Site icon indonesiasketsa.com

Rusia dan China Veto Resolusi AS Yang Dinilai Pro Zionis Israel

Pertemuan Dewan Keamanan (DK) PBB pada 24 Oktober 2023 membahas soal Gaza, Palestina, Hamas, dan Israel. (Foto: Dokumentasi UN News)

INDONESIASKETSA.COM, New York – Rusia dan Cina memveto resolusi AS agar Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan atas pengeboman zionis Israel di Gaza dengan menyerukan penghentian pertempuran guna memungkinkan akses bantuan kemanusiaan dan perlindungan warga sipil.

Draft resolusi tersebut secara jelas menekankan hak zionis Israel untuk membela diri dengan membombardir Gaza dan pada saat yang sama mengutuk serangan pejuang Palestina ke wilayah yang diduduki zionis Israel, draft resolusi ini dinilai sebagai modus Amerika membela kepentingan zionis Israel dan mengabaikan hak rakyat Palestina, sebuah cara pandang yang sangat tidak adil

Teks awal AS mengejutkan banyak diplomat karena sikap blak-blakannya yang menyatakan zionis Israel mempunyai hak untuk membela diri dan menuntut Iran berhenti mengekspor senjata ke kelompok perlawanan Palestina. Pernyataan AS tersebut tidak mencakup seruan jeda kemanusiaan untuk akses bantuan.

Draf resolusi itu turut mengutuk serangan pejuang Palestina terhadap zionis Israel pada 7 Oktober 2023 lalu. Resolusi usulan AS juga menyerukan pejuang Palestina membebaskan seluruh warga Israel dan warga asing lainnya yang mereka sandera di Gaza tanpa syarat apa pun.

Perwakilan Rusia di Dewan Keamanan mengatakan, AS tidak ingin resolusi Dewan Keamanan mempengaruhi operasi zionis Israel. Hal ini secara tidak langsung merupakan lampu hijau dari Dewan agar serangan Israel terus berlanjut.

Sepuluh anggota menyetujui resolusi AS, sementara Uni Emirat Arab menolak, dan Brasil serta Mozambik abstain. Rusia dan Cina diketahui merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

“Draf tersebut tidak mencerminkan seruan terkuat di dunia untuk melakukan gencatan senjata, mengakhiri pertempuran, dan tidak membantu menyelesaikan masalah ini,” kata Duta Besar Cina untuk PBB, Zhang Jun kepada dewan setelah pemungutan suara.

“Pada saat ini, gencatan senjata bukan sekedar istilah diplomatik. Ini berarti nyawa dan kematian banyak warga sipil,” ujar Zhang.

Exit mobile version