerika Serikat dalam menghadapi Al Qaeda dan ISIS. Kepala bisa dipenggal, tapi tubuhnya tumbuh kembali karena ide yang menopangnya masih hidup.

Ibrahim mengakui bahwa sebagian pemimpin Hamas memang berhasil dilumpuhkan. Namun, kelompok itu tetap berdenyut dalam sel-sel kecil dan jaringan lokal yang terus beradaptasi. Di sisi lain, operasi militer Israel telah menghancurkan fondasi kehidupan sipil Gaza: ribuan orang terbunuh, lebih dari sejuta terusir, dan permukiman yang dulu padat kini menjelma gurun puing.

Yang lebih tragis, kata Ibrahim, kondisi yang melahirkan Hamas justru diperkuat kembali. Keputusasaan, pengasingan, dan ketiadaan masa depan—tiga unsur utama yang dulu memantik kelahiran gerakan ini—kini hadir dalam kadar yang lebih pekat. Ia mengingatkan bahwa Hamas dulu muncul dari kehampaan moral Fatah, partai yang dipandang publik sebagai simbol korupsi dan ketidakberdayaan.

Hamas, dalam konteks itu, menawarkan alternatif: organisasi yang tampak bersih, tegas, dan memberi pelayanan sosial bagi rakyat. Kemenangan mereka dalam pemilu 2006, tulis Ibrahim, bukanlah hasil ideologi semata, tetapi bentuk perlawanan terhadap stagnasi politik Palestina.

Namun, ketika kekuasaan telah digenggam, Hamas berbalik mengulang kesalahan yang dulu mereka kritik. Mereka membungkam oposisi, menunda pemilu, dan mengubah Gaza menjadi wilayah dengan struktur kekuasaan yang meniru negara bersenjata mini. Dari perlawanan, mereka bergeser menjadi penguasa.

Ibrahim juga menyoroti peran Israel dalam memperkokoh lingkar kekerasan ini. Kebijakan pemisahan Gaza dan Tepi Barat, yang semula dirancang untuk melemahkan kepemimpinan Palestina bersatu, justru menumbuhkan legitimasi baru bagi Hamas. Alih-alih melemahkan musuh, strategi itu menebalkan sekat dan menghancurkan peluang perdamaian. Serangan 7 Oktober 2023 menjadi bukti betapa kebijakan itu berbalik arah: Israel kini terjebak dalam perang yang seakan tak berujung.

Menurut Ibrahim, menghancurkan Hamas dengan kekuatan militer hanyalah resep kegagalan berulang. Jalan yang lebih masuk akal, katanya, adalah membangun kembali tatanan politik dan sosial Palestina: memperbaiki infrastruktur, membuka ruang demokrasi, dan menyalakan kembali proses menuju negara Palestina yang berdaulat.

Tanpa langkah semacam itu, setiap bom yang dijatuhkan bukan hanya menghancurkan gedung, tapi juga menabur benih baru dari kemarahan dan perlawanan. “Kemenangan sejati,” tulis Ibrahim, “bukan ketika Hamas hancur, tapi ketika rakyat Palestina tak lagi merasa perlu melawannya.”

Exit mobile version