Site icon indonesiasketsa.com

Mengenang Paus Fransiskus, Vokal Bela Palestina Hingga Akhir Hidupnya

Paus Fransiskus wafat pada usia 88 tahun.

INDONESIASKETSA.COM, Vatikan – Selama konflik berkepanjangan di Gaza, Paus Fransiskus secara konsisten mengecam serangan penjajah Israel yang dinilainya telah menyebabkan penderitaan luar biasa bagi warga sipil. Dalam bukunya yang terbit November lalu berjudul Hope Never Disappoints: Pilgrims Towards a Better World, ia menyinggung bahwa serangan di Gaza dapat dikategorikan sebagai genosida.

“Menurut beberapa pakar, apa yang terjadi di Gaza memiliki karakteristik genosida. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut untuk melihat kesesuaiannya dengan definisi hukum internasional,” tulis Paus.

Pernyataan-pernyataan keras dari Tahta Suci bahkan sempat memicu ketegangan diplomatik. Pada Desember 2024, Kementerian Luar Negeri penjajah Israel memanggil Duta Besar Vatikan untuk menyampaikan protes atas pernyataan Paus yang menyebut serangan terhadap sekolah dan rumah sakit sebagai tindakan kejam.

“Anak-anak dibom. Ini bukan perang, ini kekejaman,” ujar Paus kala itu.

Selama konflik, Paus Fransiskus juga rutin melakukan panggilan telepon harian ke satu-satunya paroki Katolik di Gaza, sebagai bentuk solidaritas dan doa. Tradisi ini bahkan tetap ia jalankan saat dirawat di rumah sakit pada Februari lalu, menunjukkan komitmen dan perhatian mendalam terhadap umat Katolik di kawasan konflik.

Paus Fransiskus menjabat sejak 2013, menggantikan Paus Benediktus XVI yang mengundurkan diri. Ia dikenal luas sebagai sosok yang rendah hati, vokal dalam isu keadilan sosial, dan pengusung reformasi di tubuh Gereja Katolik.

Paus Fransiskus, pemimpin Gereja Katolik Roma pertama yang berasal dari benua Amerika, wafat dalam usia 88 tahun di kediamannya di Vatikan, Senin (21/4/2025) pagi waktu setempat. Kabar duka ini disampaikan secara resmi oleh pihak Vatikan.

Exit mobile version