Site icon indonesiasketsa.com

Sastrawan tak Bisa Berharap pada Sastra

Duduk diam di kursi roda

Mulut menganga tak lagi rata

Pandangan mata kosong

Menunggu anak sanak sibuk bekerja

“Kapan satu dari sekian,

sempatkan datang barang sebentar,

temani ayah mengantre,

berbekal BPJS yang sudah tentu lama.”

Sastrawan besar  berkarya besar

Meratap merana di rumah sederhana

Di kursi roda menanti sapa

Tanpa sesiapa coba menyapa

Tertatih menopang berbagai bea

Rupa-rupa dana pensiun tak pula ada

Penyakit tua menggigit rasa dan juga raga

Berpikir imajinatif sudahpun sirna

Tak mungkin lagi hasilkan karya

Karya semasa jaya masih ada di mana-mana

Berapa royaltinya jangan ditanya

Kalaupun ada amat tak seberapa

Memikirkannya pun menambah luka makin menganga

Keluh kesah mereka malah yang ada:

Pajak cetak makin menggila,

Kertas tinta naiknya luar biasa

Kalaupun ada tak mampu berlomba

Dengan buku di dunia maya

Sastrawan menulis dengan hati yang tulus

Tapi hidupnya tak ditopang pulus

Mereka berjuang untuk setiap kalimat

Tapi hasilnya tak membawa nikmat

Mereka menggali kata-kata dari dalam hati,

Tapi pasar tidak selalu menghargai,

Mereka berkorban waktu dan tenaga

Tapi hasilnya tak seberapa

Sastrawan hidup dari idealisme

Tapi idealisme tak dapat menghidupinya

Sastrawan mencari makna terdalam dari kata-kata

Tapi kata-kata tidak selalu bermakna di mata  negara

Sastrawan berjuang dengan kata

Tapi hasilnya tak jua senada

Sastrawan menulis ungkapan jiwa

Tapi ungkapan tak selalu berharga

Sastrawan hidup dalam dilema,

Penuhi kebutuhan jiwa ataukah raga

Idealisme telah nyata-nyata

Tak mampu menopang berbagai biaya

Sastrawan menulis meninggalkan jejak

Tapi jejak tidak selalu bermakna

Tak mampu menopang di hari tua

Sastrawan tak bisa hidup dari sastra

Tapi sastra adalah jiwa

Jiwa ditopang raga

Raga butuh biaya

Sastra penghalus Budi

Bagi jiwa generasi bangsa

Sastra pengingat angkara kuasa

Penuntun arah laju negara

Sesuai cita-cita bangsa merdeka

Sastrawan pahlawan bagi Indonesia

Duhai pengampu negara

Ambil perhatian sejenak pada pahlawan sastra

Jangan biarkan mereka

Terombang- ambing dalam arus kapitalisme

Beri ruang hidup bagi mereka

Agar generasi bangsa

Tak pupus asa pada penghalus jiwa

Bangga pada sastrawan negara

Para guru bangsa

Jakarta, 30 Mei 2025,
Erfi Firmansyah

Exit mobile version