INDONESIASKETSA.COM, JAKARTA– Ketua DPD Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN) Jakarta, Paisal Sangadji, menyoroti dampak kebijakan distribusi gas LPG 3 kg yang dinilai menyusahkan masyarakat kecil.
Menurutnya, kebijakan ini tidak matang dan hanya menambah penderitaan rakyat kecil, sementara mafia energi masih bebas beroperasi.
Paisal menanggapi kisah tragis yang menimpa Nenek Yonih (62) di Pamulang, yang meninggal setelah kelelahan antre di pangkalan gas.
Selain itu, ada juga Ibu Khusnul Khotimah (52) dari Palmerah yang kesulitan mendapatkan LPG setelah pangkalannya tutup. Bahkan, Ibu Nurohmi harus berjuang setiap pagi mengayuh sepeda sejauh 700 meter hanya untuk mendapatkan satu tabung gas.
“Ini bukti bahwa kebijakan yang dibuat pemerintah tidak berpihak pada rakyat kecil. Bukannya memberantas mafia energi atau membenahi distribusi, justru masyarakat miskin yang dipaksa menghadapi kesulitan,” tegas Paisal.
Ia juga menyinggung bahwa kebijakan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menunjukkan kurangnya solusi konkret dalam menangani masalah energi nasional.
“Bukannya menyelesaikan akar masalah seperti korupsi energi, pengawasan yang lemah, atau tumpang tindih kebijakan, pemerintah malah menekan rakyat kecil. Ini jelas kebijakan yang ngawur dan hanya memperlebar jurang ketimpangan sosial,” lanjutnya.
Paisal menegaskan bahwa kebijakan distribusi LPG 3 kg yang terburu-buru hanya menyusahkan rakyat. Sementara itu, pemilik modal tetap menikmati kemudahan akses, menunjukkan bahwa ketimpangan sosial masih sangat nyata.
“Kebijakan ini harus segera dievaluasi! Kalau Pak Bahlil tidak bisa menyelesaikan masalah ini, lebih baik mundur atau dicopot dari jabatannya. Jangan sampai kebijakan buruk ini merusak kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo,” tegasnya.
“Mempertahankan menteri yang gagal dan kontroversial hanya akan melemahkan citra pemerintahan dan semakin membuat rakyat tidak percaya,” pungkasnya.