Site icon indonesiasketsa.com

Eks Bos Mossad Ledakkan Kritik: Perang Gaza Sia-sia, Militer Penjajah Israel Mandek Total

Tentara penjajah Israel alami kekalahan telak dalam perang di Gaza.

INDONESIASKETSA.COM, Tel Aviv – Kecaman keras atas berlarutnya konflik bersenjata di Jalur Gaza kembali bergema, kali ini disuarakan oleh seorang veteran keamanan papan atas Israel.

Ehud Yatom—mantan legislator sekaligus eks petinggi unit elite Mossad—menyampaikan desakan tegas agar aksi militer Israel di Gaza segera dihentikan.

Melalui tulisan opininya yang dimuat di surat kabar Maariv, Yatom melontarkan kritik pedas terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia menilai kabinet Netanyahu sebagai kepemimpinan yang “gagal total dan ambruk secara moral”, serta membawa negara ke dalam krisis strategis dan dilema etis yang dalam.

Perang tanpa arah dan tanpa kemenangan

Yatom mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap kebuntuan yang kini dihadapi pasukan Israel dalam operasi militer mereka di Gaza, menyebut bahwa tidak ada jalan keluar yang masuk akal dari konflik ini.

“Setelah lebih dari 20 bulan bertempur, kita masih berkubang di lumpur Gaza, seolah tidak belajar bahwa korban terus berjatuhan setiap hari—terluka, gugur, atau bahkan bunuh diri akibat trauma,” tulisnya.

Yatom menilai bahwa medan tempur Gaza bukanlah ladang perang konvensional yang bisa dimenangkan dengan kekuatan militer semata.

Menurutnya, Israel menghadapi “musuh yang lihai dalam perang gerilya”.

Bahkan, katanya, tentara sekuat IDF (Pasukan Pertahanan Israel) sekalipun tidak mampu mengalahkan lawan semacam itu.

“Bukankah sudah jelas bahwa perang ini sia-sia?”tanyanya.

Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa rasa frustrasi tak hanya dirasakan oleh keluarga para sandera dan tentara yang gugur, tetapi juga oleh mayoritas warga Israel yang “kebingungan menyaksikan pemerintahan yang gagal membaca situasi.”

Salah satu sorotan utama Yatom adalah kegagalan Netanyahu dalam menjaga solidaritas nasional.

Ia mengkritik keras rencana pemerintah untuk membebaskan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks (Haredim) dari wajib militer—sebuah keputusan yang ia sebut “tidak etis dan bertentangan dengan semangat nasional.”

“Bagaimana mungkin para pemimpin partai-partai religius tidak memahami bahwa negeri ini kekurangan prajurit dan menghadapi ancaman dari segala penjuru?” tanya Yatom.

Ia juga menuding para anggota parlemen yang mendukung kebijakan tersebut sebagai pihak yang “mengkhianati tanggung jawab terhadap negara.”

Lebih lanjut, ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap ketidakstabilan politik dan upaya sistematis pemerintahan untuk “membongkar institusi negara,” sembari mengabaikan agenda strategis.

Ia menyinggung serangkaian gejolak internal, termasuk pengunduran diri Kepala Shin Bet Ronen Bar, tekanan terhadap Jaksa Agung Gali Baharav-Miara, serta upaya mencopot petinggi militer.

Exit mobile version