Site icon indonesiasketsa.com

Perang Saudara Pecah di Tetangga RI, Penduduknya Terancam Gelap

Junta militer makin melemah menghadapi pemberontakan. (Foto/AP)

INDONESIASKETSA.COM, Naypyidaw – Beberapa perang akhir-akhir ini pecah di seluruh dunia. Konfrontasi bersenjata juga melibatkan dua pihak di dalam negeri yang memicu perang saudara. Kondisi seperti ini dialami Myanmar. Tetangga Indonesia ini berada dalam perang saudara sejak junta militer pimpinan Min Aung Hlaing mengkudeta pemerintahan sipil pada Februari 2021. Hingga saat ini, perlawanan dari milisi-milisi anti junta terus berlanjut.

Terbaru, junta mengatakan negara itu hanya berhasil memproduksi sekitar setengah dari listrik yang dibutuhkannya setiap hari. Rezim itu menyalahkan pasukan perlawanan yang dirasa terus merusak infrastruktur dan juga curah hujan yang rendah.

Jaringan listrik Myanmar hanya memproduksi 2.800 megawatt dari kebutuhan 5.443 megawatt yang dibutuhkan setiap hari, menurut pernyataan otoritas ketenagalistrikan yang dirilis oleh tim informasi junta pada Rabu malam.

“Produksi listrik domestik dari gas alam berkurang sekitar 446 megawatt dari kapasitas normal harian, dan curah hujan yang rendah telah menyebabkan kekurangan harian sekitar 350 megawatt dari sumber tenaga air,” katanya Otoritas Kelistrikan Myanmar yang dikendalikan junta dikutip AFP, Kamis (2/5/2024).

Junta menyalahkan serangan yang dilakukan lawan-lawannya sebagai penyebab berkurangnya produksi listrik dalam negeri. Sekitar 350 megawatt dari pembangkit listrik tenaga air hilang akibat serangan terhadap saluran listrik.

“Sejak kudeta tersebut, 89 tiang telah dihancurkan, lima pembangkit listrik telah dibom dan terdapat 71 serangan terhadap saluran listrik utama,” tambahnya.

Selain curah hujan dan perlawanan, junta mengatakan produksi listrik domestik dari gas alam berkurang sekitar 446 megawatt dari kapasitas normal harian. Padahal, ekspor gas alam Myanmar ke China dan Thailand menghasilkan hampir US$ 300 juta (Rp 4,8 triliun) per bulan

Otoritas ketenagalistrikan juga menyatakan 400.000 kotak meteran listrik telah diputus karena tagihan tidak terbayar. Diketahui, banyak orang di Myanmar telah berhenti membayar utilitas dan pajak lainnya untuk memprotes kudeta yang menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi.

Pada hari Kamis, penduduk pusat komersial Yangon melaporkan pemadaman listrik di kota tersebut sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Otoritas ketenagalistrikan mengatakan pihaknya melakukan “upaya tepat waktu” untuk memulihkan listrik di kota berpenduduk sekitar delapan juta orang itu.

Exit mobile version